Saat Belajar Ziarah Kubur


Resensi Buku
Judul : Kuburan Bukan Tempat Ibadah
Pengarang : Abu Yahya Badru Salam, Lc
Penerbit : Naashirusunnah, Jakarta, Februari 2012
Tebal : 175 Halaman
Harga : 50.000 ( Bonus Kalender )
Ziarah kubur merupakan sunah Nabi, tetapi masih banyak yang salah dalam menerapkan sunah yang satu ini.Tidak jarang, ziarah kubur yang dilakukan justru menyalahi sunah. Misalnya, orang yang datang ke kuburan orang yang shalih, atau dia berkeyakinan bahwa tempat itu adalah tempat meminta kepada orang yang sudah meninggal. Tidak sedikit pula yang justru melakukan ibadah sholat, bahkan tawaf di kuburan.
Orang yang meminta kepada orang saleh di kuburan, mengatakan, “Saya minta kepadanya karena dia lebih dekat kepada Allah daripada saya, supaya dia menolong saya dalam urusan-urusan ini. Saya menjadikannya perantara kepada Allah sebagaimana seseorang mendekat (dalam rangka minta bantuan) kepada raja dengan perantaraan orang-orang penting dan pembantu-pembantunya.”
Selain itu, ada juga yang biasa mengadakan perjalanan jauh, hanya untuk ziarah ke makam para wali. Ada juga yang rutin setiap menjelang Ramadhan, bahkan setiap Kamis sore selalu ziarah kubur. Apakah kebiasaan seperti ini, sesuai dengan sunnah Nabi?
Buku yang dikarang oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam ini, akan memberikan jawaban terhadap kebiasaan-kebiasaan seperti itu. Di bab pertama, penulis membahas tentang hakikat kuburan. Kuburan bukanlah tempat peristirahatan terakhir. Justru di sinilah mulai perjalanan panjang hingga seseorang itu diputuskan ke neraka ataukah ke surga.
Setelah itu, penulis menjelaskan hakikat ziarah kubur, yakni untuk mengingatkan kita akan kematian. Bukankah dari kita pasti akan mati? كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan (QS. Al Ankabut: 57)
Di awal buku ini, Ustadz Badrusalam, sudah mengingatkan. “Kuburan hanya benda mati yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat. Di dalamnya terbujur kaku mayat yang membutuhkan do’a orang yang masih hidup. Ia tidak dapat menyampaikan doa orang yang bertawasul kepadanya.” Halaman 20.
Di bab kedua, penulis menyajikan tentang ritual-ritual yang salah di kuburan. Pertama, membaca Al Qur;an di kuburan. Terlebih dahulu, disampaikan perbedaan pendapat mengenai hukum sampai tidaknya bacaan ayat al Quran kepada orang yang sudah meninggal. Kedua, kuburan dijadikan sebagai masjid. Di bagian ini, penulis menukil pendapat Imam Syafei, “Saya membenci masjid yang dibangun di atas kuburan atau shalat di atas kuburan atau shalat menghadap kuburan,” kata Imam Syafei di kitab Al Umm.Di bab ini juga dibahas panjang lebar dalil-dalil yang melarang menjadikan kuburan sebagai masjid. Misalkan, sebagian orang yang berdalih dengan riwayat Nabi Muhammad Shalalohu Alaihi Wassalam sholat jenazah di makam seorang tukang sapu sebagai dalil bolehnya sholat di atas kuburan. Jawaban penulis, “Ini adalah syubhat yang paling lemah karena berdasarkan qiyas antara sholat jenazah dengan shalat lainnya. Ini merupakan qiyas yang bathil, karena tidak ada rukuk dan sujud pada shlat jenazah.”
Kesalahan ketiga, Tawasul kepada penghuni kuburan. Sebelum menjelaskan kesalahan ini, penulis lebih dulu menjelaskan tentang tawasul itu sendiri. Mana yang boleh, dan mana yang dilarang. Mereka yang beralasan bahwa orang yang dikubur meliliki kedekatan dengan Alloh, dengan gamblang dibantah oleh penulis. Ustadz Badrusalam tidak membantah dengan asal, tetapi lengkap dengan dalil dan perkataan ulama yang faqih ilmunya. Dalam bab tawasul ini, buku KUBURAN BUKAN TEMPAT IBADAH menjabarkan secara panjang lebar. Penulis menyampaikan 30 syubhat terkait dengan tawasul ini. Di setiap syubhat, Ustadz badursalam selalu menyampaikan penjelasan rinci dan detil dalil-dalil bantahannya.
