Berpisah Dengan Anak…


Apapun minumannya, jika hati sedang lapang, akan terasa beda. Pagi ini, saya minum teh, terasa nikmat sekali. Bukan teh sembarang teh. Ini teh hangat tanpa gula, yang dibuatkan oleh istri saya, Yana Sufanti, bekas pacar saya juga.

Rasanya kok bukan teh yang membuat nikmat. Tetapi hati. Saya sedang bergembira, karena anak saya bisa menentukan pilihan sekolah. Kami menawarkan dua sekolah, satu di SMPIT Toriq Bin Ziyad, dan pesantren khusus putri Tasfiah. Di dua tempat itu, tes sudah dijalnkan, dan kedua sekolah itu meloloskan Afina Insani, anak tunggal kami, sebagai calon muridnya.

Saya, dan ibunya, tidak memaksa untuk memilih. Kami hanya memberi gambaran, plus minus, dan keuntungan sekolah di masing-masing tempat itu. Setelah selesai ujian nasional, anak saya mengirim email ke saya yang sedang di Tarakan: dia memilih pesantren.

Hmm, ini mengejutkan saya. Apalagi istri saya. Di sejarah keluarga kami, tidak ada satupun yang pernah menjadi santri. Tidak heran bila istri saya menangis. Apalagi neneknya, menangis sesenggukan. Mereka menangis karena sedih akan berpisah lama. Ya, Afina, adalah anak tunggal kami. Jadi, bisa dibayangkan betapa beratnya hati si ibu ketika harus merelakan tidak lagi bertemu dengan Afina setiap hari.

Ini pasti belum seberapa dengan cerita teman saya, yang harus kehilangan anak. Saya dan istri, punya teman yang memiliki kisah yang lebih mengharu biru. Sebut saja di Bu Hesti. Dia ini seorang janda. Bu Hesti ini ditinggal suaminya, ketika mereka baru saja memiliki anak.

Jika tak salah ingat, anaknya belum umur empat tahun. Ketika itu, suaminya sedang dinas luar kota di Medan. Oh ya, Bu Hesti dan suami, memang asal Sumatera Utara. Belum beberapa hari dinas di Medan, tiba-tiba ia mendapat kabar buruk. Suaminya meninggal karena kecelakaan mobil. Dia meninggal di tempat.

Betapa hati Bu Hesti hancur berantakan. Hatinya berkeping. Saat berangkat, suaminya sehat dan kuat. Gagah dan baik. Kali ini bertemu dengan suaminya sudah menjadi mayat.

Hari-hari berikutnya, terasa makin berat. Betapa tidak, keluarga suaminya mulai usil. Rumah yang ditinggali bersama anaknya, akan diminta pihak keluarga suami. Dia menghadapi berbagai teror. Mulai dari telepon berisi ancaman, sampai didatangi preman. Bu Hesti tetap tegar. Dia hadapi semuanya, seorang diri.

Bu Hesti bukan ingin menguasai rumah itu. Toh rumah itu dibeli berdua dengan suaminya. Bu Hesti hanya memikirkan anak tunggal mereka. “Itu kan hak anak saya,” kata Bu Hesti. Karena itu, Bu Hesti tidak mau menyerah begitu saja.
Dia berusaha mengubah sertifikat rumah dan tanah itu agar bisa menjadi nama dirinya. Ya, tujuannya biar benar-benar aman.

Terlepas dari rongrongan keluarga suami, Bu Hesti mulai konsentrasi untuk meneruskan hidup. Suami tidak meninggalkan harta melimpah. Selain rumah, suaminya mewariskan sebuah mobil kijang tua. Nah, mobil Kijang itulah yang ia manfaatkan untuk meneruskan hidup. Ia melayani antarjemput anak-anak sekolah tetangganya, yang kebetulan satu sekolah dengan anaknya. Jadi, dia sekalian mengantar anak, tetapi juga mendapatkan penghasilan.

Langkah itu tidak bisa berjalan lama. Kesehatan Bu Hesti memburuk. Dia memiliki penyakit di perut yang membuatnya tidak kuat duduk berlama-lama. Saya tidak tahu persis, apa penyebabnya.

Ia tidak kehabisan akal. Keluarga Bu Hesti, adalah keluarga besar. Dia memiliki saudara kandung yang cukup banyak. Kebanyakan mereka mandiri. Nah, salah satu kakaknya memiliki usaha dagang di daerah Taman Mini. Maka, sisa tabungan dan mobil ia sertakan sebagai saham dalam bisnis tersebut. Dari sinilah, setiap bulan, saudaranya memberi keuntungan. Jumlahnya, pasti saya tidak tahu. Tetapi, kelihatannya cukup untuk kebutuhan keluarga itu.

Status janda memang membuatnya banyak mendapat cobaan. Meski ia berkerudung hingga ke pinggang, tetap saja ada lelaki yang usil. Tetangganya, seorang duda, sering menggodanya.

Suatu ketika, tetangganya itu minta tolong seorang teman Bu Hesti agar melamarkan untuk dirinya. Bagaimana reaksi Bu Hesti? Dia tidak langsung menolak, tidak pula mengiyakan. Dia selidiki, dia amati duda itu secara diam-diam. Ia juga shalat istikaroh, untuk meentukan pilihan.

Maka, jabawan yang sampai ke si duda tadi adalah, Bu Hesti tidak mau menikah lagi karena punya penyakit yang akan mengganggunya bila menikah. Si duda dan mak comblang tidak tersinggung. Tetapi, alasan sebenarnya, sungguh mencengangkan. “Dia sholatnya nggak rajin. Jarang ke masjid, dan masih kejawen. Saya kan perlu imam di keluarga. Saya ingin menikah, tetapi dengan lelaki yang bisa membimbing saya,” kata Bu Hesti kepada istri saya.

Nah, untuk masa depan anaknya, dia juga mempersiapkan dengan baik. Meski anak lelakinya tunggal, dia tetap ingin menyekolahkan di pesantren. Dia memilihkan Pesantren Imam Bukhori di Solo, Jawa Tengah. Dia lebih tegar dari saya. Seorang janda, rela ditinggalkan anaknya, demi masa depan yang lebih baik. “Ya, saya kan nggak bisa mendidik anak saya sebaik di pesantren,” katanya memberi alasan.

Kemarin, Bu Hesti menelepon istri saya dengan girang bukan kepalang. Ya itu tadi, ia sangat senang anaknya di terima di pesantren. Sementara saya? Meski berusaha sabar, toh agak sulit juga membayangkan pulang kerja tidak ada anak. Tidak ada yang menjadi “wasit” ketika saya dan istri bertengkar. Biasanya dia menjadi wasit yang adil, meski lebih sering memihak ke saya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s