Hati Sekeras Gunung…


Hidup adalah perbuatan, kata iklan yang mengutip syair Chairil Anwar. Cuma, si pemasang iklan lupa, apakah perbuatan itu baik atau buruk. Hidup adalah perbuatan yang baik, mungkin akan menjadi pilihan banyak orang.

Hidup pun menjadi berguna bagi banyak orang. Kita akan berkisah tentang orang yang berani menjalani hidup hanya serta merta untuk kebaikan. Sebut saja dia ini nama Abdulloh. Orang ini, sudah senior. Jauh di atas saya, karena usianya sudah di atas 60 tahun.

Abdulloh lahir dan besar di Makassar. Ibunya dari Pulau Saparua, dan Ibunya dari Ternate. Dia orang Ambon, yang besar di Makassar. Paduan dua budaya yang keras hidup dan mekar dalam dirinya. Saat SMP dan SMA, dia sudah aktif beroganisasi. Dia sangat keras, disiplin, dan bahkan berani menegakan benang basah.

Didikan yang keras, membuat Abdulloh juga sangat keras pendiriannya. Tak ada teman yang bisa menundukkan sikapnya, jika dia sudah membuat keputusan. Selama di Makassar, sempat kuliah sambil aktif menjadi wartawan.

Yang kita sedang perbincangkan ini, suatu zaman yang penuh kekerasan, pressure dari kekuasaan. Press ditekan, mahasiswa digencet. Dan, Abdullloh menjalani kedua status itu. Sebagai mahasiswa, dia aktif di HMI. Sebagai wartawan, dia bekerja untuk sebuah koran lokal. Di dua tempat itu, dia menempatkan diri sebagai orang yang tegak lurus dengan Sang Kholik.

Suatu ketika, dia menulis tentang pembangunan rumah dinas gubernur yang dianggap dilakukan tidak sesuai prosedur. Banyak penyimpangan. Tak lama kemudian, di Makasar ada demo besar. Dan, Abdulloh pun ditangkap. Dia ditangkap bersama beberapa temannya. “Semula saya ditangkap dengan tuduhan kerusuhan, belakangan diubah dengan ingin mendirikan negara Islam,” katanya. Kala itu, isu negara Islam memang sedang laris dijadikan alat untuk menangkap aktifis. Maklum, asas tunggal Pancasila yang sedang diterapkan Order Baru, mendapat reaksi keras dari umat Islam.

Akhirnya, dia dihukum sesuai dengan hari yang telah dijalani selama di tahanan. Abdulloh tidak surut. Dia pindah ke Jakarta. Dia kembali menjadi wartawan, dan kembali kuliah. Dia juga akhiirnya menjadi pengurus HMI tingkat pusat. Dia menikahi perempuan yang justru tidak masuk kategori. Dia dijodokan, dan dipaksa menikah. “Saya hanya ketemu sekali, setelah itu menikah,” katanya.

Kami bertemu di sebuah rumah makan di daerah Kramat, Jakarta Pusat. Abdulloh tampak semengat sekali bercerita. Saya singkat ceritanya, saat peristiwa Tanjung Priok meletus Abdulloh menjadi salah satu orang yang paling dicari-cari tentara. Kala itu, polisi masih di bawah subordinasi ABRI. “Itu karena saya dianggap sebagai otak geraka,” katanya.

Pangkal soalnya, sebuah makalah kecil tentang pandangan Abdulloh mengenai asas tunggal Pancasila. Pandangannya kritis, keras, dan menolak asas tunggal. Makalah itu rupanya difotocopi dan disebarkan hampir semua masjid di Jabotabek. “Saya tahu belakangan,” katanya. Makalah itulah yang akhirnya dibaca oleh banyak khotib di Mimbar Jumat.

Maka, Abdulloh pun terus sembunyi. Dari rumah ke rumah kenalan. Ada banyak orang yang menampung dan menyembunyikannya. Tetapi, situasi makin panas. Tokoh-tokoh Islam yang dipandang pemerintah sebagai garis keras di Dewan Dakwah, seperti M. Natsir dan Anwar Harjono, mendapat sinyal sudah ada perintah tembak di tempat untuk Abdullloh.

Situasi itu membuat dirinya seperti hidup tinggal menghitung hari. Beruntung ada gerakan bawah tanah yang mencoba menyelamatkan Abdulloh. “Saya diselundukan ke Malaysia,” katanya. Di Malaysia, dia juga harus hidup berpindah-pindah, karena khawatir tercium aparat Indonesia.

Di saat itulah, Abdulloh merasa bersyukur dengan menikah perempuan yang dulu tidak pernah ia pandang sesuai dengan kreteria. “Saya baru merasakan kekuasaan Alloh. Oh, ternyata, perempuan inilah yang mengandle semua masalah keluarga saya. Dia kuat, mengatasi semua problem sendirian, bersama keluarga mertua saya,” katanya.

Abdulloh masih ingat ketika kawan-kawan mendorong agar dia maju mencalonkan diri sebagai ketua HMI. Kala itu, istrinya sedang hamil. Dia merasa tidak mungkin meninggalkan istri, untuk bersaing dengan orang yang lebih berpengalaman. Di saat itulah Bapak mertua yang mendorong. “Berangkat, istrimu aku yang ngurus,” katanya. Meski tidak menjadi ketua umum, Abdulloh menjadi pengurus pusat. Baru kongres berikutnya dia terpilih sebagai ketua umum.

Di Malaysia, Abdulloh harus berpisah dengan anak-anaknya. Setelah merasa cukup aman, dan Abdulloh memiliki pekerjaan, istri dan anak-anak pun diajak ke Malaysia. Tentu saja harus diam-diam. “Saya ngontrak rumah. Ya sering pindah-pindah,” katanya.

Setelah Orde Baru tumbang, Abdullah kembali ke Tanah Air. Kali ini dia ingin kembali menyuarakan tegaknya syariat Islam. Setelah melalui berbagai proses yang pelik, termasuk dihilangkan namanya sebagai ketua OC Kongres Umat Islam, Abdulloh akhirnya terpilih sebagai ketua umum partai yang dulu pernah dilarang di pemerintahan (Orde Baru dan Bung Karno).

Penampilannya, masih sama dengan bertahun-tahun lalu. Peci hitam melekat di kepala, dan jenggot putih. Badannya kecil, dan cukup pendek. Tetapi, sekali Anda ngobrol dengan dirinya, pasti akan tersihir dengan ketinggian hati Abdulloh ini. Sopan, lembut, tetapi pendiriannya sekeras gunung.

Siapakah dia? Tak lain, Abdulloh Hehamahua, yang sekarang menjadi Penasehat KPK. Sudah dua kali ini dia menjabat posisi itu. Istrinya masih di Malaysia. Beberapa anaknya juga di sana. Di Jakarta, ia mengontrak di daerah Tebet. Ia punya rumah di Depok, tetapi ia menyadari letaknya sulit dicari. Ia masih rajin puasa sunah Senin-Kamis. “Saya ya begini ini,” katanya.

Satu pemikiran pada “Hati Sekeras Gunung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s