Pergi Bagai Kentut…


“Dor!” suara apa itu? Tembakan senapan, atau sekedar suara orang yang iseng untuk mengagetkan orang lain? Keduanya bisa sangat mungkin. Jika yang pertama, bisa membuat nyawa seorang Nasrudin melayang. Jika suara iseng, mungkin hanya akan membuat terhenyak. Akan menjadi lucu bila yang dikagetkan itu orang yang memiliki penyakit latah. Wah, bisa berbagai kata yang muncul.

Orang latah, bagaimanapun parahnya, bisa disembuhkan. Ini hanya soal latah, karena dia tidak bisa mengendalikan diri. Yang paling pusing, jika latah itu menyangkut masalah gaya hidup. Meski terbilang sepele, tetapi dampaknya bisa besar.

Saya akan ceritakan tentang seorang teman yang sangat latah terhadap trend. Apa saja. Dia orang yang sangat gaya, mengikuti mode, dan pastinya hidup menjadi boros. Kita panggil dia Bang Doy. Orangnya gagah, cukup ganteng, dan bergaya Metroseksual.

Bang Doy ini, sebarnya, latah mengikuti trend, semula karena pergaulan. Dia pernah bekerja di sebuah periklanan multinasional yang membuat dirinya tampil harus trendi. Apalagi dia bagian marketing, yang menuntut banyak bertemu klien. Itulah yang membuat hidupnya bagai pesohor yang muncul di teve.

Semua yang dikenakan semua bermerk. Semula, ketika dia memasuki dunia itu, Bang Doy masih bisa menahan diri. Tetapi, karena lingkungan yang mengharuskan borju, dia pun larut. Apalagi setelah bang Doy bekerja di sebuah tambang internasional yang berkantor pusat di Amerika Serikat.

Bang Doy benar-benar masuk dalam sosialita kaum lelaki. Pekerjaanya, selain clubing adalah menjadi anggota wine club. Minum wine, anggur. Ia juga mengisap cigar, cerutu Havana yang konon paling nikmat di dunia.

Saya tidak terlalu kenal baik dengan Bang Doy. Hanya pernah intens bertemu. Dulu, pernah hampir seminggu tiga kali saya bertemu dengan dirinya. Gaya hidup itu telah mengubah diri Bang Doy. Ketika awal perkenalan dia masih terlihat sopan, belakangan dia sudah banyak berubah.

Selain wangi, selalu memakai jel, ia juga menggunakan make up. Meski tipis, tetapi terlihat. Clubing pun berbeda. Sekarang dia agak melambai. Ya, Bang Doy telah mengalami gegar budaya, yang membuat dirinya berubah orientasi seks. Dia dulu pernah pacaran dengan perempuan, tetapi sekarang hidup dengan seorang pria.

Suatu ketika, saya datang ke kantornya. Dia tiba-tiba membuat joke-joke yang menyerempet soal birahi terhadap lelaki. Misalnya, begini. “Kalau aku tu ye, belanja pisang. Beli satu, jadi dua deh di rumah,” katanya. Lain kali dia berkisah tentang baju-baju yang sedang trend dan menjadi semacam dress code untuk kalangan gay.

Yang pernah membuat saya pernah mau marah, saat Bang Doy menerima telepon. Dia berani bicara mesra sekali dengan “pacarnya” di depan saya. “Hai honey, I miss you nih ….” Semula, dia mencoba menutupi dengan siapa lawan bicaranya. Tetapi, suara di seberang telepon agak keras, dan jelas sekali suara lelaki. Akhirnya, karena sedikit malu, dia menutup telepon dan berjanji akan menelopon balik.

Gaya hidup juga borju. Dia hidup di apartemen di Jalan Casablanca. Mobilnya, BMW seri 7. Padahal, saya tahu kehidupan keluarga asalnya (keluarga ayah-ibunya), bukanlah keluarga berada. Ia lebih mementingkan diri sendiri, dibanding mengurus orang tuanya.

Suatu ketika, perusahaan tempatnya bekerja, mengadakan audit internal. Entah bagaimana, tiba-tiba nama Bang Doy, masuk salah satu orang yang diperiksa. Oleh orang audit, dia dianggap bersalah atas sejumlah laporan penggunaan inventaris kantor. Belakangan persoalan merembet menjadi merembet ke masalah yang lain. Saya tidak tahu apalagi fakta yang menyeretnya.

Di ujung cerita, Bang Doy ini, harus kembali kere. Benar-benar habis. Apartemen, mobil, sejumlah tabungan dan lain, semua habis. Semua dijual untuk mengganti uang kantor yang hilang. “Daripada aku diadili,” katanya. Bang Doy bercerita, dia selamat, tidak akan dilaporkan ke polisi, asal sejumlah uang yang hilang dari perusahaan, dikembalikan. Bang Doy menyanggupi, dan berarti dia mengaku bersalah.

Ya benar. Kata orang, uang setan itu akan habis dimakan demit. Maknanya, kira-kira, uang yang diperoleh dari cara tidak halal, juga akan habis dengan cara yang tidak baik pula. Cerita Bang Doy itu, hanya sepenggal. Karena, ternyata Bang Doy masih punya akal. Tidak semua uang yang mestinya dipertanggungjawabkan, dia bayar.

Ia mengaku sudah habis hartanya. Pihak perusahaan mengejar ke rumah orang tuanya. Tetapi, karena kondisi rumah orang tuanya jauh dari memadai, akhirnya kasus dihentikan. Bang Doy girang bukan kepalang. Ternyata dia masih menyimpan sejumlah harta lain. “Cukuplah buat menyambung hidup,” katanya.

Ya, Bang Doy harus meninggalkan tempatnya bekerja dengan malu. Dia pergi tanpa pamit. Jadi, pepatah lama untuk bersopan santun dengan datang tampak muka, pergi tampak punggung, tidak berlaku bagi Bang Doy. Ia menghilang bagai (maaf) kentut.

Setelah itu, ia mencoba bisnis, tetapi tidak jalan. Mencari pekerjaan lain, juga seperti sudah kehilangan taji. Padahal, Bang Doy punya gelar master dari luar negeri. Coba, bila dia sedikit bersabar, menahan nafsu untuk tidak latah mengikuti trend, mungkin dia masih bisa bersiul-siul setelah mencicipi wine.

Satu pemikiran pada “Pergi Bagai Kentut…

  1. Menurut saya,ini salah satu godaan bekerja di ibukota Pak.. Saya pun mengalami yang dinamakan dengan “perubahan”, dulu yang semenjak kuliah bersusah2, skrg bekerja di ibukota dengan gaji cukup dan lingkungan hedonisnya membuat saya kadang2 menjadi bagian dari lingkungan yang individualistis ini… Tapi, Insya Allah, saya selalu berusaha mengembalikan kepada Allah, berharap bahwa Allah senantiasa melindungi saya dimanapun saya berada, karena dunia ini cuman sementara, tidak ada yang menjamin saya besok akan hidup, tidak boleh melakukan hal sia-sia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s