Sebelum Berkalang Tanah …


Apa yang membuat hidup ini berarti bagi Anda? Saat membaca tulisan Prayitno Ramelan di Kompas Online, rasanya hidup saya belum ada apa-apanya.

Prayitno sangat kenal dengan beberapa korban pesawat Hercules yang jatuh di Magetan itu — setidaknya, bisa disumpulkan dari tulisannya. Di antara sekian banyak korban, beberapa kenal baik dengan Prayitno. Kita ikuti petikannya:”Setelah ikut meneliti nama-nama beberapa korban, terdapat beberapa nama yang mempunyai hubungan emosional dengan penulis dimasa lalu. Marsma TNI Harsono, Panglima Komando Sektor IV Hanudnas Biak adalah junior penulis.

Penulis mengenalnya sebagai salah satu calon generasi penerus TNI AU, sebagai penerbang tempur handal yang pembawaannya sederhana. Pengetahuan keudaraan dan kepemimpinannya baik dan matang, berpenampilan bak “SBY” dengan postur tinggi besar. Penulis saat masih aktif bertugas pernah mencatatnya dalam “intelligence spotting.” Marsma Harsono masuk dalam ranking terbaik, bisa dicalonkan sebagai salah satu calon pimpinan TNI AU. Sayang, ternyata Allah menghendaki lain, yang bersangkutan dipanggil lebih awal bersama isteri tercintanya, semoga arwahnya diterima disisiNya.

Ny. Yayuk Prihatiningsih sebagai salah satu korban adalah istri dari Letkol Pitono, Asintel Kosek IV Biak, meninggalkan Marcel Novien Prandana Reniurs, 11 dan Renald Michael Dwin Reniurs, 9. Pada saat penulis masih aktif berdinas sebagai Kepala Dinas Pengamanan dan Sandi TNI AU (Kadispamasanau), Letkol Pitono adalah anak buah penulis, saat itu masih berpangkat Kapten. Korban ikut dalam pesawat A-1325 dalam perjalanan dari Jakarta menuju ketempat suaminya bertugas dikota Biak. Tetapi takdir menghendaki perjalanannya berakhir di Lanud Iswahyudi Madiun. Selamat jalan Yayuk semoga Tuhan menerima dan mengampuni dosa dan kesalahannya. Kepada Letkol Pitono, semoga tabah menghadapi ujian dan cobaan Tuhan ini. Berat memang rasanya ditinggal isteri tercinta itu, besarkan hati Marcel dan Renald yang bercita-cita menjadi penerbang TNI AU. Korban lainnya adalah Letkol Sus Jatnika, sedang dalam perjalanan menuju ke tempatnya bertugas, juga di Kosek IV Biak sebagai Pabandya Sintel. Almarhum juga bekas anak buah saat penulis masih bertugas sebagai Kadispamsanau, penulis kenal almarhum sebagai sosok yang kalem dan serius. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya, dan juga dimasukkan kedalam surga.

Suasana yang sangat memilukan terjadi di rumah almarhum Kapten POM Heri Kasmiyadi. Heri adalah salah satu bekas anak buah saat penulis bertugas sebagai Korspri Kasau. Heri saat itu berpangkat Serma, merupakan sosok anggota POM serba bisa yang sangat membantu penulis dalam masalah pelayanan tamu Kasau dan protokoler. Sosoknya yang kurus tinggi, ramah, mudah dikenali. Setelah melalui serangkaian pendidikan, karier Heri yang ditekuninya dari bintara hingga menjadi perwira dengan pangkat kapten berakhir setelah menjadi salah satu korban A-1325. Suasana haru sudah sangat terasa di rumah duka di Jalan Punto Dewo, Kompleks Dirgantara I, Halim Perdanakusumah.

Ria Heryati, 25, anak sulung almarhum melangsungkan pernikahan dengan pria pujaannya, Anshar Rasyid,25 dimuka jenazah ayahnya. Pasangan pengantin duduk di samping peti jenazah, lengkap dengan para saksi, wali dan penghulu. Suasana haru sangat terasa saat prosesi pernikahan dimulai berjalan. Derai air mata bercucuran dari puluhan pasang mata yang hadir. Heri sejak semula merencanakan akan menikahkan putrinya pada bulan November nanti dan akan menjadi wali nikah. Ria demikian terharu dan hanya mampu memanggil nama ayahnya. Pihak keluarga mengatakan sengaja memajukan akad nikah, agar arwah almarhum benar-benar lega meninggalkan keluarganya. Saat kecelakaan, Kapten Heri sedang melakukan perjalanan ke Surabaya akan menyekar orang tuanya dalam rangka persiapan mantu.”

Coba, kita menjadi salah satu anggota keluarga korban, bisa dibayangkan betapa berat beban yang harus kita pinggul. Semua rencana, semua cita-cita, semua ambisi sirna dalam hitungan detik. Apa semua arti semua rencana, cita-cita dan ambisi itu ketika kita tak lagi memiliki nyawa?

Kita, termasuk saya, tentu lebih senang berangan-angan. Nanti jika umur sudah 40 tahuan saya akan begini. Jika sudah umur 50 tahun akan begono. Saat angan-angan itu, terkabul, kita miliki angan-angan lebih tinggi lagi. Nanti kalau umur 6o tahun saya mau berhenti ini dan itu, hanya ibadah saja. Seolah-olah kitalah yang memiliki umur.

Kita, termasuk saya, sering melupakan ada yang Yang Maha Pengatur Umur. Seorang kiai di Bekasi, pernah punya impian muluk ingin membuat ini dan itu. Cita-citanya banyak. Tetapi, saat akan ke bank mengambil uang, ia terjatuh dari motor. Dia koma, dan setelah lebih dari 15 hari, akhirnya meninggal. Lho, Pak Kiai saja nggak bisa nego soal umur kok.

Maka, kita dianjurkan untuk menjalankan beberapa hal sebelum hal lain datang. Kita dianjurkan memanfaatkan masa muda, sebelum masa tua datangn. Kita dianjurkan memanfaatkan masa sehat, sebelum sakit menerkam. Kita dianjurkan untnuk memanfaatkan waktu luang sebelum sibuk. Kita diminta untuk menggunakan hidup dengan baik, sebelum mati.

Boleh berangan-angan, tapi mungkin tidak usah muluk-muluk. Boleh berencana, tetapi tetap kaki menginjak bumi. Jika tidak, penyesalan setelah berkalang tanah, tiada artinya.

4 pemikiran pada “Sebelum Berkalang Tanah …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s