Meninggalkan Kejayaan …


Anda bosan hidup? Ada yang memilih mengakhiri dengan bunuh diri. Jika, bosan miskin, pilihan apa yang bisa diambil? Banyak. Ada yang merampok. Ada yang mencari pesugihan. Ada pula yang korupsi?

Mau pilih yang mana? Rasanya kok nggak ada satu pun yang terpuji. Lantas, bagaimana dong jika kemiskinan terus mengombang-ambingkan bagai ombak di laut? Wah, ini yang berat. Pilihannya antara tetap mencoba bertahan dengan kemiskinan, atau dengan mencoba bekerja keras. Jika sudah banting tulang, dari pagi sampai pagi lagi, ternyata masih juga miskin, show what?

Ini yang tidak mudah. Ada satu teman yang memilih tetap miskin, meski peluang untuk menjadi kaya sebenarnya terbuka lebar. Kita sebut satu nama teman kita dengan Tanri. Dia ini seorang teman lama, seorang dosen, analisi, dan beberapa kali muncul di teve sebagai pengamat.

Saya dan Tanri, sudah berkawan sekitar 10 tahun. Kami dikenalkan oleh seorang teman di sebuah kafe di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan. Kami ngobrol ke sana kemari. Setelah perkenalan itu, kami menjadi sangat akrap.

Kami sering berkelakar tentang segala macam. Dia lebih banyak memiliki joke, dibanding saya. Sehingga, saya lebih sering menjadi pendengar. Dia tinggal di daerah Kebayoran Baru, seorang diri. Ia menyewa satu rumah, sekaligus tempat kantor pribadinya. Sedangkan keluarga, istri dan anak-anak tetap tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah.

Dia memiliki kemampuan untuk berteman dengan kalangan militer yang cukup jauh. Dia sering makam bersama jenderal, atau juga sesekali pergi dengan jenderal ikut kunjungan kerja atau kegiatan lain. Dia juga diminta seorang pengusaha untuk menjadi semacam think thank untuk riset perusaahaan itu.

Dari sini, dia bisa mengumpulkan banyak uang. Semula di Jakarta sering naik taksi, lantas memiliki sebuah mobil sedan yang cukup mahal. Dia juga sering ke spa atau cara relaksasi yang lain. Bajunya yang dulu terkesan kuno, sekarang semuanya bermerek, wangi dan juga bergaya. Bahkan, dasinya juga bikinan luar negeri. Jika muncul di tv tampak benar dia orang yang berkelas.

Bertambah lama, bisnis pengusaha itu melambung. Sangat tinggi malah. Di sinilah Tanri penuh konflik batin. Sebenarnya dia tidak suka dengan cara-cara mitra kerjanya itu dalam menjalankan bisnis. Kalau saya lebih senang menyebut “pengusaha handuk”. Ya, gambarannya seperti ini, Ia hanya modal handuk satu buah, tetapi bisa mengambil beribu-ribu liter air. Caranya, dia celupkan, diperas. Celup lagi, peras lagi. Begitu seterusnya. Ia hanya perlu “sumur” untuk mencelupkan handuknya.

Akhirnya sadarlah Tanri. Ia seperti berdiri di tebing jurang. Jika salah melangkah, badanya terpelanting dan akhirnya berkalang tanah. Sebelum itu terjadi, Tanri sudah berusaha untuk mengerem pengusaha handuk tadi untuk beralih profesi. Yang lebih terhormat, lebih penuh hasil guna.

Akhirnya Tanri memilih mengalah. Dia rela melepaskan semua kemewahan duniawi. Dia menyingkir dari gemerlapnya dunia, dan menyepi di sebuah kota kecil. Apalagi dia punya kegemaran baru, yakni dunia nujum.

Beberapa bulan lalu, saya mampir ke rumahnya. Tak ada yang berubah pada dirinya. Penuh tawa, bicarnya meledak-ledak, dan kalimatnya senantiasa tertata rapi. Ngobrol dengan Tanri, seperti kita sedang melakukan wawancara live di tv. Semua kalimat tersturktur dan tertata. Penuh isi.

Kami berdebat tentang mitos Nyi Roro Kidul, cukup lama. Saya sempat sedikit emosi, karena dia merasa benar sendiri. Oh ya, bagaimana dengan kehidupan sekarang? Yah, hidup yang sederhana. Ia menumpang di rumah mertua. Ia sekarang hidup dari mengajar, dan sesekali dari honor tulisan di koran atau majalah bila ada yang meminta. Ia berusaha untuk hidup dalam bingkai kebenaran. Ia tak muluk-muluk. “Yang penting cukup,” katanya.

Kami berpisah dengan kepedihan. Saat kami sedang seru-serunya berdiskusi tentang politik terbaru, tiba-tiba hujan lebat menghajar. “Di sini nggak pernah banjir kok,” katanya.

Entah apa yang terjadi, hujan seperti ingin memakan omongan teman kita tadi. Benar-benar lebat. Dalam sekejab, beranda rumahnya terendam air. Air bahkan mulai juga menerobos ke dalam rumah. Akhirnya, saya harus pamit. Bukan saya tak mau membantu, tetapi karena ingin memberi kesempatan untuk menanggulangi banjir di rumahnya. Apalagi, saya juga harus mengejar pesawat ke Jakarta. “Ya, pokoknya terima kasih,” katanya. Meski dalam hantaman banjir, dia tetap tersenyum.

Beberapa pekan setelah di Jakarta, saya membeli sebuah majalah terbitan Ibukota. Di majalah itu, ada satu tulisan tentang teman sejawat, yang menjadi pengusaha tadi. Saya sms Tanri, dia lama tak membalas. Ketika sms itu datang, saya terperangah dengan jawabannya. “Saya sudah duga: lambat atau cepat dia akan tersandung. Tapi, saya tidak menduga kasus yang menjeratnya begitu buruk,” tulisnya. Kalimat aslinya saya lupa, tapi isinya seperti itu. Dan, di bagian akhir dari baku kirim sms begini. “Pracoyo, orang tersandung itu tidak pernah oleh batu yang besar. Selalu batu kecil.”

Saya cukup lama menebak isi dari pesan itu. Yang ia maksud pasti bukan begini kan? “Iya kalau batu besar, namanya menabrak batu.” Jadi, apa makna pesan tadi? Anda bisa memberi jawaban…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s