Muda, Kaya, Sabar….


Jangan pernah meludah ke langit! Nasehat ini perlu didengar baik-baik buat kita semua. Saya memperoleh nasehat ini, dari sebuah dialog di film, yang pasti saya lupa judulnya.

Mengapa meludah ke langit berbahaya? Ya, karena ludahmu akan mengenai wajahmu sendiri! Filosofinya, kita hanya akan mempermalukan diri sendiri. Nah, saya punya teman yang sudah lama menggenggam bara, dan ia tidak memuntahkan ludahnya ke langit.

Kita akan panggil dia dengan sebutan Rahmat. Orangnya masih muda sekali. Ganteng, gagah, cuma agak pendek. Dia pintar. Meski dari keluarga yang berkecukupan, dia tumbuh sebagai remaja yang pekerja keras. Penuh semangat. Semasa kuliah, dia dikenal sebagai aktifis kampus.

Selasai kuliah ia bekerja sebagai staf pribadi seorang pengusaha nasional. Cukup lama dia menjadi seorang staf khusus. Dasar otaknya cerdas, Rahmat cepat belajar. Yang paling segera ia tangkap adalah, kemampuannya menjalin lobi dengan pengusaha lain. Rahmat juga mendapat tugas membangun lobi dengan pejabat pemerintah.

Dasar aktifis, dia malah ambil kesempatan untuk menulis buku tentang seorang pejabat. Agak ironi. Kenapa? Karena si pejabat adalah orang yang secara “ideologi” sangat ia benci selama menjadi aktifis. Ya, dia seorang jenderal bintang empat. “Gua ini udah kenyang kena popor senjata,” katanya.

Ketika politik nasional gonjang-ganjing, Rahmat tampail kembali sebagai aktifis. Dia ikut menggerakan adik-adik, juniornya di kampus untuk turun ke jalan. Ia juga ikut aktif menyuplai logistik ke Gedung DPR.

Krisis politik, ternyata juga punya ekses ekonomi bagi Rahmat. Si bos, tempat Rahmat bekerja, terkena imbas. Perusahaan yang sudah demikian besar collaps, dan akhirnya satu per satu berguguran. Dari kantor yang megah dan di Jalan Sudirman, akhirnya pindah ke rumah sempit di sekitar Menteng.

Situasi itu membuat Rahmat berpikir keras. Diam-diam, dia menyiapkan sekoci untuk bisa bisnis secara mandiri. Berbekal dengan relasi yang cukup baik dengan beberapa menteri dan pejabat tinggi, Rahmat bisa mendapatkan sedikit kemudahan untuk berbisnis.

Satu per satu bisnisnya tumbuh. Dia akhirnya bisa memiliki kantor sendiri. Karena masih bujang, di tinggal di apartemen di daerah Cikini. Perusahaannya makin lama, makin mekar. Dari suplaier sampai jasa Taksi, hingga yang terbaru masuk juga ke bisnis media. “Alhamdulillah, sudah empat bulan ini jalan. Hasilnya lumayan,” katanya.

Dia juga baru saja dilantik sebagai komisaris independen di sebuah BUMN. Namanya sering muncu di koran, dan beberapa kali saya melihat dia tampil di TV di acara talkshow. Dia berkali-kali janji ingin berjumla dengan saya, tetapi saya hampir selalu ingkar janji. Dia juga begitu. Jadi, praktis, saya sudah ada sekitar 4 tahun ini tidak bertemu dia. “Habis bapak sibuk terus, mana mungkin bisa ketemu saya,” katanya, jelas ia menyindir.

Kami saling mendukung. Bila saya punya problem, biasa juga tukar pikiran dengan dia. Sebaliknya, Rahmat juga sering minta pendapat saya. Yang belum berhasil, adalah rencana saya mencarikan jodoh buat dirinya.

Umurnya, kalau tak salah, sudah akan 36 tahun atau lebih. Sampai sekarang masih membujang. Dia memang agak playboy. Berkali-kali saya tanya kapan akan menikah, dia selalu menjawab yang sama,”Tahun ini.” Itu sudah terjadi sejak mungkin tujuh tahun lalu.

Yang menarik dari dirinya, dia bisa menggabungkan antara idealisme dan profesional dalam berbisnis. Dia juga tidak mau melanggar prosedur. Bahkan, dia ditunjuk menjadi komisaris perusahaan itu juga karena mengemban misi khusus. “Saya tuh diminta ikut membenani perusahaan. Sudah banyak yang bocor,” katanya.

Dari sejak saya kenal, sampai sekarang, dia selalu kritis dengan semua pemerintah. Tak pandang bulu. Sejak Soeharto hingga SBY. Meski dia menjadi komisaris BUMN, tak menghalanginya untuk tetap konsisten pada trek yang benar. Rahmat mencoba menjadi rahmat untuk Indonesia.

Rahmat ini, bagi saya, bisa menjadi salah satu contoh orang yang sabar dalam ketaatan. Dia bisa tetap bening di antara air yang keruh. Ia bisa terus menjadikan dirinya untuk tunduk dan patuh dengan nurani.

Satu rutinitas yang sudah lama ia jalani, setiap tahun ia harus umroh. Dan, pelaksanaannya selalu memilih di bulan Ramadhan. Itu pun di 10 hari terakhir. Jadi, sangat jarang Rahmat berlebaran di rumah. “Nggak tahu kenapa, kalau saya nggak umroh, selalu saja ada yang kurang. Ada saja gangguan dalam diri saya, juga bisnis,” katanya.

Sore tadi, dia menelepon saya. Ingin tahu kalimat pertama yang dilontarkan? “Masih mendukung SBY, Pak Pracoyo,” katanya. Kalau dia sedang bergurau selalu memanggil saya seperti itu. Dia berkisah tentang banyak hal, sampai telinganya sakit.

Berbeda dengan saya, dia menelepon, sering kali sekedar untuk tanya kabar saja. Tidak lebih. Saya sendiri sering malu. Ya, karena jika saya yang menelepon, biasanya ada tujuan. Ada maksud. “Enggak, hanya kangen saja sama Pak Pracoyo saja,” katanya. Lagi-lagi berkelakar.

Gayanya tidak berubah. Padahal, sekarang hidupnya sudah luar biasa sukses. Rumahnya pun mentereng di wilayah Kemang. “Nggak pentinglah rumah di mana, yang penting itu dengan siapa saya berteman. Ya dengan Pak Pracoyo,” katanya. Saya hanya terbahak. Bisa saja dia membuat saya senang.

Satu pemikiran pada “Muda, Kaya, Sabar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s