Begitu panjang penjelasan tentang tawasul ini, bisa dipahami. Ya, karena semua orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, slelau beranggapan bahwa para mayat itu bisa mendengar, dan mengabulkan permintaan mereka. Padahal, sekali-kali tidak, karena para mayat itu tidak punya kuasa lagi terhadap dirinya, apalagi mengurus keperluan orang yang masih hidup.
Tentang anggapan bahwa orang shalih itu bisa menjadi perantara dikabulaknnya doa, maka kita dijawab begini. “Ini termasuk perbuatan kaum musyrikin dan orang-orang Nashrani, karena mereka juga menganggap bahwa ‘ulama mereka dan pendeta-pendeta yang mereka jadikan penolong-penolong dan perantara kepada Tuhan untuk memintakan pertolongan mengenai urusan dan permintaan mereka, itu lebih dekat kepada Tuhan. Yang membantah Allah langsung, dengan memberitakan tentang kaum musyrikin yang mengatakan,
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar:3)
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لاَ يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلاَ يَعْقِلُونَ. قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Bahkan mereka mengambil pemberi syafa`at (penolong) selain Allah. Katakanlah, ‘Dan apakah (kalian mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?’. Katakanlah, ‘Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kalian dikembalikan’.” [Az-Zumar:43-44]
مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلاَ شَفِيعٍ أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ
“Tidak ada bagi kalian selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa`at. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?” [As-Sajdah:4]
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” [Al-Baqarah:255]
Allah Ta’ala menjelaskan perbedaan antara Dia dan makhluk-Nya. Manusia biasa meminta pertolongan ke orang besar (seperti raja atau presiden) dengan perantaraan orang yang dekat atau yang dihormati oleh orang besar tersebut. Perantara itu minta kepada orang besar tersebut lalu dipenuhi keperluannya karena harapan, atau ketakutan, atau segan dan malu, atau karena kecintaan, atau karena alasan yang lain. Sedangkan Allah Yang Maha Suci, tidak perlu perantara. Semua manusia, dipesilahkan memohon langsung kepada Alloh, tanpa melalui perantara.
Berikutnya, yang dibahas penulis adalah boleh tidak mengadakan perjalanan jauh khusus untuk ziarah kubur. Penulis menyimpulkan, dilarang. Dalilnya hadits dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِيْ هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Janganlah kalian bersungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan kecuali kepada tiga masjid (yaitu): masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha.” (HR. Al-Bukhariy no.1139 dan Muslim dalam kitab Al-Hajj 2/976.

Di Bab terakhir, buku KUBURAN BUKAN TEMPAT IBADAH ini, mengupas tentang adab terhadap kubur. Pertama, tidak menjadikan kuburan sebagai Ied, tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, dan tidak menyembelih di atas kuburan. Selain itu, ada juga beberapa adab yang lain. Semuanya, bisa Anda dapatkan dalam buku ini.

Buku ini sangat layak untuk Anda baca. Bisa juga untuk hadiah sahabat atau kerabat yang masih biasa menjalankan ziarah kubur tidak sesuai syariat. Untuk Anda, penerbit buku ini memberikan bonus sebuah kalender meja yang menawan, dengan hiasan kata-kata mutiara dari para ulama ahlu sunah wal jamaah. Untuk buku dan kalender, Anda cukup membayar Rp 50.000.

Untuk informasi pemesanan, silahkan hubungi INSANI MUSLIM STORE di tlp 02133666337, email tokoinsani@live.com atau add PIN Blackbery di 267DF701, dengan Abu Afina Pracoyo

Satu pemikiran pada “Saat Belajar Ziarah Kubur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s