Rejiki Tidak Tertukar…


Kita berjalan-jalan ke Tarakan, Kalimantan Timur. Pulau ini kecil, tidak lebih luas dari Bekasi. Tetapi, kekayaannya, melebihi kota Bekasi. Ini bukan soal kekayaan alam, tetapi kekayaan hati. Kita akan berkenalan dengan sahabat saya, sebut saja Santoso. Orang kaya, belum tentu kaya hati kan?

Saya kenal, karena dikenalkan teman Trans TV. Kami berkenalan tidak di Tarakan, tetapi justru di Jakarta. Kala itu, ia sedang berkunjung ke Jakarta untuk urusan bisnis. Dia semula wartawan media cetak, terbitan Jawa Timur. Karena kemampuan jurnalistiknya yang lumayan, dia justru mendapat mandat untuk membuka satu koran di Tarakan dari big bos koran tersebut — maaf ini jika tidak salah ingat ya.

Koran berdiri, dan sukses. Jejak rekam yang bagus itu, membuat namanya naik. Oleh pemerintah setempat, Santoso diajak bergabung untuk merintis pembuatan TV lokal. “Saya buat proposalnya, saya bikin konsepnya. Akhirnya disetujui,” katanya. Meski dia minim pengetahun tentang media televisi, Santoso bisa cepat belajar. Ia rekrut beberapa orang yang sedikit tahu tentang dunia broadcasting. Akhirnya tv itu memang bisa berdiri. “Semua saya yang rancang, saya juga yang belanja alat-alat,” katanya.

Kami bertemu di rumah makan di bilangan Ancol, suatu malam. Dia sedang meeting dengan seorang suplaier alat-alat tv. Dia sedang merencanakan membeli beberapa kamera, dan beberapa alat yang sedang diperlukan.

Meski Santoso itu seorang jurnalis, karena tv lokal itu milik pemerintah lokal, maka ia harus menjadi pegawai negeri. Dia tentu senang saja. “Yang penting kan saya kerja profesional,” ujarnya. Dengan status sebagai pegawai negeri itu, Santoso mendapat keleluasaan untuk ikut menyusun anggaran tv lokal tersebut.

Saya, terus terang, baru bertemu dua kali. Saat pertama kali bertemu, kami ajak makan di warung nasi padang di Pasar Senen. Yang di Jalan Kramat itu. Murah meriah, sesuai dengan permintaan. Dia lahap sekali. Saya lebih lahap lagi.

Kami bertukar pikiran tentang dunia tv. Dia sempat bertanya tentang bagaimana meningkatkan performa karyawan. “Di tempatku itu Mas, jam 5 sore semua berhenti bekerja,” katanya. Dia sempat terperangah ketika kami ajak ke kantor. Kebetulan, sudah larut malam. Lebih jam 9 malam. “Biar nggak ada bos, mereka tetap tekun bekerja ya,” katanya. Santoso membandingkan dengan di kantornya,”Kalau saya pergi, wah yo semua santai,” katanya.

Setelah itu, saya hanya beberapa kali komunikasi dengan Santoso lewat sms. Dia banyak bertanya tentang pembuatan program, juga tentang alat-alat broadcasting. Soal program, saya Insya Alloh bisa memberi jawaban. Tetapi, soal peralatan, saya lebih banyak kurang tahu. Ya, saya lebih banyak tahu tentang kamera dan beberapa peralatan sederhana lain.

TV lokal itu akhirnya memang benar-benar maju. Artinya, bisa siaran rutin. Banyak mendapatkan order iklan dari perusahaan lokal juga. Meski begitu, Santoso mengaku secara profit, masih jauh. “Masih belum untung kok Mas,” katanya. Meski perusahaan BUMD, tv lokal itu sebenarnya dirancang untuk bisa memberi konstribusi untuk ABD kota tersebut.

Sejak hari Jumat, saya berada di Tarakan. Saya kontak teman-teman lain. Kebetulan, nomornya Santoso kok ya hilang. Akhirnya, saya melewati kantor tv lokal itu. Saya seperti dipaksa untuk berhenti, dan harus bertemu dengan Santoso. Tetapi, belum sempat juga masuk ke dalam gedung kantor, kabar buruk itu datang. “Mas itu sedang di penjara,” kata teman yang mengantar saya.

Waduh, kenapa ya? “Dia terlibat mark up anggaran,” kata teman tadi. Hmm, saya geleng-geleng kepala. Maksud teman tadi, Santoso sebagai direktur utama ditetapkan sebagai terpidana dalam kasus penggelembungan APBD untuk pos tv lokal tersebut. Jumlahnya, saya tidak tahu persis. Saya masih terus ternganga dengan informasi itu. Belum sepenuhnya percaya. Kok bisa teman ini tergelincir masalah seperti itu. Padahal, setahu saya, dia orang yang baik.

Ada teman lain yang terpeleset kasus semacam ini. Ada seorang kenalan yang, semula menjadi caleg PPP dari daerah Sumatera. Hasil perhitungan KPU, lima tahun lalu, sebenarnya partainya tidak mendapat kursi untuk di daerah tersebut. Yang berhak sebenarnya kader dari PKS. Tetapi, dia nekat membuat rekayasa. Pendeknya, dia memakai berbagai jalan agar bisa lolos menjadi anggota Dewan.

Ia berhasil menambah perolehan suara, tentu saja secara tidak sah. Akhirnya, ditetapkanlah ia sebagai anggota legislatif di Senayan. Barangkali, karena berangkat dengan kendaraan busuk, maka jalan yang ditempuh pun tak mulus. Ada saja yang menjadikan dirinya bermasalah. Terakhir kali, dia juga harus kejeblos ke penjara. Seorang teman yang dirugikan oleh anggota DPR itu berujar begini, “Coba, kalau dia dulu tidak maksa, tidak melukai orang lain, mungkin nasibnya nggak seperti itu,” katanya.

Bagi teman saya terakhir ini, jabatan itu tidak harus dikejar. Tidak harus dicari. Jika kita mencari, dan sempat melukai hati orang lain, cepat atau lambat ya akan terkena batu. “Nggak usah ngoyo Mas. Sudah ada kok yang ngatur. Usaha boleh, tapi nggak perlu mekso,” katanya.

Saya mengangguk, membenarkan. Rejeki kita nggak akan tertukar…

2 pemikiran pada “Rejiki Tidak Tertukar…

  1. Waah, dalem banget ceritanya Mas Coy. Mirip kisah saya, tapi bukan yang ‘maksa’ itu lhoo, saya malah ‘dipaksa’ untuk naik jabatan, meski merasa belum matang benar. Ya mudah-mudahan bukan cuma rezeki yang gak mungkin tertukar, skenario Allah juga, mudahan2 Allah punya niat baik untuk saya, mudah2an saya juga mampu menjalankan skenarionya.

  2. waduh mas terimakasih … tulisannya bikin kepikiran nih.kbetulan sy dan rekan2 lagi menyusun ingin membangun TV di kabupaten garut…ya dengan modal dikit,mudah2an cita2 kami berhasil,soalnya ini benar2 dari nol.perjuangan yang sangat melelahkan,semoga ALLOH SWT memberi jalan keluar yang terbaik….amin

    salam kenal
    dari bumi ALLOH
    garut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s