Menimba Air di Sungai Kering


Ah, benar-benar dunia penuh misteri. Hari ini, saya teringat perbincangan dengan seseorang yang, menurut kebanyakan orang, seperti sungai yang airnya kering. Kali mati, kata orang.

Ya, di sungai yang mengering, mana bisa kita menimba air? Jangankan menimba, untuk mendapatkan seteguk air pun sulit. Mengapa saya memakai istilah sungai, bukan sumur? Sungai di situ ada kehidupan, dan derasnya air. Bisa menghanyutkan. Tidak seperti sumur, jarang ada kehidupan, dan tak bisa menghanyutkan, paling hanya menenggelamkan.

Suatu kali, saya liputan di Timor Timur bersama seorang fotografer kawakan Agus Butar-Butar (Alamarhum, mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosanya). Saya meliput ulang tahun integrasi (1994), di saat Timor Timur itu dalam ujung tanduk pasca kerusuhan Santa Cruz.

Karena alasan keamanan, saat akan meliput di daerah pedalaman (waduh nama kota kecil itu saya lupa),saya diajak naik helikopter bersama Pangdam Udayana (yang membawahi Timor Timur) Mayjen Adang Ruchiatna. Di helikopter itu, ada tujuh orang. Satu orang jenderal, dua pilot dan co-pilot, dua pengawal, dan hanya dua orang sipil, ya kami.

Karena wartawan cetak, saya hanya berbekal satu tas berisi notes, polpen, tape recorder, handuk kecil milik hotel karena udara yang sangat panas, dan botol minuman. Sekitar 15 menit setelah heli mengapung di udara, tiba-tiba ada suara aneh. Krik! Krik!

“Lapor Jenderal! Kita ada sedikit masalah, trouble engine!” kata Pilot ke Mayjen Adang.

“Terus bagaimana?” tanya sang jenderal.
“Kita harus mendarat darurat… jenderal!”
“Laksanakan!”

Saya langsung baca doa yang mampu saya ucapkan. Meski ini bukan untuk pertama kali naik heli, tetapi kerusakan mesin di atas udara baru yang pertama. Panas dingin langsung menyergap. Heli sempat berputar-putar mencari lokasi yang aman. Setelah sekitar 3 menit mencari, pilot menunjuk sebuah sungai kering.

Jangan salah, di sono sungai kering di Timor Timur itu suatu yang biasa. Sungai kering lebih panjang dibanding ketika ada air. Ini karena kontur alam yang bergunung, berpasing dan langsung ke laut. Sehingga, ketika hujan mengguyur, air langsung terbirit ke laut. Ukuran sungainya pun lubarnya bukan sembarang. Ada yang selebar jalan tol di ibukota yang enam lajur itu.

Heli akhirnya mendarat di atas sungai berpasir. Kanan kiri penuh alang-alang yang setinggi tangan saat dibentangkan di atas kepala kita. Dua ajudan langsung mengokang senjata. Pak jenderal juga melepaskan pengunci pistolnya.

Saya hanya membatin: jika tiba-tiba Fretelin menyergap kami, selesailah cerita hidup saya. Hanya hitungan beberapa menit, beberapa orang sudah muncul. Alhamdulillah, mereka bukan anggota “pemberontak” (istilah di zaman itu), tetapi hanya orang-orang yang ingin melihat dari dekat.Hmm, kami bisa bernapas lega. Tak lama kemudian, heli pun mengudara lagi.

Nah, apakah Anda tahu, di balik sungai yang kering itu jika digali bisa pula ditemukan beberapa tetes air. Jika tak ada air, mustahil ada alang-alang yang hidup di sebelah sungai itu.

Inilah yang ingin saya ceritakan. Meski dia sungai kering, masih ada air di sana. Pasti sulit dan menguras tenaga menimba air di sungai model seperti ini. Apakah menimba air di sungai kering itu sia-sia? Tidak.

