Ujian Teman Sejati


Teman sejati, sulit dicari. Saya yakin itu. SBY, Jusuf Kalla, Megawati, sekarang ini tak ubahnya sedang mencari teman sejati. Teman yang mau bersusah payah mencari satu lilin, untuk ditukar menjadi obor kemenangan.

Teman sejati itu, bukan yang setia mendatangi kita. Teman sejati bukan yang hanya rajin memberi nasehat. Teman sejati tidak pernah memilih status. Juga bukan mereka yang datang membawa kado ketika sedang pesta. Bukan pula, yang naik ke panggung dan berpidato memberi sejuta pujian, dan setelah turun ia mengumpat bagai lintah yang tak pernah lepas menggigit sebelum kenyang.

Teman sejati bukan seperti itu. Teman sejati justru yang duduk manis ketika kita tak setuju kepadanya. Teman sejati adalah yang memberi madu disaat kita sakit. Dia menarik tubuh kita saat akan tergelincir. Teman sejati justru yang hadir di saat kita bersedih. Bukan yang bernyanyi di kala kita sakit gigi. Teman sejati riang menari saat kita minta tolong, apalagi ketika sedang dalam kesusahan.

Ah terlalu banyak kreteria. Sejatinya ukurannya hanya satu: teman sejati adalah pelipur lara di saat kita berduka. Ia siap membela, menggantikan kita disaat kita membutuhkan.

Coba lihat betapa pusingnya SBY, JK, atau Megawati sekarang ini. Tidak sedikit yang dulu dianggap teman sejati tetapi justru menusuk dari belakang. Teman-teman pergi. Ini masih mending. Di saat ingin merebut harapan saja, sudah tega berkianat. Coba, dua dari tiga orang tadi pasti akan kalah. Berapa banyak kawan yang akan datang menghibur saat kekalahan itu datang? Berapa orang yang akan tetap setiap di saat kekalahan itu menjadi mahkota? Dari yang sedikit itulah mereka mendapatkan teman sejati.

Nah, lawan dari kawan sejati, ya kawan palsu. Ini saya kutip dari Goldenmother, konon ada Empat Macam teman pals. Siapa saja mereka? Mereka yang mengajak berkawan untuk tujuan menipu (1), mereka yang hanya manis di mulut saja (2), mereka yang memuji-muji dan membujuk (3), mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran (4).

Sebaliknya, ada empat macam teman sejati: Seorang teman yang mampu membantu di dalam berbagai cara (1), seorang teman yang mempunyai rasa simpatik baik di dalam suka maupun duka (2), seorang teman yang memperkenalkan kita pada hal-hal yang berguna (3), seorang teman yang memiliki perasaan persahabatan (4). Empat macam orang-orang ini adalah teman-teman sejati, dan seorang seharusnya bergaul dengan mereka.

Nah, dalam pergaulan, kadang kita sulit membedakan mana teman palsu dan mana yang sejati. Memang ada nasehat agar kita berteman dengan sebanyak-banyaknya teman. Dari berbagai kalangan, dari manapun. Ya, teman seribu masih kurang, tetapi satu musuh sudah berlebih.

Ada seorang teman, kita sebut saja Andika. Andika ini orang yang sangat peduli terhadap teman. Istilah yang keren, solidaritasnya tinggi sekali. Dia punya banyak teman, karena pandai bergaul. Orangnya supel, ringan tangan, dan ramah. Ia juga bersedia mengunjungi semua rumah teman-temannya. Tak peduli dia kaya atau miskin.

Dia juga paling rajin mencari kabar atas teman yang sudah lama tidak beredar. Andika juga tak berat untuk membesuk teman yang sakit, yang terkena musibah, atau bahkan meninggal. Meski dia tidak kaya, ANdika sangat ingin menolong teman yang kesusahan. Dia sering memberi pinjaman, bahkan terkadang dia meminjam ke teman yang lain hanya agar temannya terbebas dari persoalan.

Saking baiknya Andika ini, bagi sebagian teman-temannya, dia dianggap sebagai setengah Dewa. Ya itu, karena kemuliaan hatinya. Yang membuat saya kagum, Andika ini sudah sangat sering dibuat pusing oleh teman-temannya sendiri, yang justru pernah ia tolong. Misalnya, soal pinjaman. Entah berapa orang yang tidak membayar utang kepada Andika. Entah sudah berapa teman, yang sudah ditolong: diberi pekerjaan, diberi modal usaha, atau diberi “kail” yang lain, dibelakang hari justru menusuknya dari belakang.

Andika santai saja. “Banyak yang nggak terima kasih. Banyak yang melupakan saya, ya nggak apa-apa. Setidaknya saya sudah berhasil membantu dia,” katanya. Apa sih yang diharapkan Andika? “Ya nggak ada. Ya barangkali, suatu saat nanti, saat saya ada kesulitan, saya akan ada yang menolong,” ujarnya.

Saya bangga punya teman seperti Andika ini. Ingin saya belajar sabar dari dia. Banyak menolong, tanpa pernah berharap terima kasih. Di luar Andika, saya punya teman sejati beberapa orang. Tidak banyak. Dan, itu tetap akan saya abadikan di dalam hati saja. Tidak akan pernah saya ceritakan siapa mereka.

Satu pemikiran pada “Ujian Teman Sejati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s