Terjerat Mimpi …


said no to drugs

said no to drugs


Bangunlah. Jangan terlalu lama mimpi. Jika mimpi berkepanjangan, bisa jadi tidur juga kebablasan. Saya punya teman yang, sampai sekarang, masih menyesal. Panggil dia Wawan. “Saya kehilangan anak, justru di saat dia mulai saya banggakan,” katanya.

Kami, sekitar 11 tahun lalu, duduk di teras belakang rumah Wawan. Meski rumah kontrakan, tetapi cukup asri dan luas. Semilir di belakang rumah, membuat kami tak henti-henti tertawa. Kami diskusi tentang karir masing-masing. Dia sedikit lebih tua daripada saya. Januari kemarin, saya genap 40 tahun. Sedangkan teman saya ini, tahun ini sudah hampir kepala 5.

Dari pembicaraan karir, kami tukar informasi tentang keluarga. Kala itu, anak saya masih bayi, belum bisa bija jalan. Sedangkan Wawan, memiliki dua anak. Yang besar lelaki, sudah SMP. Yang kecil perempuan, masih duduk di SD. Tiba-tiba Wawan berhenti bercerita. Ia seperti tersekat.

“Anakku kena narkoba,” katanya. Pendek. Setelah itu, dia diam cukup lama. Saya hanya menunggu, tidak enak untuk menanyakan lebih lanjut. Benar-benar kasihan, dan prihatin. Dia menghisap rokoknya dalam sekali. Asapnya mengepul, menghalangi wajahnya dari sorot lampu yang agak temaram.

“Saya yang salah,” katanya. Saya masih diam. “Dia semula ngeluh karena saya jarang di rumah,” katanya. Wawan ini memang seorang pebisnis yang ulung. Ia sering terbang ke sana ke mari. Dia juga sering mengumpulkan teman-temannya di rumah. Nah, di saat anaknya masa pertumbuhan itu, Wawan justru sibuk mengejar karir. “Saya sering marahi dia. Saya menyesal,” katanya. Ya, Wawan sedang mengejar mimpinya. Mimpi tentang dunia yang bisa dia genggam dengan gampang.

Wawan lantas berkisah, suatu kali dirinya sedang merokok, tiba-tiba anaknya mencobanya. Dia marah luar biasa. Bahkan, sempat memukulnya. Tetapi si anak tenang saja. “Kenapa Adi dilarang? Papa juga ngrokok,” jawab anaknya. Wawan malu. Sejak saat itu, dia membiarkan anaknya merokok. Padahal, masih kelas 6 SD. Ini cerita Wawan. Adi, anak lelakinya, juga sering mencari-cari perhatian di saat tetamu Wawan berkumpul di rumah. “Itu yang membuat dia kecewa. Saya lebih banyak bermain dengan teman-teman,” katanya.

Setelah belajar merokok, Adi juga senang bermain musik. Ini mewarisi bakat dari ayahnya. Wawan juga seniman. Selain berbisnis, Wawan pemain band amatiran. Sesekali dia dan teman-temannya ngejamz di depan rumah. Wawan main gitar, dan sesekali bisa bernyanyi. Meski suaranya kacau, dia muka tebal. Wong dia yang punya alat-alat, nggak ada yang berani menghentikannya.

Cobaan berikutnya mulai datang. Adi, rupanya diam-diam membentuk band sendiri. Nah, dalam pertemanan itu, Adi berkenalan dengan narkoba. Semula hanya cimeng, terus ke ekstasi. Setelah itu, ia sering nyuntik. Wawan tentu saja naik pitam, ketika mendapat informasi anaknya telah menempuh jalur yang salah. “Tapi saya terlambat,” kata Wawan.

