Setelah Menjadi Artis …


Manusia paling aneh itu artis. Dia mati-matian berusaha terkenal, tetapi setelah terkenal, berusaha juga untuk tidak dikenali. Nggak percaya, tanya saja orang-orang yang sudah berlabel artis itu. Coba ketika sedang tidak manggung, dia malas bertemu banyak orang. Ia ingin menjadi manusia biasa.

Saya punya teman yang sempat menjadi artis. Dia teman satu kabupaten. Dia seorang penyanyi yang tidak terlalu terkenal. Albumnya, hanya beberapa, itu pun tidak ada yang meledak. Hanya satu lagu, yang dikenal banyak orang.

Saya pernah diminta tolong untuk menjadi moderator ketika teman itu, kita panggil dia Joko, meluncurkan album baru. Ya, moderator jumpa pers tidaklah sulit, karena yang hadir juga teman-teman sendiri. Yang sulit adalah menjual sesuatu tentang si Joko ini. Saya berusaha mati-matian membual tentang kehebatan musik dan lirik lagunya.

Akhirnya, jumpa pers termasuk sukses. Ukurannya sangat mudah juga, berapa banyak media yang memuat berita tentang si Joko. ternyata, hampir semua teman yang datang melansir berita tentang album baru si Joko ini.

Apakah Joko bisa menikmati sukses? Pasti. Tapi, dia tidak bahagia. Pertama, “Saya baru kehilangan mobil Mas. Mobilku dicuri,” katanya. Padahal itu mobil baru pertama kali ia miliki. Juga bukan mobil baru.
Tapi, Joko tak mengeluh, tidak menyesal. Tidak juga menyalahkan Sang Kholik atas musibah ini. Dia malah instrospeksi, mungkin dirinya ada yang salah.

Selang beberapa bulan, dia menelepon saya, hanya sekedar memberi tahu dirinya sudah bisa membeli mobil lagi. “Alloh sudah mendengar doa saya, saya baru beli mobil lagi Mas. Lebih bagus dibanding yang hilang,” ujarnya. Saya tentu ikut senang.

Dari penjulan album baru? Ternyata tidak. “Saya dapat order membuat iklan,” katanya. Joko memang multi talented. Selain menyanyi dan mencipta lagu, memainkan musik, memimpin band, dia juga mengerti tentang audio visual. karena itu, semua video klip lagu-lagunya pun semua dibuat sendiri. Luar biasa. Joko juga bisa mengedit musik yang ia rekam.

Yang membuat sedih kedua, dia pusing karena CD bajakan lebih banyak daripada yang diproduksi. Meski yang ini, dia ada unsur bangga juga. Kok bisa? “Kalo dibajak Mas, berarti lagu kita laku,” katanya.

Cobaan berikutnya, istrinya terkena cancer kelenjar pangreas. Uang hasil penjualan album baru, habis untuk membiayai istrinya. “Habis gimana lagi ya. Saya pasrah,” katanya. Benar, istrinya tak lama kemudian meninggal dunia. Sekitar lima tahun setelah positif terkena kangker, sang istri menghembuskan nafas terakhir.

Saya bisa membayangkan betapa berat Joko menanggung itu semua. Dia berusaha mencari uang, merawat istri, juga mengurus anak. Saya sendiri, hanya bisa mengurus yang pertama. Mengurus istri, saya termasuk yang payah. Ya, bagaimana mungkin bisa diandalkan, saat istri saya mau operasi karena janin yang dikandungnya di luar rahim, saya malah asyik mencari sesuap nasi. Saya pulang setelah istri selesa operasi. Benar-benar suami tak bertanggung jawab.

Bandingkan dengan Joko ini. Dia bisa mengurus semuanya. Dia pun tidak pernah mengeluh. “Saya sudah berusaha, Alloh punya kehendak lain,” katanya. Ketika istrinya meninggal, dia sms saya. Tapi, sayang sekali saya tidak bisa hadir. Sekarang saya menyesal karena tidak membantu teman yang sedang terkena musibah.

Ujian berikutnya, dia harus membesarkan tiga anaknya seorang diri. Sudah beberapa tahun belakangan, dia single parent. Dia belum mau menikah lagi. Alasannya sederaha. “Saya masih menyayangi almarhum istri,” katanya. Luar biasa. Ada lelaki yang mewujudkan cinta ke perempuan dengan cara seperti ini. Apa dia tidak hendak menikah lagi? “Nggak tahu Mas. Lihat nanti saja,” katanya.

Tapi, ujian yang paling berat, ternyata bernama kesuksesan. Teman ini mati-matian untuk bisa terus eksis. Dia membuat acara teve dengan menampilkan dirinya sebagai icon dan pengiring musik. Berkali-kali, sempat pindah station tv, tetapi toh akhirnya tenggelam juga. “Saya sudah berusaha, kok ya nggak sukses juga,” katanya.

Album-album berikutnya jeblok. Nggak ada yang “nendang.” Dia menciptakan lagu untuk orang lain juga gagal. Joko punya ide mengaransemen lagu-lagu Rinto Harahap, bahkan Oma Irama dengan corak yang disukai, ini pun tak membuahkan hasil yang bagus. Belakangan dia mencoba cara lain. “Saya baru meluncurkan album lagu-lagu rohani dengan langgam Jawa,” katanya. Saya tidak tahu, yang ini bagaimana hasilnya.

Meski dia sempat terkenal, Joko tidak pernah larut dalam heboh gemerlap dunia artis. Jangankan nyabu atau narkoba, merokok pun tidak. Dia juga tidak suka dugem. Jadi, meski dia orang yang cukup terkenal, tetap saja bersahaja. Tidak gila popularitas. Tidak jatuh dalam amukan ketenaran.

Sekarang teman saya hampir tidak pernah disebut oleh media massa. Terakhir kali sekitar dua tahun lalu dia tampil di TVRI, mengisi satu acara musik. Setelah itu, saya lama tidak mendengar kabarnya lagi. Beberapa pekan lalu, dia menelepon saya. Ia hanya sekedar ingin tahu kabar, dan bertanya tentang kemungkinan mendapatkan job dari Trans7.

Saya tertegun, dan diam. Bukan bidang saya, bisik hati saya. Ingin sekali membantu, tetapi tidak mampu. “Ya nggak papa,” katanya. Dia masih tetap ramah, dan tak mengeluh.

Orang seperti ini, tidak terkena post power syndrom. Syndrom ketenaran tak ada pada dirinya. Ia mengalir, seperti melodi yang pernah ia buat. song1

Satu pemikiran pada “Setelah Menjadi Artis …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s