Rumah Masa Depan…


Senja terhuyung-huyung ke arah barat. Badai yang mengiring seolah berjalan tersendat. Semua meratap dalam tatapan senyap. Mengapa hidup harus berwana hitam? Sementara burung prenjak terus berkicau di huma depan rumah.

Boleh kita masuk ke dalam bilik, sementara cahaya telah berjuntai lemah? Boleh, kita berkeset dan melangkah ke dalam, sedangkan dedaunan berguguran, bagai laron yang kehilangan cahaya? Rasanya berat. Ya, kita sekarang berada di sebuah gubuk reot dekat telaga. Di mana itu? Ayo kita mendekat ke sana.

Kita berada di sebuah kota yang sepi, yang jauh dari hiruk pikuk. Terhindar dari intrik. Terbebas dari kecamukanya pikiran yang sinting dan bahkan bejat. Kita berkenalan dengan Kang Rojak.

Dia orang kota yang baru saja mundur teratur dari sebuah jabatan tinggi. Mengapa Kang Rojak menyepi. “Ingin membebaskan diri,” katanya. Bebas dari apa? “Dari kebencian. Selama di kota, saya terlalu banyak membenci. Saya terlanjur membenci kemiskinan. Saya terlanjur membenci kebodohan. Saya membenci orang-orang yang suka merapal mantra.”

Saya, Anda juga mungkin setuju, belum mengerti arah tulisan ini. Padahal, setelah direnungkan kembali, tulisan ini sebenarnya hanya ingin bercerita tentang orang yang sedang frustasi.

Bukan frustasi ditinggal pacar atau semacamnya, tetapi justru orang yang frustasi dengan kemapanan. Kang Rojak ini sudah menjadi orang terpandang di Jakarta. Namanya setiap hari disebut di televisi, kadang juga koran.

Dia sudah mapan. Sangat mapan. Dia sudah banyak membantu teman, saudara, bahkan musuhnya pun ia bantu. Kang Rojak, tidak bangga dengan itu semua. “Hati saya sudah kering, saya perlu air untuk ini,” katanya menunjuk ke dada.

Siraman air untuk jiwa yang kering, bukanlah lagu-lagu yang menyayat. Bukan juga irama ajojing yang menghentak-hentak hingga badan terasa maju mundur serantak. Lantas apa Kang? “Yang bisa membuat saya tenang untuk melewatkan waktu malam. Yang membuat saya bisa tersenyum saat badan ini tertimpa musibah.”

Wah Kang Rojak ini seperti sedang ngelantur. Semakin sulit dipahami. “Yah pokoknya begitu. saya tidak mau berjalan gagah seperti selama ini. Saya ingin tenang melangkah kaki. Kapanpun saya tersungkur, saya akan tetap bersyukur,” katanya.

Saya makin pusing mendengar kalimat-kalimatnya. Maka, hari-hari pun berjalan cepat. Kang Rojak akhirnya berhasil membebaskan diri dari kehancuran martabat. Ah, tidak juga. Lebih pas, ia senang menjadi orang penyepi. Perenung.

Saya mengenalnya saat dulu bersama-sama ikut pelatihan kepemimpinan di SMA. Dia senior saya di SMA 36, Rawamangun. Dia kuliah di filsafat UII Jogjakarta. Nah, Anda jadi sedikit paham kan mengapa pembicaraan Kang Rohmat tadi agak sok filosofis?

Dia dulu pengagum Karl Max. Buku itu malah menjadi kitab pertama yang dikhatamkan di SMA. Dan, jangan kaget dia membaca tulisan mark itu dalam bahasa Jerman, bukan terjemahan.

Tetapi, setelah sekian tahun hidup sebagai orang kiri, dia sekarang seperti rindu akan sentuhan qolbu. Dia banyak merenung. Dulu suka menjadi penggerak organ-organ berhaluan kiri. Dia rajin menggerakan petani. Melakukan advokasi kepada mereka, bahkan mengajak dan membiayai mereka demontrasi.

Herannya, dia memilih istri yang taat beragama, dan berjilbab pula — sementara dirinya Marxis tulen. Nggak tahu kenapa. Ah, hidup memang misteri. Akhirnya keheranan saya terjawab, setelah mereka akhirnya bubar, cerai. “Minyak dan air memang nggak bisa menyatu,” katanya.

Setelah kehilangan istri. Semenjak jarang berjumpa dengan anak. Sedari dia meninggalkan semua ibadah, sejak saat itu Kang Rojak mengaku seperti mayat berjalan. “Nggak ada kemauan, nggak ada harapan,” katanya.

Jabatan direktur sebuah perusahaan yang cukup terkenal pun dia tinggalkan. Dia tinggalkan begitu saja. “Buat apa? Buat siapa? Toh semua kebutuhan hidup secara materi semua sudah berlebih,” katanya.

Ia ingin menebus. Ia ingin menarik diri ke belakang, tetapi dengan pikiran yang tenang. “Saya takut jika nanti ketika ruh sudah terlepas dari badan, saya tak mampu menjawab untuk ama umurku dipakai. Untuk apa hartaku digunakan,” katanya.

Proses hidup. Saya lebih memilih senang menyebutkan sebagai ketukan di hati yang rapuh. Melenting, ringan, tapi nyaring. “Biarkan saya ini menebus hari-hari yang telah lewat. Biarlah saya menebus tawa dengan linangan air mata,” katanya.

Kang Rojak berguguran air mata. Pipinya seperti terguyur air semangkuk. Saat kami duduk, di gubuk itu, Kang Rojak terus bergetar dadanya. Di gubuk ini, dulu Kang Rojak pernah dibesarkan. Di gubuk itu, Kang Rojak pernah kenal dengan apa yang disebut Alloh. Ibunya yang meniupkan ke dinding hatinya. Hanya, setelah makmur itu bergumul dengan dirinya, dia mencampakan ke tembok, menendang dan bersiul riang.

Saya memberi sebilah tisu. Ia menusukan tisu ke pelupuk mata. Ia mengerang. Ia merenggang. Kang Rojak tersungkur pingsan.
……
……
Saya hilangkan bagian-bagian setelah itu. Kini kita bertemu di alam nyata. Adakah Kang Rojak itu sedang bersandiwara? Adakah kita harus percaya kepada dongeng? Dengarkan.
“Pracoyo, kamu tidak harus mempercayai saya. Ketuk hati. Guncangkan hatimu! Apa kamu pernah serius mempersiapkan rumah setelah kematianmu, seserius kamu mengejar karirmu?”

Saya diam. Saya diam. Saya diam…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s