Mimpi Itu Mahal…


Mengejar Mimpi

Mengejar Mimpi


Mimpi itu mahal. Tak hanya mahal malah, bisa juga mengantarkannya ke penjara. Saya akan kisahkan tentang satu teman, yang terlalu bersemangat mengejar mimpi, hingga berakhir di penjara.

Kita sebut dia Banjar. Orangnya tinggi besar, dan tegap. Rambutnya lurus ke depan. Jika bicara, dia masih dengan logat Jawa yang medok. Dia asli Semarang, Jawa Tengah. Dia ke Jakarta, untuk mengejar mimpi. Sama seperti Surip yang merantau ke Jakarta dan terdampar menjadi tukang pijat di Jakarta.

Yang membedakan, meski sama-sama mengejar mimpi, dua orang ini berakhir berbeda. Banjar ini masih berdarah biru, dan dari keluarga terpandang di Semarang. Rumahnya tak jauh dari kawasan elit di daerah itu, daerah atas. Dia ke Jakarta karena ingin menjadi menteri. Ya, benar, ingin menjadi menteri.

Saya kenal sudah lebih dari 12 tahun. Dulu, kami sempat akrap. Setidaknya seminggu sekali bertemu. Sekedar kongkow-kongkow di kafe. Dia sangat ambisius. “Suatu saat, aku akan jadi menteri,” katanya suatu ketika.

Dia berbicara seperti itu bukan tanpa perhitungan. Pergaulan sehari-hari selalu dengan menteri. Dia pernah beberapa kali menjadi orang kepercayaan menteri. Dengan orang militer, dia juga banyak kolega. Bukan kelas kroco, tetapi jenderal. Beberapa jenderal malah bisa dia telepon, dan diminta untuk ini dan itu. Manut saja.

Selepas lulus Lemhamnas, karirnya memang melesat naik. Dia sudah makin sulit ditemui. Rumahnya semula ngontrak, kemudian bisa membeli rumah di Kebayoran Baru. Tidak lama kemudian dia pindah ke rumah yang jauh lebih mewah, bisa seharga Rp 5 M. Dia juga pekerjakan hampir semua kakaknya dalam satu badan usaha. Ya, perusahaan keluarga.

Terus terang, saya pernah ditawari untuk menjadi salah satu staf dia di satu yayasan yang akan dibuat. Tetapi, qodarulloh, gagal. Ada saja yang menyebabkan tidak jadi. Saya beruntung, karena tidak segera mengiyakan tawaran itu.

Lobi dengan pejabat, ternyata dimanfaatkan Banjar untuk kepentingan dirinya. Dia banyak mendapatkan order bisnis dari beberapa pejabat. Dan, setahu saya, dia lebih banyak menjadi makelar jabatan. Dia biasa mendorong seseorang untuk mengisi satu jabatan tertentu. Tentu saja, dia meminta imbalan sejumlah orang.

Suatu ketika, saya datang ke kantornya. Dia berkisah, dirinya sebentar lagi akan menjadi komisari BUMN. “Menurutmu, aku cocok di perusahaan mana?” katanya. Saya sebut sejumlah perusahaan BUMN yang besar, dia hanya tertawa. “Ya, doakan saja,” katanya meminta.

Jika dia mau, mestinya bisa. Hanya saja, jabatan komisaris mungkin dia pandang tidak strategis. Tidak bisa banyak bermain. Dia berambisi masuk ke jajaran direksi. Entah kenapa ambisinya itu gagal. Setelah itu, saya hanya mendengar tentang kabar-kabar negatif tentang dia.

Pertama, teman-teman yang sejak lama dekat dengan Banjar, satu per satu mundur teratur. Ada yang tidak mau terkena getah, ada yang tak lagi cocok. Ada juga yang takut. “Wah langkahnya sudah makin sulit diikuti,” kata seorang teman. Bahkan, seorang kerabatnya, beberapa hari lalu cerita, dirinya sudah lama putus kontak dengan Banjar. “Ya, sudah sama-sama tua. Dia tak peringatkan nggak mau, ya aku milih pergi,” katanya. Padahal, kerabat ini masih saudara kandung.

