Surat Buat Afina


Afina Sayang,
Semalam aku nggak bisa tidur karena memikirkan dirimu. Saat kita berpisah, meski engkau tersenyum, aku ragu kamu tersenyum tulus atau terpaksa. Ya, karena aku juga mengembangkan senyum, meski sebenarnya hati ini tercabik-cabik.

Engkau melambaikan tangan dengan riang. Aku mengangkat tangan dengan menahan tangis. Jika aku bukan lelaki, mungkin aku tak akan sanggup lagi membendung air mata. Sebenarnya, hanya rasa malu sebagai lelaki saja yang membuatku bertahan tidak mewek.

Aku ingat sekali, saat aku mampir ke rumahmu yang baru, aku sebenarnya tidak tiga. Kamu biasa menggunakan tempat tidur ukuran jumbo, sekarang kamu hanya tidur di ranjang sempit dengan kasur kapuk yang sudah buluk.

Afina Sayang,
Sebenarnya aku tidak tega meninggalkanmu. Aku lihat rumahmu begitu sumpek. Fentilasi udara yang tidak baik, tidak ada pendingin ruangan, di tambah lemari yang sudah tak layak pakai, sebenarnya membuat aku teringat masa kecil dulu. Rumahku dulu, jauh lebih buruk dari itu. Lebih sempit, apek, dan panas.

Aku kirim bantal dan guling kesayanganmu, hanya biar engkau bisa tidur nyenyak. Aku khawatir engkau tidak bisa lelap, barang sejenak. Aku tahu, kamu sulit tidur di tempat yang baru. Kamu akan sulit lelap dengan banyak orang. Semalam aku terbayang, bagaimana kamu malam ini. Bisa tidur atau tidak? Banyak nyamuk ya? Aku tahu karena ruangan tidurmu cukup banyak lubang tempat nyamuk bisa menyusup.

Afina Sayang,
Aku ingat setiap kali kita hendak pergi tidur, biasanya kita saling bercanda. Dan, aku yakin, hari ini kamu pasti kurang tidur. Di tempat kita tinggal, aku biarkan kamu bangun siang. Apalagi pas hari libur. Sekarang, kamu pasti harus bangun pagi-pagi sekali. Biasanya, aku hanya membangunkan kamu untuk ibadah, dan setelah itu tidur lagi. Kini, kamu pasti menahan kantuk, karena nggak bisa rebahan menyambut fajar.

Afina Sayang,
Kamu itu biasa makan yang relatif enak. Di hari libur, kita biasa mencari rumah makan yang belum pernah kita coba. Atau kita mencari makanan kesukaanmu. Nasi timbel komplit, sup buntut, ayam pop atau juga terkadang ikan bakar. Pasti, untuk beberapa waktu lama, kamu tidak bisa merasakan itu semua. Yang juga aku pikirkan, kamu tidak biasa sarapan nasi. Kamu cukup minum sereal atau segelas susu. Mudah-mudahan kamu bisa cepat mengubah kebiasaanmu.

Afina Sayang,
Kamu ingat nggak terakhir kali kita berlibur. Kita teriak bersama saat berseluncur di turunan air. Dua pekan lalu, kamu meski sedikit takut, tetap ikut menyusuri sungai yang dingin sekali menuju Green Canyon, dekat Pangandaran di sana. Aku benar-benar mengkahwatirkanmu. Aku sedikit pun tak mau jauh dari kamu. Termasuk saat kamu terbawa arus sungai, secepat kilat tanganku menyambarmu agar tak terbentur batu.

Aku tak menduga engkau begitu berani. Ternyata engkau terus tersenyum. Kamu begitu gembira. Sementara aku sangat menghawatirkanmu. Aku takut, penyakitmu kambuh. Ya, kamu kan punya alergi terhadap dingin. Alhamdulillah, alergimu hanya sejenak singgah.

Jika boleh berpikir praktis, aku tidak akan membiarkan jarak memisahkan kita. Engkau sangat baik. Engkau sangat mandiri. Engkau sangat membuatku bangga. Dan, aku sangat sayang kamu. Tak akan ada orang yang bisa menggantikan posisimu di hatiku.

Tapi, demi kebaikan kita, aku memutuskan untuk sementara berpisah denganmu. Aku ingin lebih mandiri. Aku ingin engkau tahu tentang yang tidak aku ketahui. Aku ingin engkau bisa mendoakan aku, jika aku mendahuluimu.

Aku juga sangat berharap engkau bisa menembus masa depan yang jauh lebih bermartabat. Terhormat, dan di jalan yang benar. Jangan sekali-kali engkau mengulang kesalahan yang pernah aku perbuat. Engkau tangguh, kuat, cerdas, pintar dan santun. Aku bangga kepadamu. Sampai kapan pun aku akan tetap membanggakanmu.

Afina Sayang,
Aku sekarang berusaha untuk sabar dan iklas menyikapi perpisahan kita. Kita sudah sepakat ini perpisahan sementara. Aku janji untuk selalu menjengukmu. Dan, sebulan sekali aku akan mengajak pulang ke tempat kita selama 12 tahun menghabiskan waktu bersama.

Aku akan perlakukan engkau seperti bidadariku. Tidak akan berkurang kasih sayangku kepadamu. Bahkan, akan bertambah, dan bertambah. Kita akan bersama-sama mengunjungi tempat biasa kita makan. Kita akan berenang bersama. Kita akan mencari buku bersama, dan aku akan menuruti apa yang kamu mau.

Tapi, seingatku. Engkau tidak pernah meminta. Engkau tidak pernah merengek minta ini dan itu. Engkau tidak pernah mau menyebut sesuatu yang engkau senangi. Padahal, aku akan mengabulkan apapun yang kami minta — selama aku bisa.

Afina Sayang,
Aku berdoa agar engkau bisa bersabar. Sabar menjalani hari-harimu yang pasti akan terasa berat. Aku berdoa agar kamu sehat. Aku berdoa agar kamu betah di sana. Aku berdoa agar engkau lancar menempuh era baru dalam hidupmu.

Afina Sayang, Selamat belajar. Jangan lupa tulis surat buat Bapak ya.

Dari Ayahmu Yang Kesepian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s