Sabar Itu Ada Batasnya…


 

 

Sabar itu ada batasnya. Apa iya begitu? Jika sudah di luar batas, boleh marah atau memukuli orang lain? Pertanyaan itu, tidak akan saya ajukan ke Anda, tetapi kepada seorang teman yang beri cobaan cukup berat. Kita panggil dia Handayani. Dia ini kenalan lama, yang telah kenyang dengan berbagai uji kesabaran. Euit, uji kesabaran? Jangan terlalu membesar-besarkan, gak usah lebai.

 

No Drugs! Jangan Mabuk!

No Drugs! Jangan Mabuk!

Handayani sudah lebih dari 20 tahun menjanda. Usianya sekarang sudah 50 lebih. Lebih pas sebenarnya dia senior saya di bidang jurnalistik. Dia bercerita, dirinya menikah karena ”kecolongan”. Hamil lebih dulu sebelum nikah, di saat masih kuliah.. Setelah mengarungi keluarga bersama cowok idamannya lama enam tahun, akhirnya bahtera keluarganya tenggelam.

 

Penyebabnya, soal hal sepele. Komunikasi. Karena perbedaan usia yang cukup jauh, Handayani 19 tahun, suaminya sudah 30 tahun, membuat mereka tidak bisa berbicara dengan satu nada. Mungkin yang satu tenor, yang satunya bass. Padahal, semasa pacaran, menurut Handayani, komunikasi itu lancar-lancar saja. ”Setelah menikah tiba-tiba terasa ada gab. Nggak nyambung. Kami sering bertengkar,” kata Handayani. Itu dia, Handayani mengaku, dulu ia seperti kehabisan kesabaran. Jika dia marah, semua alat masak bisa berubah menjadi ”alat musik”.  Perlengkapan kerja suami, bisa menjadi alat lempar yang taktis. Perabot rumah tangga juga sering diuji kekuatannya. Dibanting, ditendang, dilempar. ”Itu karena saya nggak bisa sabar,” katanya.

 

Apa penyebab pertengkaran? Semua hal bisa menjadi persoalan. ”Saya yang lebih sering  banyak bikin masalah. Coba bayangkan, saya masih kuliah, tapi harus mengurus anak. Harus melayani suami juga. Pusing!” katanya. Kemarahan itu ia tumpahkan kepada suaminya. ”Semua omongan dia, rasanya kok menyakitkan,” katanya. Dia baru tahu, setelah bercerai, sedikitnya ada penyesalan, karena apa yang dulu sering diutarakan suaminya  untuk bersabar itu ada benarnya. ”Tapi, ya sudah terlambat,” katanya.

 

Dia yang masih sangat muda saat bercerai. Dua anaknya, semua ikut suami. ”Anak saya dua-duanya udah gadis, belum ada yang menikah,” katanya. Anak yang tua sudah 31 tahun, adiknya 29 tahun. ”Saya menyesal bercerai. Kedua anak saya sampai sekarang juga takut menikah,” katanya. Padahal, Handayani sudah berulang kali meyakinkan anak-anaknya tidaklah seburuk yang dia alami.

 

Sekarang Handayani sudah menikah, tetapi tidak diberi anak. Sedangkan bekas suaminya, masih membujang, hidup dengan dua anak perempuannya. Tiga tahun lalu, Handayani berkisah tentang cobaan yang harus dipikul. Anak perempuan tertangkap polisi sedang nyabu. Anak ini sebenarnya baik. ”Mungkin salah pergaulan,” katanya. Karena bekas suaminya kerja, si anak tumbuh tanpa pengawasan orang tua secara baik.

 

Meski semua masalah di-handle bekas suaminya, tetapi Handayani tak pelak ikut pusing juga. Dia harus berkunjung ke tahanan setiap hari. Harus mengurus keperluan anaknya. ”Saya nggak apa-apa mengurus anak. Yang bikin saya sakit hati itu para aparat itu, semua uang,” katanya.

 

Kali ini, dia tidak bisa melampiaskan kemarahan seperti dulu lagi. Dia lebih banyak berusahan mengendalikan diri. ”Sudah tua,” katanya. Cecelia mengakui, penyesalan ikut membuatnya lebih matang. ”Saya tidak mau anak-anak seperti saya,” katanya. Handayani pernah berjanji pada dirinya untuk tidak meluapkan amarah di depan anak-anaknya lagi. Kedua anaknya, sewaktu kecil sudah terlalu sering menerima amarah. Jika dia ribut dengan suami, Handayani ikut pula merembet ke anak-anaknya. ”Itu sebabnya anak-anak nggak ada yang mau ikut saya,” katanya.

 

Kesempatan untuk menebus kesalahan kepada anaknya kini tengah menanti. Dia tahanan, dia menjadi pendengar yang baik. Ia menghibur anaknya, memberi harapan, memberi semangat, dan juga teman. Ia senang karena anaknya sudah mau bercerita tentang pacarnya – sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelum masuk tahanan. Menurut anaknya, si pacarlah yang mengajari nyabu. Ketika anaknya bercerita belum lama ini menggugurkan kandungan, dia menangis sejadi-jadinya. Cecila menangis bukan mengutuk anaknya, justru memarahi dirinya sendiri. ”Semua salah saya. Semua salah saya,” katanya.

