Bahasa Menunjukkan Agama


Bahasa Menunjukkan Agama
REPUBLIKA, Kamis, 15 Juli 2010 pukul 11:30:00

Oleh Pracoyo Wiryoutomo
(Wakil Pemimpin Redaksi Trans 7)

Bahasa menunjukkan bangsa. Pepatah ini hanya menggambarkan betapa budi pekerti seseorang bisa dilihat dari bahasa yang dia gunakan. Sekarang, tahukan Anda, bahasa bisa juga menunjukkan agama?

Entah dari mana, kok rasanya, bahasa Indonesia sekarang ada kecenderungan ada pembedaan antaragama. Misalnya, kata berkah dan berkat. Sejatinya dua kata itu berbeda makna. Berkah berarti karunia yang bisa dinikmati orang lain. Sedangkan berkat, berarti sepadan dengan kata karena. Misalnya, dalam kalimat berikut: ia menjadi juara berkat/karena kerja keras. Di daerah budaya Jawa, kata berkat justru berarti makanan yang diberikan untuk mereka yang datang pada acara slametan ataupun syukuran.

Sekarang kata berkah dan berkat bisa berdiri semakna. Orang Islam biasa menggunakan kata berkah, sedangkan yang Nasrani senang menggunakan kata berkat. Umpama, “Rezeki ini mudah-mudahan bisa menjadi berkah (Islam)/berkat (Nasrani).” Adakah yang salah dalam kalimat ini? Secara gramatikal, tidak. Bahkan, secara maknawi pun sama. Dari kata berkat ini, orang Nasrani bisa membuat derivasi. Misalnya, “Tuhan memberkati kamu” yang diterjemahkan dari Godbless You.

Berbeda dengan penggunaan kata yang merujuk pada pengertian Tuhan. Allah digunakan untuk dua agama. Hanya pengucapan yang berbeda. Orang Nasrani (Kristen dan Katolik) dengan lafal /a/, sedangkan orang Muslim dengan lafal /o/. Ada juga pembeda untuk bahasa cetak. Orang Islam, biasanya, menambahkan singkatan SWT (Subhana Wata Alla). Di Malaysia, penerjemahan kata God dengan Allah ini sampai ke pengadilan, karena dianggap tidak tepat. Selain bukan bahasa Melayu, Allah juga merupakan bahasa resmi Alquran yang berbahasa Arab.

Di Indonesia, orang Nasrani juga gemar menggunakan bahasa Arab untuk merujuk kata di agama mereka. Umat Nasrani lebih senang menyebut kitab suci mereka dengan Alkitab, bukan Injil ataupun nama lain yang lebih sesuai dengan “bahasa ibu” Nasrani, yakni bahasa Ibrani. Sebaliknya, orang Islam tidak pernah menunjukkan buku bacaan dengan Alkitab untuk Alquran. Bahkan, mereka hanya menggunakan kata kitab tanpa al di depannya untuk buku-buku yang berbahasa Arab atau terjemahan.

Gejala serupa terjadi pada kata ibadah atau ibadat. Semua orang Islam terbiasa menggunakan kata ibadah untuk sebutan ritual agamanya. Sedangkan orang Nasrani lebih senang dengan kata ibadat. Saya tidak hendak memilih mana yang benar secara ejaan, tetapi sekadar memberi contoh agama pun bisa membuat bahasa menjadi berciri khas. Kedua agama ini sepakat jika merujuk pada tempat mereka menjalankan ibadat/ibadah: yakni peribadatan. Saya tidak tahu apakah kata rahmat dan rahmah suatu saat nanti juga akan terpolarisasi berdasarkan agama.

Puji-pujian biasa digunakan untuk merujuk nyanyian yang dilakukan orang Nasrani, baik dalam liturgi maupun peribadatan yang lain. Segala puji bagi Tuhan adalah terjemahan dari kata Alhamdulillah. Orang-orang Nasrani biasa menyebut Thank God. Entah mengapa di Indonesia, yang berkembang tidak Terima Kasih Tuhan, tetapi Puji Tuhan. Di sini, pada satu sisi umat Nasrani mencoba mendekatkan dengan pemahaman orang banyak (Muslim) dalam beberapa istilah: Alkitab, Allah, dan Puji Tuhan. Di sisi lain, Nasrani juga sengaja membuat perbedaan: ibadat, berkat.

Belakangan, saya langsung merasakan ada perbedaan lain. Jika ada pertemuan RT di perumahan kami, terlihat pola yang jelas dari pengurus yang Muslim dan yang Nasrani dalam menyapa hadirin. Saya, sebagai ketua RT, biasa menyebut warga yang hadir dengan “Bapak-bapak dan ibu-ibu”. Tetangga saya yang Katolik lebih lihai menggunakan kata “saudara-saudara”, mirip dengan pendeta yang sering muncul di tv itu.

Umat Islam menyerobot bahasa agama lain. Misalnya, sembahyang. Kata ini asli milik orang Hindu, yang berasal dari kata Sembah Sang Yang. Orang Islam sebenarnya memiliki kata shalat, tetapi banyak orang yang mungkin kelu mengucapkan kata ini. Orang Nasrani, setahu saya, sering memakai kata sembahyangan.

Di luar itu, banyak kata yang dipakai hampir semua agama. Firman, misalnya, biasa digunakan untuk merujuk kepada perkataan Allah SWT atau Tuhan. Saya tidak tahu, apakah Yesus selalu disebut berkata, berfirman, atau bersabda. Umat Islam biasa menggunakan kata sabda untuk ucapan yang meluncur dari Nabi Muhammad.

Untuk penutup doa, orang Islam dan Nasrani juga memiliki kecenderungan berbeda. Orang Islam mengatakan amin dengan lafal /i/ yang jelas, sedangkan Nasrani lebih pada gabungan /i/ dan /e/, amien.

Di kemudian hari, tampaknya, kata dan istilah yang lekat dengan agama tertentu akan semakin banyak. Ini tentu akan memperkaya khazanah bahasa kita. Di samping itu, kita akan menjadi lebih mudah untuk menebak agama seseorang, hanya dari bahasa yang dia gunakan.

Satu pemikiran pada “Bahasa Menunjukkan Agama

  1. yang agak susah menebak orang yang nggak beragama, ya mas… apalagi di KTP nya seringkali tetap tertulis sebuah religi di kolom agamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s