Bosan Kaya …


Adakah orang di kolong langit ini yang tiba-tiba bosan kaya? Jika ada, mungkin harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Bagaimana tidak, bila sekarang ini orang berlomba, bahkan berperang hanya agar bisa kaya. Lho kok, ini yang sudah kaya tiba-tiba ingin miskin?

Nah, ini istimewanya. Ternyata, rasa bosan kaya itu beragam cara melampiaskannya. Yang paling kemarin adalah orang-orang menghambur-hamburkan uang, bahkan harta mereka, hanya untuk mengejar apa yang dinamakan kursi anggota Dewan. Ya, sebenarnya, mereka menghamburkan uang dengan harapan akan menjadi anggota DPR, agar bisa meraup uang lebih banyak lagi. Tapi, dia tidak sadar, sebenarnya, sedang menjalani proses bosan kaya.

Saya akan ceritakan dua kisah yang sungguh tragis. Saya percaya ribuan orang yang mengalami nasib seperti teman kita ini. Yang pertama, kita ke Jakarta Timur. Di Partai Golkar ada teman saya yang cukup lama menjadi anggota DPR. Saya kenal dia, ketika masih menjadi wartawan di PANJI Masyarakat.

Dia orangnya kecil, cukup pendek. Dia punya kemampuan lobi yang luar biasa, juga kemahiran membangun jaringan politiknya luar biasa. Teman kita ini, sebut saja Anwar, sudah biasa menjadikan seseorang menjadi dirjen, bahkan jabatan lain. Dia jago lobi lintas partai. Jadi, tidak sedikit orang yang berhasil dia tolong hingga menempati posisi penting di pemerintahan. Bahkan, menteri pun bisa Anwar atur untuk ini dan itu.

Nah, dalam pemilu kemarin, dia duduk di nomor yang mestinya aman. Jika mengikuti pemilu sebelumnya, Anwar bisa melenggang ke Senayan. Coba lihat bagaimana dia berusaha. Dia datangi tidak kurang 450 tempat di Jakarta Timur. Dia rangkul berbagai organisasi tingkat kampung, sampai yang skala propinsi. Dia ketemu mubalig, ulama, juga pendeta, agar bisa mendapatkan dukungan dari mereka.

Anwar juga membanjiri Jakarta Timur dengan bendara wajah dirinya. Spanduk, baleho dan entah apa lagi sudah dipasang di sana-sini. Tim suksesnya sudah pula sampai di tingkat RW. Apa yang dia peroleh? “Kayaknya berat Coy. Nggak tahu di mana yang salah ini,” kata tim suksesnya.

Padahal, apa yang kurang? Semua langkah sudah dilakukan. Dana yang dihabiskan saja Rp 2 Miliar! “Itu yang tercatat, yang tidak masih ada lagi,” katanya. Nah, dia sudah bosan kaya bukan?

Sebenarnya, dia belum lama kaya. Secara ekonomi dia melesat ketika Abdurrahman Wahid menjadi presiden. Dia menjadi salah satu orang kepercayaannya. Salah satu menteri adalah hasil godokan lobi Anwar ini. Dia sempat membangun town house di Duren Sawit, tetapi sepertinya kurang begitu sukses.

Dia, setahu saya, juga belum banyak beramal. Belum banyak berderma untuk bekal setelah kematian. Tapi, dia memang membuang uang karena bosan kaya.

Cerita lain, dari teman main tenis. Teman ini punya kakak ipar yang juga mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan, pemilihan Jakarta Timur juga. Yang ini, nomor urutnya bertengger di barisan tengah dari belasan caleg.

Menurut cerita teman saya, kakaknya itu seorang pengusaha. Dia seorang penguasaa yang bergerak di bidang alat-alat kesehatan. “Biasalah suplaier untuk departemen,” kata teman saya.

Karena duduk di urutan tengah (5 atau 6), dia harus berkelahi dengan teman separtainya sendiri. Yang terjadi adalah rebutan tim penggalang massa. Meski dia pengurus DPD dari partai, tapi dirinya kurang mengakar di tingkat bawah.