 

Ia dan bekas suaminya, berusaha mati-matian agar kasus anaknya tidak sampai ke pengadilan. Ia relakan harta bendanya. Bekas suaminya pun begitu. Tapi, karena polisi sedang giat menghancurkan Narkoba, kasusnya tetap ke Pengadilan. Sebelum ke pengadilan, dia telah ”berjumpa” dengan jaksa. Si Pak Jaksa, rupanya senang dikunjungi. Karena itu, dia berpesan agar disediakan sekian juta agar si anak bisa dituntut ringan.

 

Dia tak kuasa menolak. Bekas suaminya pun begitu. ”Yang penting anak saya bisa segera bebas,” kata Handayani. Saat mengurus anak ini, dia menjadi sering bertemu dengan bekas suaminya. Handayani mengaku, ia sangat iba dengan bekas suaminya, karena tak ada perempuan pendampingnya. ”Dia sangat sakit hati sama saya, tapi juga sangat sayang sama saya. Itulah yang membuat dia tidak mau menikah lagi,” ujarnya.

 

Terus terang, kata Handayani, dia berulang kali meminta maaf kepada bekas suaminya. Ia ingin rujuk lagi. Ingin memperbaiki diri, tetapi bekas suaminya sudah tidak lagi percaya. Sekarang yang ada penyesalan, dan penyesalan. ”Sampai akhir hayat, saya akan menyalahkan diri saya,” katanya.

 

Handayani,  menderita batin. Dari segi materi, dia cukup berlebih karena suaminya yang sekarang cukup berada. Ia hanya miskin hati. Beruntung, sejak anaknya masuk ke tahanan, Handayani mendapat hidayah. Ia menjadi rajin sholat, sesuatu yang dulu sangat jarang dilakukan. Handayani juga sering mendengarkan ceramah radio Rodja, 756 AM. Di situ ia mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang agama.

 

Kini, anaknya tidak lama lagi akan bebas. Di saat penantian itu, rumah tangganya juga mulai goyah. Rupanya, langkah-langkah dia yang ikut mengurus anak bersama bekas suaminya itu, membuat suaminya yang sekarang cemburu dan marah. Berbeda dengan dulu, sekarang dia menjadi penginjak rem, bukan gas. Jika suaminya sudah marah, ia hanya bisa diam. Ia banyak istigfar. ”Roda sedang berputar,” kata Handayani.

 

Suaminya juga punya temperamen yang keras. Sifat aslinya muncul. Beberapa kali ia mendapat perlakuan yang menjurus pada KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). ”Saya tak membalas dengan marah,” katanya. Sebaliknya, ia malah menjadi lebih lembut. Handayani, mengaku, tidak ingin biduknya tenggelam lagi. Ia ingin keluarganya sekarang tetap utuh, meski tidak memiliki momongan. Ia ingin, meski sekali, berbakti kepada suami.”Jika saya bercerai lagi, pasti anak-anak nggak ada yang mau menikah,” katanya.

 

Ujian lain kembali datang. Anak yang kedua, baru saja mendatangi dan berkeluh kesah tentang kecenderungan yang ada dirinya. Si anak kedua mengaku, tidak tertarik dengan lelaki. Sebaliknya, dia sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis. Ya, anak keduanya ternyata lesbian. ”Mendengar pengakuannya, langit di atas saya runtuh,” kata Handayani.

 

Akhirnya, Handayani mengajak suaminya untuk bertemu dengan bekas suaminya.”Saya sengaja mengajak dia, biar dia nggak salah paham,” katanya. Mereka bertemu. Meski pada awalnya dingin, tapi kemudian bisa cair. ”Saya mengerti perasaan bekas suamiku,” kata Handayani. Pendeknya, mereka sepakat untuk mencari jalan keluar agar anak keduanya tidak terlalu jauh terjerumus ke jalan yang salah. Salah satunya, mereka akan mencari psikiater dan juga pengobatan alternatif. ”Pokoknya, agar anak saya bisa hidup normal,” katanya.

 

Yang mendapat tugas untuk membujuk Handayani. Bekas suaminya merasa nggak sanggup. ”Bekas suami saya menangis. Baru sekali itu saya melihat dia menangis. Waktu anak yang pertama ditangkap polisi, dia tegar,” kata Handayani. Dan, yang lebih menggembirakan lagi, Handayani berhasil membujuk bekas suaminya untuk menikah. Handayanilah yang akan mencarikan istri. “Mungkin konyol, tetapi ini satu langkah saya memperbaiki masa lampau. Buat nebus kesalahan,” katanya.

 

Dia berharap, bila bekas suaminya menikah, kedua anaknya akan lebih baik. Mereka juga akan menikah. “Doakan aja ya,” katanya. Saya hanya tertegun. Dia menceritakan ini, beberapa kali. Lebih sering lewat chatting. Saya senang, ikut mendoakan, juga sedih.  Saat menuliskan untuk Anda, saya hanyut dalam lamunan.

 

 

Satu pemikiran pada “Sabar Itu Ada Batasnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s