Koridor Kesabaran


Bentuk-Bentuk Kesabaran

“Sabar, sing sabar, sabar ya…” ungkapan semacam itu, sering kita dengar ketika kita mendapat musibah. Misalnya, saat ada anggota keluarga yang meninggal, atau sedang di rawat di rumah sakit, biasanya, orang yang datang menjenguk akan berpesan agar kita bersabar.

Ya, bagi sebagian orang (termasuk saya), sabar seolah hanya dibutuhkan saat terkena musibah. Benar, ketika terkena musibah kita wajib istirja (mengucap Innalilahi wainailahi rojiun), hanya sabar “peruntukan” sabar bukanlah sekedar itu.

Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah.

  2. Lho, apakah untuk taat menjalankan ibadah, taat menjalankan perintah Alloh, orang harus bersabar? Oh, ternyata memang begitu. Kita berpuasa, bila tidak sabar, maka lapar pun tidak akan terbendung. Ketika sholat malam, misalnya, jika tidak sabar menahan kantuk dan rasa malas, pasti tidak akan sanggup melakukan.

    Jadi, untuk sekedar bisa melaksanakan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran. Bagaimana bisa? Ya, karena secara tabiat dan naluri, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ya kan lebih enak bersantai ria, dibandingkan harus sibuk untuk ibadah.

    Apa yang menyebabkan orang, seperti saya, sulit bersabar dalam ketatatan. Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Lho wong sedang nikmat-nikmatnya nonton tv, kok ya harus berhenti untuk pergi ke masjid, misalnya. Pasti akan sulit. Di sini kita diminta untuk bisa bersabar bukan?

    Kedua karena bakhil (kikir, pelit). Yang kedua ini lebih banyak terkait dengan hal-hal yang dianggap bisa mengurangi harta dan kekayaan, seperti menunaikan zakat dan infaq. Coba, kita rela merogoh kantong untuk menonton bioskop seharga Rp 25.000 per orang, tetapi saat diminta untuk menyumbang renovasi masjid, kita hanya mengeluarkan uang recahan seribuan.

    Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad. Untuk bisa pergi haji, seseorang harus rela bekerja keras. Hidup jauh dari keluarga lebih dari sebulan, kan malas banget. Belum lagi, biayanya juga tidak sedikit. Rp 30 juta bisa untuk uang muka membeli mobil, atau cukup untuk membeli motor, mosok dibuang percuma hanya untuk pergi ke Mekah? Nah, jika tidak sabar dalam ketaatan, perasaan itu pasti ada.

  3. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.

  4. Hmm, hidup bergelimang uang, terkadang membuat banyak orang lupa. Karena banyak uang, bisa melakukan kemaksiatan apa saja. Dan, secara hakiki, semua kemaksiatan selalu menyenangkan. Mabuk, membuat orang merasa bisa melepaskan beban hidup. Berzina, juga nikmat luar biasa. Korupsi, bisa membuat kaya raya dan dihormati orang. Bukankah semua itu nikmat, nikmat dan sangat nikmat?

    Nah, bila tidak punya kesabaran, sudah tentu meninggalkan segala kenikmatan duniawi itu sulit bukan main. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar. Tidak usah berpikir meninggalkan kemaksiatan yang besar, yang kecil pun terasa berat juga. Maksiat kecil itu, relatif mudah dilakukan, dan tidak perlu modal banyak. Misalnya, seperti ghibah (ngerumpi, bergosip), dusta, atau menjaga mata dari sesuatu yang haram.

  5. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah
  6. Ini yang sering terjadi. Ketika ada saudara yang meninggal, misalnya, jika tidak sabar kita bisa pingsan, bahkan bisa langsung menyalahkan Allah. Jika kita sabar, justru akan melihat segala musibah itu sebagai rahmat. Ya, minimal kita bisa melihat ada hikmah di balik petaka atau cobaan itu.

Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran

Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran.

Di antaranya:

  • 1. Mengikhlaskan niat semua ibadah dan hidup kepada Allah.
  • 2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.
  • 3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
  • 4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.
  • 5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.
  • 6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah daripada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.
  • 7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. (bagian ini diambil dari http://www.dakwatuna.com)

4 pemikiran pada “Koridor Kesabaran

  1. Terimakasih saya sangant senang dengan artikel nya saya mohon kiranya untuk lebih melengkapi. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s