Yang Hilang, Yang Tercoreng…


Yang Hilang, sulit ditemukan. Yang tercoreng masih bisa dihapus. Hanya, bila yang hilang itu harga diri, mau dicari ke mana itu? Belum lagi yang tercoreng itu adalah wajah diri kita karena malu, mau dibawa ke mana ini muka?

Sabar, ini bukan drama. Ini hanya sebuah frasa kehidupan, sebelum menjadi kalimat yang utuh. Ada setidaknya tiga teman yang mengalami ini. Teman pertama, seorang pengusaha. Saya kenal dia cukup lama, sekitar 13 tahun lalu. Saat itu saya wartawan politik, sedangkan teman ini (lebih baik kita kasih merek dia Taufan) masih sebagai staf khusus seorang menteri.

Saya sering menerima info-info penting seputar politik. Dia sangat sering memberi bocoran rahasia tentang berbagai peristiwa tingkat tinggi. Kami juga sering bertukan info. Dia perlu masukan dari kacamata seorang jurnalis tentang menteri yang didampinginya. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana menghindar dari sorotan publik.

Seiring itu, dia karirnya terus menanjak. Dia punya reputasi yang baik di kalangan pejabat tinggi. Saya tenggelam di pekerjaan yang berbeda dengan dulu. Saya tidak pernah lagi bisa kongkow-kongkow menggosip politik bersama dia di kafe. Selain itu, waktu Taufan kian mepet. Meski begitu, komunikasi masih sering terjadi. Dia beberapa kali minta tolong ke saya. Saya pun pernah minta bantuan dia. Yang saya dapat ternyata hanya janji. Tapi, tak apalah, setidaknya dia memberi harapan.

Lama tak ada komunikasi, tiba-tiba Taufan benar-benar terkena angin topan. Dia terjebak skandal cinta tingkat tinggi. Dia nyaris runtuh. Yang hilang harga dirinya. “Apa yang kamu dengar?” katanya saat saat memberi dorongan mental agar tak jatuh lebih dalam. Wajahnya tercoreng. Sebagai orang penting, dia hampir saja penuh coretan hitam di sekujur mukanya. “Nggak apa-apa, saya masih bisa atasi,” katanya.

Berikutnya, dia dikabarkan terlibat upaya pembunuhan. Wah, yang ini saya tidak bisa menghubungi dia. Saya hanya bisa komunikasi dengan abangnya, yang juga teman saya. “Saya ikut prihatin Mas. Kalau nengok dia, saya diajak ya Mas,” kata saya.

Teman yang kedua, kita panggil Halilintar. Dia seorang anggota legislatif. Dia saya kenal, juga karena hubungan wartawan-nara sumber. Akhirnya kami sempat berkenalan akrap. Kami pernah pergi ke beberapa kota bersama, dengan rombongan dia. Halilintar ini, mirip saya. Latar belakang kehidupan tak seputih salju, dan background ekonomi keluarga pas-pasan. Halilintar ini terjebak aksi memeras seorang pengusaha. Dia selamat, karena dilindungi seorang pejabat tinggi partai tempatnya berkiprah. Jika tidak ditolong, maka satu kesibukan saya bertambah, yakni menbesuk dia di penjara.

Teman yang ketiga, seorang pengacara andal. Kita panggil dia Pokrol Bambu. Dia bekas mentor saya dalam ruh HMI. Kami sempat hilang komunikasi, sebelum akhirnya bertemu lagi setelah saya menjadi jurnalis. Dia pernah ditahan polisi, karena dugaan pencemaran nama baik.

Ketiga teman ini, bagi saya, suatu contoh orang-orang yang tidak tahan menghadapi cobaan. Taufan, misalnya. Dari strata hidup, sebenarnya dia sudah mengalami lonjakan kelas cukup tinggi. Ya, jika mengikuti deret ukur, dia melompat dari angka 6 ke angka 9. Bahkan mungkin lebih.

Semua kebutuhan duniawi, sudah bisa dicukupi. Dia memiliki semuanya. Rumah beberapa buah, semuanya mewah. Mobil begitu pula. Perusahaan makin menggurita. Rupanya, semuanya itu belum cukup. Dia masih terus naik dan naik. Mendaki dan mendaki. Tapi, ia lepas pada tali pengaman. Lupa akan beban yang harus ditanggung.

Teman yang kedua, Halilintar ini politisi. Dia orang Palembang dan pernah menjadi anggota DPR. Dia orang yang, sebenarnya, tidak terlalu cerdas. Di bidang apapun. Bidang politik dan lobi, dia hanya mengandalkan patron wong kito. Barisan orang-orang Palembang.

Yang dia lupakan, politik tidak ada kawan sejati. Yang ada hanya kepentingan yang sama. Nah, tahun ini dia tercecer dari barisan orang yang berhak maju menjadi caleg. Dia tidak sabar menghadapi godaan perempuan. Ada beberapa kasus, tapi tak usahlah diungkapkan di sini. Pendeknya, teman yang ini, terpeleset karena wanita. Karena untuk memenuhi memenuihi selera bermain-main dengan lawan jenis itu, dia pernah meminta uang ke pengusaha yang sedang terlibat kasus hukum.

Mengapa ketiga orang ini tidak perlu dicontoh? Selain mereka contoh yang kurang bagus, mereka ini juga pemegang fislosofi yang penting cepat. Lebih cepat? Belum tentu selamat lho. Coba bandingkan dengan teman mantan menteri ini,”Saya begini sajalah. Lebih enak. Nggak mau neko-neko,” katanya.

Setelah tidak menjadi menteri, ia punya peluang untuk menjadi anggota DPR. Tetapi, dua-duanya, ia lepaskan. “Saya lebih senang jadi orang seperti sekarang ini,” katanya. Sudah lama ia hidup makmur. Dua anaknya lulusan luar negeri, dan sudah mulai bisnis sendiri. Kini, teman ini, sedikit terhibur dengan kegiatan sosial.Dan, sesekali ngetrail di hutan, atau di alam liar. “Bukan hanya ketangkasan yang harus saya pelajari, tetapi juga kesabaran mengendari motor. Sabar memilih trek, memilih lokasi. Pokoknya, ya seperti hiduplah,” katanya.

Hm, mengendarai motor trail, crossover, kok ya bisa disinergikan dengan hidup. Memang, memetik pelajaran sabar, bisa di ladang manapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s