Apa hubungan antara orang yang dibenci hampir semua teman itu dengan sungai kering. Ya, mereka ini ibarat sungai kering. Ada satu staf yang baru ke luar dari kantor saya, masuk kategori ini. Hampir semua orang di kelompoknya tidak yang menyukainya. Bahkan, saat dia mengundurkan diri karena kontrak tidak diperpanjang, tak ada satu temannya pun yang mengucapkan sekedar say good by. Benar-benar kering!

Tetapi, setelah saya berbicara dan bertukar pikiran, ternyata sungai kering itu punya batu pualam di dalamnya. Memiliki setetes air yang jernih, dan bisa dinikmati.

Misalnya, dia berkisah begini. “Memang Mas, saya dibenci teman-teman. Tapi saya sayang kok ke mereka. Saya sering kasih nasehat ke Mas Anu karena ….” Cukup lama kami berbicang, banyak yang bisa ditimba. Dia memiliki prinsip hidup. “Saya itu menjalankan tugas dan tanggung jawab saya. Mas nggak pernah kan terima laporan, komplain dari teman-teman tentang pekerjaan saya?” katanya.

Saya mulai gusar. “Saya profesional Mas. Semua yang menjadi tanggung jawab saya, saya kerjakan sebaik-baiknya. Teman lain mungkin nggak suka karena saya suka ketus. Nggak sabaran. Tapi, please Mas, apa yang saya lakukan itu demi kebaikan kantor ini juga!”

Benar. Teman-teman yang lain hanya berkeluh tentang perilaku, tentang cara, tentang ucapan, tentang uraian. Tapi hasil pekerjaan diakui sama mereka. Hasil bagus!

Sekarang mana yang benar? Inilah hidup. Kita diharuskan untuk menilai seseorang itu tidak satu sisi. Lebih baik memperhatikan juga sisi lain dengan berimbang. Sepadan. Adil, dan bijak.

Dia pamit dengan tegar, meski terlihat awan kesedihanya mulai membayangi.Sudah beberapa bulan dia pergi, saya masih bisa merasakan dia hadir di sini. Di depan saya, sambil berbisik,”Siapa bilang tidak bisa menimba air di sungai yang kering?”

2 pemikiran pada “Menimba Air di Sungai Kering

  1. sebuah kisah yg memberi pelajaran, saya ingat kisah salah satu sahabat Abu Zar Al Gifari ( Yang tuk dia Rasulullah bersabda ” engkau akan meninggal sendirian dan dibankitkan juga sendiri ” , selama hidupnya sangat wara ( Dan menjauhi dunia ), sehingga membuat Kalifah usman Bin affan , menyuruh dia mencari tempat terpencil tuk hidup akibat para sahabat pada zaman itu sangat rizih dengan gayanya ( terutama Muawiyah Bin Abu Sofian ) Penguasa syam. Tetapi memang benar sabda rasulllah di kala meninggalnya beliau memang benar – benar sendiri , hingga ada beberapa org menemukan mayatnya tergeletak di jalan ” Dan Menngumumkan berita Mengenai Salah satu Sahabatnya Rasullah. Bisa jadi orang seperti abu zar merupakan sumur kering bagi yg lain, tetapi bagi kita adalah potret seorang sahabat yang teguh mengjauhui dunia ( Walaupun kala itu dunia sudah datang ( Zaman Usman Bin Afffan ). Dan entah kenapa juga kisah abu zar sangat mirip dengan salman al farisi ( Wara dan memberikan talak ke dunia ). Wassalm terus menilis yaa

  2. Benar. Memang Abu Dzar meninggal dalam kesendirian. Dalam satu peperangan, Abu Dzar tertinggal pasukan. Ia harus berjalan sendirian, akibat ontanya hilang atau luka (saya lupa). Dari kejauhan para Sahabat melihat kedatangan Abu Dzar itu, dan Rasullullah pun bersabda. “Kasihan Abu Dzar dia datang sendirian, dia juga akan meninggal sendirian.”

    Terima kasih telah mampir dan memberi komentar. Tks juga atas dukungan dan uraian yang memberi semangat menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s