Terlambat? Rupanya Adi sudah terlalu akut nyandunya. Adi sudah sering mencuri uang orang tuanya. Sekolah juga sudah amburadul. Anaknya lama tidak masuk sekolah. Dan, ia baru tahu setelah sekian lama. Istrinya sengaja menyembunyikan perilaku anaknya, karena takut Wawan menghajar anaknya. “Dia mengikuti saya,” kata Wawan. Wawan lantas mengaku, sewaktu Adi kecil, Wawan masih mengkonsumsi ganja, dan sesekali nyuntik. Rupanya, Adi merekam adegan-adegan ketika si bapak mulai terbius mimpi.

Wawan berhenti bercerita. Matanya berkaca-kaca. Dia nyalakan lagi rokok. Saya masih menunggu ceritanya. “Semua salah saya,” kata-kata itu diulang beberapa kali. Wawan mengaku dirinya mencoba untuk mengajak Adi ke jalan yang benar. Dia sudah tidak lagi merokok di depan Adi. Wawan juga tidak lagi mengkonsumsi narkoba. “Saya sudah berhenti,” katanya.

Kami malam itu berpisah dengan suasana yang tidak nyaman. Wawan larut dalam sedih. Saya coba tenangkan dia. Setelah pertemuan itu, saya lama tidak bertemu. Saya hanya bisa mengirim ucapan semangat lewat telepon. Beberapa kali, saya mencoba menanyakan kabarnya. “Udah. Sudah baik kok,” katanya suatu kali.

Petir itu akhirnya menyambar. Pagi-pagi sekali, saya mendapat info anaknya si Wawan meninggal. Saya segera curiga, pasti ada yang tidak beres. Tapi, saya minta maaf sekali tidak bisa datang ke rumahnya. Saya hanya ucapkan bela sungkawa lewat telepon.

Selang beberapa hari, saya bisa bertemu dengan Wawan. Tanpa diminta, Wawan lantas cerita hari-hari terakhir bersama anak lelakinya. “Dia datang ke saya minta maaf. Dia berjanji akan sekolah lagi,” katanya. Wawan pun senang. Ibunya pasti demikian.

Entah apa yang terjadi, beberapa hari setelah kejadian itu. Adi terlihat sering murung dan mengurung diri di kamar. Dari istrinya, Wawan tahu Adi sedang jengkel karena bertengkar dengan teman-teman satu bandnya. Mereka gagal rekaman. Mungkin karena dipresi itu, Adi lantas mencoba mencari mimpi lain. Ia mengejar mimpi yang satu, ke mimpi yang lain. Sayang semua bukan di alam nyata, dia lalui dengan menghayal. Malam itu, Adi menyuntik di kamar mandi. Wawan mengetahui sudah sangat terlambat. Tubuh anaknya sudah kaku, dengan suntikan masih di lengannya.

Wawan menjerit sejadi-jadinya. Dia benturkan kepala ke dinding. Dia pukul kepalanya sendiri. “Habis. Habis. Habis. Semua sia-sia,” katanya. Bagi Wawan, apa yang dia kejar selama ini, sia-sia belaka. Ini karena anak yang diharapkan menjadi penerusnya sudah tiada. Dan, jalan hidupnya begitu gelap.

Kini, setelah sekian tahun, Wawan mulai bangkit. Dia mengubur masa lalu. Ia hidup bersih. Benar-benar bersih. Tidak sekedar berhenti merokok. Dia juga meninggalkan bisnis yang agak abu-abu. Sholat sangat rajin, naik haji juga sudah dia lakukan. “Saya akan menebus kesalahan. Saya akan didik anak yang masih sebaik-baiknya. Nggak boleh terulang lagi,” katanya.

Setelah itu, Wawan mulai menjalani hidup sehat juga. Semua bentuk makanan yang koresterol dan lemat tinggi, dia hindari. Padahal, dulu ia sangat suka menikmati soto terpedo. “Kamu mesti ingat,” katanya,”makanan itu enak hanya ketika di lidah. Setelah tertelan, itu bisa menjadi penyakit,” katanya.

Saya tersenyum. Ini pasti bukan mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s