Kala Ditinggal Anak (Dari Oyos)


Sedih. Prihatin, lantas hanyut dalam kegamangan. Inilah peraasan saya setelah membaca reply dari teman saya, Oyos Suroso. Dia teman kuliah, dan sekarang menjadi jurnalis di Lampung. Di menanggapi tulisan saya, Di Kala Ditinggal Anak. Ini adalah tulisan Oyos.

“Ceritamu itu hampir seperti kisah hidupku. Dua tahun lalu, 21 April 2007, anak bungsuku diambil oleh-Nya ketika baru menghirup udara dunia selama 9 jam.

Aku sudah menyabar-nyabarkan diri. Tapi,tapi sampai sekarang belum bisa juga. Aku paham betul, anak adalah titipan Allah. Namun, tetap saja sampai sekarang aku dilanda kemasygulan, kejengkelan pada nasib, dsb. Aku sering berpikir, Tuhan itu semena-mena.

Aku masygul karena waktu dalam kandungan, si bungsu kami rawat dengan baik. Tiap minggu periksa ke dokter, makanan bergizi. Namun ada yang alpa: sebulan sebelum istriku melahirkan baru ketahuan bahwa gula darah sewaktu istriku sangat tinggi. Itu kami ketahui justru dari seorang bidan. Bukan dari dokter kandungan yang sering kami datangi.

Yang menjengkelkan, saat mau melahirkan, dokter masih mau menuruti kemauan istriku untuk lahir normal tanpa caesar. Padahal, si dokter sudah tahu bahwa anakku sangat besar dan tak mungkin bisa lahir normal.

Dengan setengah marah saya minta dokter untuk segera siapkan operasi. Pada detik-detik itulah aku merasa ditipu oleh tim operasi. Saat istriku berada di ruang oprasi, para asisten dokter mendatangiku untuk minta tanda tangan persetujuan steril.Katanya, istriku yang minta. Aku tahu dengan disteril berarti istriku tidak akan bisa hamil lagi. Dengan berat hati aku tanda tangani persetujuan itu.

SIngkat cerita, operasi berlangsung lancar. Anakku lahir dengan selamat dengan berat yang mengagetkan: 5,3 kg! Tapi,ada yang membuatku sedih: anakku harus dibawa ke ruang inkubator. Kata para perawat, anakku ada kelainan: tangisnya tidak kencang. Sebelum masuk ruang inkubator anakku diinvus.

Dunia rasanya kiamat saat itu karena tidak tega melihat anakku ditusuk jarum. Istriku belum tahu kalau bayinya bermasalah karena dia belum siuman.

AKu hanya bisa memandangi bayiku dari balik jendela. Sebelum magrib, aku pulang untuk mandi. Keponakanku yang gantikan aku jaga.

Selepas solat magrib tiba-tiba aku menangis. Aku teringat bayiku. Tiba-tiba keponakanku menelepon,”Pak Lik, cepat ke rumah sakit, anakmu tidak bisa bernapas!”

Badanku tiba-tiba bergetar. Dunia terasa mau kiamat. Sambil berurai air mata aku kebut sepeda motorku sekencang-kencangnya. Gak tahu spedometer menunjuk angka berapa. Yang pasti aku sangat ngebut karena ingin cepat sampai rumah sakit.

Sampai di RS, aku lihat dokter dan perawat sedang memberikan bantuan pernafasan kepada bayiku dengan sebuah alat. Aku tak tega melihatnya. Aku keluar ruangan sambil berurai air mata. Beberapa menit kemudian, seorang perawat mengabarkan bayiku sudah dipanggil-Nya.

Dunia terasa seperti kiamat. Apalagi sejak lahir sampai bayiku meninggal, istriku belum tahu seperti apa wajah bayinya. Apa yang harus aku katakan kepada istriku?

Malam itu, ditemani mertua, saudara-saudara istriku, dan teman-temanku, kubawa jasad anakku pulang. Selain menyiapkan pemakaman, saya dan mertua berunding soal cara memberitahu istriku agar dia tidak syok. Mertuaku pesan agar istriku tidak dikasih tahu dulu. Tunggu biar dia sehat betul. Awalnya aku setuju saja. Namun, seusai solat subuh aku berubah pikiran: sebelum para pelayat datang, aku harus sudah ngasih tahu istriku. Itu karena aku merasa tak kuat menerima beban. Aku juga khawatir, kalau baru kukasih tahu belakangan justru tidak akan baik. Aku tak sanggup berbohong terus-menerus.

