Atas Nama Ibu…


Kasih ibu, sepanjang masa. Dan, seorang anak tak akan sanggup membayar kasih sayang Ibu kepada dirinya. Betapun ia berusaha. Meski begitu, cukup banyak yang demi berbakti kepada ibu, ia merelakan nyawanya.

Suatu ketika di kota Mekah, saya melihat seorang lelaki menggendong ibunya yang sulit berjalan di atas pundaknya. Si Ibu itu digendong dari pondok sampai di Masjidil Haram. Setiap Subuh lelaki itu melakukan ritual bakti kepada bundanya. Lelaki itu berasal, jika tidak salah, dari Afganistan. Lelaki itu badannya ukuran sedang untuk orang Afgan. Tapi, dibandingkan saya, juah lebih tinggi dan besar. Lelaki itu sanggup menggendong si ibu jauh, setidaknya 3 kilomter. Luuaaaarr biasa!

Ada seorang teman, yang merelakan karirnya demi membela kepentingan si ibu. Sebut saja dia Wibi. Dia masih muda, masih kuat. Wibi berasal dari Semarang, dan merantau ke Jakarta baru sekitar lima tahun. Setelah lulus sarjana dari Undip, Wibi bekerja di sebuah perusahaan leasing. Tak lama kemudian pindah ke sebuah kantor media.

Saya kenal, karena sesama pemain tenis. Dia partner saya, dalam permainan double. Karena dia lebih muda, tenaga lebih kuat, dia juga sangat mobile untuk mengejar bola. Candanya pun kuat. Meski dia dalam kondisi tertekan di lapangan, dia masih bisa melontar seloroh-seloroh lucu. Entak ekspresi wajah, atau teriakan, yang terkadang lucu, dan porno.

Wibi ini, sebenarnya sudah lama di Jakarta. Ini karena ayahnya tinggal di daerah Duren Sawit dan menjadi pejabat di sebuah instansi pemerintah. Si ayah ini sudah menikah lagi, sementara ibunya masih menjalani hidup sendiri di daerah Bawen, Semarang.

Wibi pekerja keras. Dia pandai bekerja di bidang keuangan. Karirinya pun, setahu saya, cukup cemerlang. Wibi juga punya pekerjaan sampingan, berjualan gelang-gelang magnetic yang konon mujarab menghilangkan aneka penyakit.

Suatu hari, kami makan bersama di sebuah warung sunda di daerah Bekasi. Sambil makan, dia bercerita banyak tentang dirinya. Wibi ini, hidup hanya berdua dengan Ibunya di Bawen.Sejak kecil dia ikut ibunya, yang sudah bercerai. Ibunya pedagang kelontong di pasar. Karena itu,”Saya juga sering menjaga tokonya,” kata Wibi.

Wibi dibesarkan dalam kepedihan. “Bapak saya meninggalkan ibu dan saya begitu saja,” katanya. Karena itu, meski bapaknya kaya, punya jabatan, Wibi tidak pernah mau datang. Apalagi minta tolong. “Saya mau datang ke rumahnya setelah saya bekerja,” katanya. Mengapa? “Saya tidak mau mengemis. Kalau saya sudah kerja, saya kan bebas,” katanya.

Semasa kuliah, Wibi juga mengandalkan biaya dari Ibu. Bukan dari ayahnya. Karena keuangan yang terbatas itu, Wibi nyambi sebagai tukang reparasi barang elektronik di rumah. “Ya, pokoknya bisa buat ongkos saya. Kalau SPP yang beruntung beberapa kali saya dapat biasiswa,” katanya.

Setelah merasa cukup mapan di Jakarta, Wibi memberanikan diri menikah dengan gadis pujaannya. Tak lama, istrinya pun hamil. Di saat mulai hamil itu, timbul peroalan. Pengeluaran meningkat, sementara ia juga harus memberi bantuan kepada ibunya. “Saya nggak mau ibu menderita lagi,” katanya.

Diam-diam, uang penghasilan itu ia sisihkan untuk dikirim ke Ibunya. Semula berjalan lancar, sampai kehamilan itu mendekati hari kelahiran. Sang istri yang semula bekerja harus keluar, karena kondisi kesehatan yang memburuk. Mereka tidak ingin kehilangan anak, maka istri memututuskan untuk berhenti bekerja.

Di saat suli itu, Ibunya tertimpa musibah. Rupanya, selama ini, sang ibu terlilit utang. Jumlahnya cukup banyak. Dan, yang membuat Wibi sedih, Ibunya sering didatangi para penagih. “Ibu saya sering diteror. Ibu ketakutan setengah mati,” kata Wibi.

Warung pun ditutup, karena sudah tidak menguntungkan. Wibi pun terpanggil untuk menyelamatkan Ibunya. Sayangnya, dia gelap mata. Dia memakai uang kantor untuk membayar utang-utang ibunya. Padahal uang itu hasil colecting dari para agensi, pemasang iklan di media tempat ia bekerja. Dia mengirim secara berangsur-angsur untuk mencicil utang ibunya.

Sang ibu tentu tidak tahu. Semula berjalan lancar. Uang hasil collecting setengah disetorkan ke kasir, sisanya dia “gangsir”. Itu berjalan sangat lama, hampir setahun. Borok Wibi terbongkar di saat anaknya lahir. Itu juga karena ia terlambat menyampaikan laporan keuangan. Pendek cerita, akhirnya dia diminta mempertanggungjawabkan keuangan kantornya.

“Saya dipecat Mas,” katanya suatu saat. Itu pun setelah ia minta tolong ke ayahnya, untuk menutup uang kantor. Memang berapa yang dia ambil. “Jumlahnya banya, di atas 100,” katanya. Sang Ayah hanya sanggup memberesi separonya. Sisanya, Wibi menyerahkan sertifikat tanah milik neneknya. “Hancur, hancur saya Mas,” katanya. Dia menangis.

Toh di lapangan tenis dia seperti tidak ada masalah. Dia tetap energik, strategis dalam bermain. Penempatan bola-bolanya senantiasa akurat. Dia berteriak kencang. Kali ini, saya tahu dia meluapkan emosi. Kejengkelan dalam dirinya.

Wibi sampai beberapa bulan lalu, masih menganggur. Yang pasti, “Saya senang Mas karena bisa sedikit melepaskan derita Ibu,” katanya. Sayang, ia menempuh jalan yang salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s