Akibatnya, dia bisa menembus ke tingkat bawah. Sebagai gantinya, dia berusaha membangun tim sukses sendiri. Dia tidak sadar, sebenarnya sedang dikelilingi orang-orang opurtunis yang hanya ingin mencari keuntungan sesaat. Ingin morotin, kata yang lebih tepat. Dia pasang bendera dan alat peraga yang lain, sekitar Rp 500 juta. Yang paling banyak, dia terpukul saat pengerahan massa di kampanye terakhir di Senayan.

Kala itu, dia mendapat laporan dari tim suksesnya akan didukung massa 2.000 sepeda motor berbocengan. 300 bus Hiba, dan sekitar 500 bus Metromini. Dengar dari ceritanya, saya sudah gampang menebak orang ini sedang ditipu. “Saya sudah peringatkan, tapi dia nggak peduli,” kata teman saya.

Ya, catatan di atas kertas memang mudah. Yang keliru, dia tidak bisa mengukur: mengumpulkan metromini sebanyak itu juga bukan perkara mudah. Apalagi massa, sebagai penumpang. Yang dijanjikan para tim suksesnya, semua itu adalah pendukung si calon tadi. Apa yang terjadi? Makanan kotak, yang sudah terlanjur dia siapkan, masih sisa 2000 lebih. Itu pun sudah dihambur-hamburkan. Pendeknya, dia tertipu habis. Motor yang datang juga nggak lebih dari 200-an sepeda motor.

Toh dia belum kapok juga. Malam menjelang pemilihan, timnya menggunting dalam lipatan lagi. Mereka minta sejumlah uang untuk “ngebom” di Serangan Fajar. Bagaimana hasilnya? “Yang milih dia cuma sekitar seribuan orang,” kata teman saya.

Angka itu jauh dari cukup untuk bekal ke Senayan. Maka, si Kakak Ipar tadi lunglai, setres, dan jantungan. Dana yang dihabiskan lebih dari Rp 2 Miliar. Saya hanya komentar pendek, “Kalau uang itu dipakai untuk membangun masjid, sudah berapa masjid yang jadi?”

Teman saya tertawa. “Persoalannya, kakakku itu sudah melewati itu,” katanya. Maksudnya, si kakak sudah merasa cukup bekal untuk ke akherat, jadi tidak perlu lagi beramal. Wah, ini yang luar biasa lagi.

Kenapa? Ada satu kisah seorang ahli ibadah, yang tinggal di sebuah pulau. Pekerjaan dia hanya ibadah, dan ibadah. Semua kebutuhan di pulau itu sudah cukup untuk hidup. Ia hanya turun ke telaga untuk bersuci, minum dan makan buah delima. Buah satu-satunya yang ada di pulau itu. Selebihnya tidak ada aktifitas lain kecuali ibadah dan ibadah. Itu dilakukan seumur hidup.

Ketika di akherat, kata sebuah riwayat, dirinya berhadapan dengan Alloh. “Masukkan hambuku ini ke surga, karena rahmat-KU.”

Si Fulan, ahli ibadah tadi terkesima, dan tidak terima. “Duhai Alloh Yang Maha Bijak, kenapa hamba dimasukkan ke surga bukan karena ibadah hamba?”
“Ibadah yang kamu lakukan itu tidak cukup untuk membalas satu rahmat-KU saja, yakni rahmat melihat.”
Si Fulan tertunduk malu. Coba, berapa nilai nikmat melihat sepanjang hayat yang bila dinilai dengan uang. Bukankah orang yang kena sakit mata, harus berlari ke dokter. Itu hanya sekali sakit.
“Masukkan hamba-KU ini ke neraka,” kata Alloh.
Maka Si Fulan pun duduk tersungkur. Ia minta ampun atas kesombongannya. Ia akhirnya tersadar, dirinya belum cukup masuk surga dengan ibadah yang dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s