AKhirnya, pagi itu aku ajak mertuaku ke rumah sakit menengok istriku. Sampai di kamar istriku, dia langsung bertanya,”Anak kita bagaimana Pak?”

“Dia baik-baik saja…” jawabku.

“Baik bagaimana? Sekarang di mana? Kamu jangan bohong Pak!” desak istriku sambil menangis.

Akhirnya, aku pun tak bisa menyembunyikan kabar buruk itu. Dua jam lebih aku memberikan pemahaman kepada istriku agar ikhlas dan bersabar.

Ya, aku meminta istriku ikhlas dan bersabar. Tapi aku sendiri tak bisa ikhlas dan sabar. Sampai sekarang.

Terkadang aku merasa bersyukur karena sudah dikarunia dua anak. Yang sulung laki-laki, 10 tahun, kelas 4 SD. Adiknya cewek, 6 tahun,baru masuk SD. Aku merasa bersyukur karena masih banyak orang yang belum dikarunia anak meski sudah lama menikah. Namun, aku sedih kalau melihat anak kecil yang kira-kira berumur 2 tahun.

Ya, kalau anakku hidup pasti sudah 2 tahun dan bisa berlari-lari kecil. Sampai sekarang aku masih sering menangis diam-diam kalau teringat si bungsu. Ia memang tidak bersama kami. Tapi aku merasa dia tetap ada. Makanya, kalau seorang teman bertanya berapa anakku, aku akan selalu bilang: anakku tiga, tapi yang bungsu kami tidak dibolehkan merawat…

Sampai sekarang aku masih belum siap untuk melihat tiga tempat: 1. tempat praktek dokter kandungan biasa kami konsultasi, 2. rumah sakit tempat istriku melahirkan, 3. ruang tempat si bungsu di rawat.

Yo, aku orang Jawa yang antipoligami. Aku mencintai istri dan anak-anak. Dengan kondisi istriku gak mungkin bisa hamil lagi aku jadi membenci dokter yang mengoperasi istriku. Kadang juga membenci Tuhan….”

Oyos, ceritamu sangat tulus dan jujur. Belum terlambat untuk berhenti menyesali. Belum terlambat untuk tidak lagi menyalahkan orang lain. Belum terlambat untuk stop membenci Tuhanmu. Ini memang berat. Tetapi, percayalah, Alloh memberikan yang terbaik untuk kita. Percayalah apa yang telah terjadi adalah takdir, yang sudah sesuai dengan skenario yang dibuat oleh Pemahat Alam ini.

Kita harus berprasangka baik, berpikir positif atas kejadian itu. Misalnya, siapa tahu dengan hanya dua anak, dirimu bisa membanbantu keluarga yang lain. Tanpa kehadiran anak ketiga, dirimu menjadi mendekatkan diri kepada Sang Kholik. Atau, cerita surat Al Kahfi di Al Quran itu. Tiba-tiba Nabi Khidir membunuh anak kecil. Baru belakangan Nabi Musa tahu, ternyata anak itu jika dewasa akan menyesatkan orang tuanya. Hmm, mudah-mudahan bermanfaat.

(OYOS, minta izin mempublish replymu ya. Tks)

2 pemikiran pada “Kala Ditinggal Anak (Dari Oyos)

  1. salah satu bentuk meratapi mayat adalh tak henti2nya menyalahkan diri sendiri, orang lain bahkan penciptannya. marilah kita belajar ridho terhadap ketentuan Alloh, ini termasuk daripada beriman kpd takdir yang baik maupun yg buruk.

  2. Saya seorang ibu yang juga mengalami peristiwa yg hampir sama dengan saudara Oyos. Saya baru saja kehilangan putri ketiga kami, yang hanya 11 jam hidup di dunia tanggal 26 Agustus 2011 yg lalu, berat 4 kg,panjang 50cm. Melahirkannya juga lewat proses operasi caesar. Dan yang saya sesali sekarang karena saya juga langsung disteril waktu operasi caesar kemarin. Terus terang sampai sekarangpun saya masih sedih, ada perasaan menyesal, menyalahkan diri sendiri, dokter dan perawat yang menangani saya. Tapi saya coba ikhlas , sabar dan tawakkal pd Allah SWT, kalau ini semua sudah takdir. Mungkin kita hanya diberi amanah Allah membesarkan dan mendidik 2 anak saja. Insyaallah anak kita yang masih suci besok di akhirat kelak yang menjadi penolong kedua orang tuanya. Amin. Saling menguatkan ya pak, salam buat istri pak Oyos, kita senasib. Kalau boleh saya minta no telpon istri pak Oyos, untuk saling curhat supaya kuat menghadapi cobaan ini,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s