Ujian Calon Haji


Terus terang, sedih juga membaca berita di Detik ini. Mengapa mereka mudah sekali ditipu orang-orang serakah ini.

“Nasib 44 jamaah calon haji non-quota yang menggunakan visa konsul masih terkatung-katung meski sudah mendapatkan pemondokan sendiri. Saat ini mereka juga dimintai masing-masing Rp 2 juta untuk membayar dam (denda) oleh pengurus yang memberangkatkannya dari Indonesia.

“Tadi malam, mereka diajak tawaf dan sa’i, lalu setelah itu dimintai segera mentransfer uang Rp 2 juta ke rekening pengurusnya. Mereka kaget, terpaksa meminta uang ke kampung masing-masing,” kata Ustad Irwan yang saat ini memberikan bantuan kepada 44 orang jamaah calhaj ONH Plus non-quota itu kepada detikcom via telepon di Makkah, Kamis (19/11/2009).

Irwan mengaku khawatir dengan keadaan jamaah ONH Plus non-quota yang diduga dipermainkan oleh pihak perusahaan penyelenggara ibadah haji ini. Ke-44 jamaah ini berasal dari Sulawesi Selatan, Lombok, Madura, dan Jakarta. Tim Media Center Haji PPIH Daerah Kerja Makkah telah meninjau pemondokan mereka di sebuah perumahan di kawasan Sulaimaniyah, Makkah, Rabu (18/11/2009) petang waktu Arab Saudi.

Di pemondokan mereka yang berada persis di belakang Hotel Umul Quro, tak jauh di seberang Hotel Al Jazeera atau pemakaman Ma’la ini, puluhan jamaah ONH Plus yang diselenggarakan oleh PT Noor Abika Travel atau PT Al Fadh Travel ini mendiami sejumlah kamar di lantai lima yang kurang memadai, sempit, dengan kamar mandi yang tidak layak.

Ruslan yang berumur 50-an dan berasal Sulawesi Selatan ini menuturkan, dirinya tertarik mengikuti ibadah haji melalui perusahaan ini karena sebelumnya tidak bisa berangkat haji tahun ini karena tidak adanya quota. Makanya, dirinya dan sejumlah jamaah lain dari asal kampung yang berbeda ditawari ikut berhaji cara pintas ini.

Para jamaah, menurut Ruslan, dimintai untuk menyetorkan uang antara Rp 58 juta sampai Rp 63 juta per orangnya. Mereka ini diberangkatkan dari Jakarta menuju Jeddah dan sempat mampir ke Brunei Darussalam terlbih dahulu. Sesampainya di Jeddah, para jamaah ini terkejut ketika dimintai uang untuk membayar Travel Check sebesar Rp 3 juta dan sempat menunggu lama sampai sekitar 8 jam.

“Sampai sini pun (Makkah) kita bingung lagi, pemondokan tidak ada. Akhirnya kita muter-muter nyari sendiri bersama salah satu utusan travel bernama Cecep,” ungkap Ruslan.

Tidak itu saja, janji-janji bahwa jamaah ini akan menerima hotel yang layak serta makanan dan transportasi yang layak pun hanya impian belaka. Bahkan, untuk mencari makanan pun mereka kebingungan. Yang parahnya lagi, jamaah ini juga sampai sekarang tidak pernah didampingi pembimbing ibadah haji, identitas (tapi jamaah ini baru mendapatkan identitas dari muasasah dengan nomor Maktab 71), dan pengembalian uang travel check.

“Karena pembimbing ibadah haji tidak ada, kita semua kan dari kampung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Cuma umroh sendiri-sendiri, tapi itupun tidak tahu caranya,” ungkap Ruslan.

Ketika berangkat dari Indonesia menuju Jeddah, Ruslan diantar H Sadat yang diketahui berasal dari Cianjur. Namun Sadat tidak bisa mengantar karena alasan tidak punya visa haji. Ruslan juga mengaku selama ini para jamaah ini telah menyetorkan uang kepada Alimi Muhammad Bakkarang yang diyakini sebagai pemilik perusahaan penyelenggara haji itu.”

Meski kasihan, tetapi orang-orang ini pasti akan diuji kesabarannya hingga mereka kembali ke Tanah Air. Pasti. Jemaah yang melalui prosedur resmi saja, bukan main uji kesabarannya. Apalagi ini yang seperti anak ayam di lepas di lepas di sebuah kebun binatang.

Ujian calon haji, sudah mulai hanya sejengkal setelah melangkahkan kaki dari rumah. Pelayanan pejabat Departemen Agama, mulai di Asrama Haji, Bandara, hingga di Tanah Suci, jauh dari memadai. Meski kita sudah membayar puluhan juta (Rp30-an juta), tak ada jaminan akan nyaman.

Salah satunya, jamaah haji itu hanya diminta ma’fum, memaafkan, bila pelayanan kurang memuasakan. “Kan calon haji harus sabar,” kata sebagian orang. Ini sebenarnya hanya komulfase dari ketidaksigapan pelayanan terhadap para jamaah.

Di Asrama Haji, misalnya, kita dibuat seperti anak-anak TK yang tidak mengerti aturan. Banyak hal yang bisa dibuat ringkas dan nyaman, tetapi dibuat bertele-tela dan menyita waktu. Hanya untuk briefing pengambilan uang perjalanan, bisa memakan waktu satu jam lebih. Pengarahan di bandara, lebih kacau lagi. Pokoknya, menyebalkan.

Ah, rasanya, bekal kesabaran dua karung, belum cukup untuk menghadapi pelayanan ini. Belum lagi ujian-ujian lain dari sesama jamaah. Ini yang lebih menyita waktu, pikiran dan emosi. Hmm, tapi, semua menjadi nikmat setelah kembali. Setelah selesai. Maka, tidak heran, bila hampir semua orang yang pernah pergi ibadah haji, ingin segera berangkat lagi.

Saya? Nanti kalao pelayanan pemerintah bisa mengimbangi yang diberikan para penjual jasa ONH Plus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s