Hati Politikus


Menjadi politikus, konon, harus ekstra sabar. Minimal harus siap mental ketika teman baik tiba-tiba menjadi lawan. Bila hanya lawan secara politik, mungkin tidak terlalu masalah. Tetapi, bila harus berbuntut pada pertemanan pribadi, rasanya, lebih menjengkelkan hati.

Rasanya sulit mencari orang yang bisa memisahkan antara perbedaan politik dengan pertemanan. Bung Karno dan Bung Hatta, adalah contoh klasik itu. Mereka pernah berteman baik, saling dukung, saling mengagumi, dan saling bantu. Tiba-tiba, di saat perbedaan politik makin tajam, mereka harus berpisah jalan. Bung Hatta tak mau lagi di pemerintahan.

Hebatnya, meski mereka secara politik bertengkar, kekariban mereka tidak pudar. Saling bersurat, saling berkunjung masih berjalan terus. Sebaliknya, contoh yang buruk adalah era Soeharto. Presiden Soeharto menyingkirkan teman-teman dalam dua hal sekaligus: secara politik dan pertemanan.

Saya belum tahu, apakah ada sekarang politisi yang masih bisa meniru gaya Bung Karno-Bung Hatta tadi. Misalnya, saya kok ragu, mereka yang berpisah jalan dengan Megawati, dan kemudian mendirikan partai baru masih saling komunikasi. Saya juga ragu, antara PKB yang masih setia ke Abdurrahman Wahid dan yang sudah melenggang ke Senayan bersama Muhaimin Iskandar itu bisa saling sokong secara pribadi.

Itulah politik. Tidak pernah ada teman dan lawan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan yang sama. Selama masih satu tujuan, mereka seiring meski hati mereka saling bertengkar. Jika kepentingan berbeda, hubungan baik, pun bisa hilang seperti debu tertiup angin.

Meski saya bukan politisi, saya pernah kehilangan dua teman politisi yang dulu sangat baik dengan saya. Ada seorang politisi muda, berbakat,pintar dan teman lama saya. Ketika dilantik menjadi anggota DPR, dia belum punya mobil. Beberapa kegiatan saya yang mengantar. Ketika dia kekurangan uang, saya mencarikan job seminar dan narasumber talkshow radio untuk dia. Kita tandai saja dia dengan nama Si Fulan Baik.

Saya juga sering makan bareng bersama dia. Kami saling traktir. Saya sering main di kantor dia, dan Si Fulan Baik itu juga sering meminta saya datang ke ruangannya. Ya, ngobrol politik. Ingat, saya seorang wartawan. Bukan politisi.

Tibalah saatnya. Presiden yang dia dukung melakukan beberapa kekeliruan. Saya menulis dan mencari fakta. Satu tulisan saya panjang lebar “menelanjangi” kebijakan dan langkah Presiden itu. Seiring berita-berita investigasi saya, hubungan kami menjadi renggang. Saat Presiden jatuh, saya benar-benar dimusuhi. Benar-benar dilupakan. Saya masuk menjadi enemy list-nya dia. Sampai sekarang nggak membaik. Dari tiga orang teman baik di fraksi itu, hanya satu orang yang sekarang hubungan lumayan cair.

Begitulah politik. Padahal, saya sudah menjelaskan, secara pribadi saya tidak pernah membenci mereka. Tapi, saya tidak pernah menyesal. Tidak pernah mengiba untuk berhubungan baik seperti dulu lagi.

Ini masih hubungan wartawan-politikus. Saya tidak bisa membayangkan bila saya berstatus sebagai politisi, mungkin lebih parah lagi. Karena itu, saya khawatir, pemilu presiden ini hanya akan membuat banyak orang kehilangan teman.

Nah, bukan bermaksud menggurui atau menasehati, berpolitik pun mestinya dengan santun. Berpolitik juga tidak perlu dengan emosi. Cukup lisan saja. Hati tidak perlu terlibat. Wah, ini sepertinya tulisan yang salah: jika berpolitik tidak dengan hati, bagaimana bisa menengkap getaran aspirasi rakyat ya?

Satu pemikiran pada “Hati Politikus

  1. Memang pada kenyataannya hal tsb tidak dapat kita pungkiri dlm berpolitik….kalau selama politik dipakai untuk mendapatkan kekuasaan,akan tetapi kekuasaan sebenarnya tidak ada apa-apanya bila berbanding terbalik dengan hati nurani yg berambisi utk mendapatkannya……….karena kepuasan tidak akan pernah dapat tercukupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s