Ya, Banjar terus mengejar mimpi. Kekayaan sudah didapat, kekuasaan sudah, meski hanya sedikit. Tak usah saya sebutkan apa jabatannya, khawatir dia membaca ini (he…he…, takut). Dia ini orang yang sangat pandai. Punya jaringan luas, dan relasinya ada di mana-mana.

Bagaimana cara mengejar mimpinya? Ini yang menyeramkan. Selain dia berani menghancurkan karir lawan-lawannya, dia juga pandai menghindar dari sergapan teman atau lawan. Licin, dan lihai. Maka, teman-temannya jarang yang langgeng. Selama masih bisa menguntungkan, dia akan selalu bina terus. Tidak peduli jabatan atau pekerjaan teman tersebut.

Saya pernah mencoba menjadi penengah antar Banjar dengan koleganya dia yang sama-sama berasal dari Semarang. Jika saya sebut namanya, Anda pasti kenal. “Tolong dong, belakangan Banjar kok nggak mau aku temui,” katanya. Akhirnya, saya sampaikan, dan keduanya terus berdamai lagi.

Selain itu, Banjar ini sangat berani spekulasi untuk mengejar mimpi. Seorang teman, yang sama-sama pernah dekat dengan Banjar, beberapa bulan lalu bercerita begini. “Banjar itu sudah keluar Rp 3 Miliar agar bisa menjadi menteri,” kata rekan ini.

Kok bisa? Rupanya, Banjar tahu akan ada pergantian menteri dari Partai Belang Hijau. Dia melobi tokoh partai itu agar Banjar yang bisa mengisi pos yang ditinggalkan seorang menteri tersebut. Si tokoh partai sudah setuju, tetapi Presiden SBY ternyata memilih calon lain. Sudah tentu Banjar sangat kecewa.

Saya pernah dikontak tengah malam, Pukul 01.00 lebih. Saya tidur lelap. Karena handphone terus-menerus (setelah saya lihat ada miscall 5 kali dari Banjar), saya terpaksa bangun. Dia minta agar dibantu ketemu wartawan-wartawan. Intinya, dia dan rekan akan menunjukkan satu keputusan politik tingkat tinggi. Saya bantu sebisanya.

Setelah itu, saya tidak pernah kontak. Baru satu hari, saya mendapat telepon dari kakaknya, Banjar ditangkap polisi. Kenapa? “Nggak tahu, katanya sih menghilangkan ….,” katanya. Saya nggak percaya.

Nah, saya hanya merenung, jika saja Banjar berhenti mengejar mimpi, dia pasti tidak akan begini. Andai dia mensyukuri yang dia dapat, yang diraih, yang sudah dimiliki, wah pasti hatinya sudah luar biasa nyaman.

Menurut Ibnu Mas’ud (seorang Sahabat Nabi Muhammad), bersyukur dan bersabar itu separuh dari iman. Siapa yang bisa bersyukur atas semua keadaan, dia termasuk orang-orang yang beruntung. Tetapi, terkadang, mimpi memang mahal.

2 pemikiran pada “Mimpi Itu Mahal…

  1. jadi mungkin maksudnya, kita wajib punya mimpi dan mengejarnya. namun jgn terlalu ambisius dgn mengejar mimpi itu lewat segala cara yg mungkin tdk baik juga. atau mungkin juga tergantung niat kita dalam mengejar mimpi ya…

    salam,,,

  2. Ya, bermimpi adalah sebagaian dari cita-cita. Tetapi, jika kita terbius oleh mimpi dan mengorbankan aqidah dan akhlak, maka tunggu hasil akhir yang akan mengecewakan.
    tks atas kunjungan dan commentnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s