Memecat Diri Sendiri…


Tulislah sebuah kata yang amat Anda benci! Apa yang Anda tulis? Saya tidak hendak menebak hasil jawaban, layaknya mereka yang mengaku bisa membaca pikiran orang. Saya hanya akan memberi kemungkinan: wanita, uang, atau korupsi?

corruption  (www.thepanamareport.com)

corruption (www.thepanamareport.com)

Belakangan tiga kata itu kok yang mondar-mandir di koran dan televisi. Itu lho kasus yang menyangkut ketua KPK. Aha, saya jadi ingat seorang teman lama, yang mirip dengan bapak brengos besar itu. Saya akan ceritakan dengan sedikit di-edit, karena untuk menjaga nama baik teman.

Sebut saja namanya Nanang. Dia ini manager sebuah perusahaan swasta. Dia lebih senior dari saya beberapa tahun. Saya kenal, karena dikenalkan teman. Kami pernah merancang satu pekerjaan, tapi gagal. Dia orangnya pandai, banyak bergaul dengan orang penting, dan juga punya kemampuan komunikasi yang baik.

Terus terang, meski lama berteman dengan Nanang, tapi tidak ada satu pun rasa respek atau sejenisnya yang saya sampirkan ke pundaknya. Awalnya, karena sama-sama punya latar belakang budaya yang sama, saya mencoba dekat dengan Nanang. Dia sering curhat tentang pekerjaannya, saya pun demikian. Ya saling berbagi pengalaman. Apalagi bidang pekerjaan saya dengan dia sama, bidang media cetak. Hanya perusahaan yang beda.

Kelebihnan Nanang itu, meyakinkan orang lain untuk mendengar omongannya. Dia berbicara selalu serius. Sangat serius. Sangat jarang dia tertawa, senyum pun hanya terkadang. Dia juga bisa menekan orang lain untuk tunduk dan patuh, juga mencari formula agar perhatiannya pada dirinya terus. Wajahnya sangar, kotak, dia sangat percaya diri.

Pola pikirnya sangat taktis. Setahu saya, dia orang yang ambisius, dan tidak sabaran. Sewaktu karirnya mentok, dia pernah minta saran ke saya. “Gua bete. Gua mau risign,” katanya. Saya membesarkan hatinya. Istrinya juga meminta saya menasehatinya. “Kalau Abang keluar, mau pindah ke mana? Mau bisnis apa?” saya bertanya. Nanang tidak segera menjawab. “Ya nggak tahu, yang penting gua keluar dulu,” katanya.

Saya harus mewayakinkan Nanang, di depan istrinya, agar jangan gegabah mengambil langkah. Dia akhirnya menunda, dan belakangan memutuskan untuk tidak pindah. Tak lama, nasibnya membaik. Dia dipromosikan sebagai asisten manager, setara dengan redaktur eksekutif di tempat saya dulu.

Setelah itu, dia sangat percaya diri. Dia memangun kerajaan kecil. Semua anak buah yang nggak loyal, atau berbuat sedikit kesalahan yang menyinggung perasaan dirinya, langsung dipecat. Lebih tepat, dia menyarankan ke managemen untuk memberhentikannya. “Gua nggak suka sama orang yang dikasih tahu malah ngotot,” katanya.

Bagi saya, dia sebenarnya lebih bersifat otoriter dibanding memimpin. Anak buah Nanang, tidak sedikit teman saya di lapangan. Mereka sering berkeluh kesah tentang Nanang yang sangat impulsif. Nanang juga suka cari muka ke para direksi. Menurut cerita teman-teman, Nanang ini ternyata berlidah panjang. Dia pandai menyenangkan pemilik penerbitan itu. Dia ke bawah menjejak, ke atas menjilat. Wah klop. Dia menjadi pribadi yang komplit.

Nanang selain ambisius, juga termasuk maruk dan bahkan rakus terhadap harta. Itu terbukti ketika dia menjadi manager. Dia punya sedikit kuasa untuk memilih vendor-vendor yang bisa memasok jasa dan material ke perusahaan. Vendor itu dibujuknya agar bisa kerja sama dengan dirinya. Nanang minta jatah preman dari setiap transaksi yang dilakukan vendor itu. Tidak besar, tetapi bila diakumulasi, jumlahnya ternyata mencengangkan juga.

Dia juga pandai melobi para pengiklan untuk pasang iklan di majalah itu. Diam-diam, dia juga mengutip komisi dari perusahaan secara terselubung. Semula, dua langkahnya itu tidak diketahui perusahaan. Sampai pada satu ketika, dirinya tak berkutik.

Kala itu, ada vendor yang diberhentikan secara sepihak oleh direksi. Si vendor ini, sebutlah perusahaan PT Sobekhabis, protes karena dia selama ini sudah memberi uang muka. Nah, ini dia. Nanang pun diproses. Dia hanya diancam, mengaku atau dilaporkan ke polisi. Akhirnya Nanang mengaku, dan meminta maaf kepada pemilik perusahaan.

Rupanya, pemilik perusahaan tidak terima begitu saja. “Gua disuruh ngembaliin uang,” katanya. Dan, nasib Nanang? Kita lihat pengakuannya sendiri: “Gua hanya ditanya: ‘kalau yang melakukan ini anak buahmu, apa yang akan kamu lakukan?’ Ya gua jawab, ‘dipecat’. Eh, gua detik itu juga harus risign. ‘kalau begitu, sekarang kamu pecat dirimu sendiri’ kata bos gua,” katanya.

Wah, senjata makan tuan ya? Padahal, kalau dia sedikit bersabar untuk mengumpulkan harta, mungkin hasilnya, akan beda. Dari teman-teman yang menjadi anak buah Nanang berkisah, Nang sebenarnya akan segera dipromosikan menjadi wakil pemimpin redaksi. Sayang, takdir telah mendahuluinya.

Adakah Nanang menyesal? Ya, ketika dia cerita kepada saya menangis. Dia sangat sedih, terpukul dan malu. Berhari-hari dia murung. Dan, lagi-lagi saya harus membesarkan hatinya.

Saya hanya gagal meyakinkan dirinya untuk bersabar dalam menjalankan jabatan. Sabar dalam kesuksesan itu, bagi saya, lebih berat dibandingkan bersabar karena miskin. Buktinya, ketika dia pindah kantor, dia korupsi lagi. Hasilnya lumayan. Rumahnya berubah total, megah dan mewah. Jauh dibanding rumah terdahulu, sangat kontras. Hunian yang pertama, kecil. Masih besar rumah saya yang hanya berukuran 182 meter. Yang sekarang, dua lantai dan luasnya dua kali luas tanah saya. Saya hanya membatin, dari mana rumah itu dibangun. Saya pasti tidak akan berani bertanya.

Yang bikin lebih sedih lagi, kali ini dia lebih berat, karena menghamili anak buahnya. Jadi, Nanang dipecat, juga harus menikahi stafnya itu. Bagaimana istrinya? Saya berharap istrinya tidak membaca tulisan ini. Jika membaca, boleh jadi, dia juga akan meminta cerai. Apalagi, Nanang sekarang tak jelas pekerjaannya.

Hmm, coba andai Nanang sedikit bersabar. Mungkin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s