AbOut


Saya bukan ustad, saya bukan motivator. Saya juga bukan seorang yang alim. Saya hanya seorang penulis yang tak berkemampuan. Jika membaca buku ini, saya berharap, Anda jangan berkhayal penulis buku ini adalah seorang yang putih bersih dan lurus hati.

Awalnya adalah kegundahan saya, karena saya merasa punya kemampuan menulis tetapi hampir tidak pernah tersalurkan. Padahal, sebagai seorang wartawan, pekerjaan utama adalah menulis. Ya, ibarat tukang suling, tidak bisa bermain tanpa bersuling. Paling-paling, ia hanya bisa bersiul.

Saya pun begitu. Sejak bekerja di televisi, saya merasa kemampuan menulis, tidak lagi tergunakan dengan baik. Kegundahan itu mulai terasa dua tahun terakhir. Maka, saya menuliskan beberapa pikiran yang bersliweran ke blog dan juga ke koran. Belakangan bila harus menulis di koran, saya menilai energinya sangat berlebih. Untuk riset, analisis dan juga penulisannya perlu keseriusan.

Padahal, saya hanya ingin menulis yang ringan-ringan saja. Entah dari mana timbul ide untuk membuat blog yang khusus tentang kesabaran. Ini tantangan. Tantangan terbesar justru dari dalam diri saya. Saya bukan tipe penyabar. Sering marah. Bahkan terkadang meledak-ledak. Maka, saya perlu belajar sabar lebih dulu dari orang-orang yang ada di sekitar saya.

Saya comot satu demi satu kisah-kisah yang terserak di memori saya. Saya tulis sekenannya. Memakai pola sebisanya. Tanpa pretensi, tanpa tujuan. Saya makin giat menulis setelah mendapat respon positif dari teman-teman yang membaca blog saya. Berbagai komentar yang datang, terus terang, memberi semangat saya untuk terus menulis.

Saya merasa beruntung sekali, QultumMedia tertarik untuk menerbitkannya. Saya sempat tidak percaya tulisan-tulisan ini bisa menjadi buku. Bukan apa-apa, untuk menjadi sebuah buku, tentu perlu serius, dan jumlah tulisannya pun cukup. Sementara saya menulis hanya bila sempat. Mood atau tidak, jika ada kesempatan saya usahakan untuk mengisi blog saya. Setelah beberapa kali diingatkan, Alhamdulillah, akhirnya cukup juga menjadi sebuah buku.

***

Apakah cerita yang saya tulis ini benar-benar ada? Realitis atau imajinasi? Saya harus jujur, kisah-kisah yang akan Anda baca ini merupakan ramuan antara kisah nyata dengan khayalan saya. Meski begitu, semua cerita berangkat dari titik yang sama: true story. Saya tentu tidak bisa ungkapkan mereka itu siapa saja. Biarlah itu menjadi rahasia saya.

Saya hanya berharap, setelah menulis buku ini, saya bertambah sabar. Sabar dalam banyak hal. Begitu juga Anda. Silahkan Anda nikmati kisah-kisah yang ada, syukur-syukur selalu ada yang bisa dipetik. Jika toh tidak, saya bermimpi Anda bisa ikut merasakan apa yang dialami para tokoh yang secara sengaja sering saya sebut sebagai Teman Kita itu.

Saya ingin sekali buku ini ada manfaatnya untuk Anda.

Jakarta, Juni 2009

Pracoyo Wiryoutomo

pracoyo.w.utomo@gmail.com
https://belajarsabar2.wordpress.com
http://wartawantv.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s