Karena Karangan Itu…


Suatu ketika, saya diminta atasannya untuk ikut rekruetment karyawan. Tugas mencari karyawan, khusus untuk reporter dan kameramen. Proses seleksi dilakukan di Kampus UGM, Jogyakarta. Saya tidak sendirian, tetapi bersama rekan-rekan yang lain.

 

Semua peserta yang sudah lulus test psikotes, lantas diberikan kepada user. Untuk itu, kami dari satu devisi berkumpul di satu ruang dan menyeleksi para peserta yang berasal dari Jawa Tengah dan Jogjakarta. Semula satu calon karyawan dihadapi dua atau tiga orang. Semakin sore, kami mulai kelelahan, sementara peserta justru kian banyak. Akhirnya, satu calon dihadapi satu pewawancara.

 

Proses berjalan lancar. Hingga menjelang Magrib, datang seorang perempuan yang agak malu-malu. Saya ajukan pertanyaan standar. ”Tolong ceritakan tentang diri kamu.”

 

Perempuan itu, masih muda. Badannya kurus, rambuat tergerai lurus. Wajahnya lonjong, dan senyumnya terus mengembang. Sebelum menjelaskan tentang dirinya, ia meletakan tas ke pangkuannya. Saya menebak, dia mulai nervues. Mulai sedikit gemetar.

 

”Saya… nama saya Bina, Albina Setiawati (jika saya tidak salah ingat). Saya lahir di Gunungkidul tahun… (saya lupa). Saya baru lulus dari jurusan filsafat di UGM. Saya pernah aktif di pers kampus,” katanya. Setidaknya begitulah yang saya ingat. Garis besarnya seperti itu.

 

Mengapa kamu ingin jadi wartawan? Dia berpikir sejenak. ”Ee…ee, karena saya senang bekerja di luar, dan saya suka jalan-jalan,” katanya.

 

”Kalau hanya modal itu, banyak orang yang suka seperti itu. Itu para sopir antar kota, lebih banyak. Tapi mereka nggak ingin jadi wartawan,” jawab saya.

 

Dia mungkin tidak menduga saya akan memberi jawaban seperti itu. ”Bukan begitu Pak. Saya ingin menyalurkan bakat saya, saya suka menulis,” katanya.

 

”Anak saya juga suka menulis,” saya meledeknya.

”Iya Pak. Maksud saya, saya suka mengarang. Saya beberapa kali menulis cerita pendek, dan artikel,” jawabnya.

 

Entah kenapa, saya kok kepikiran agar ini anak membuktikan dirinya pandai mengarang. ”Oke. Saya mau bukti. Coba kamu karang tentang diri kamu, sejelas-jelasnya. Sejujur-jujurnya,” tantang saya. Saya kasih waktu 30 menit untuk datang kembali dengan bukti karangannya.

 

Dia menyanggupi. Sambil menunggu gadis mengerjakan tugas, saya mewancarai peserta yang lain.   Belum selesai mewawancarai seorang peserta, dia sudah datang dengan membawa satu lembar tulisan. Ketika saya lihat karangannya, saya agak kaget. Bukan mutu karangannya, tetapi dengan isinya.

 

Secara garis besar, isi karangannya itu kira-kira begini : Aku ini anak  terakhir dari empat bersaudara. Ayahku sudah meninggal empat tahun lalu. Ibuku seorang guru, tapi sekarang sudah pensiun. Aku kuliah filsafat, karena  aku memang menyukai. Tapi  aku lebih menyukai karang-mengarang. Selain aktif di pers kampus, Aku juga aktif menulis cerita pendek dan artikel yang aku kirimkan ke media di Jakarta atau Jogjakarta. (Saya ingat ada bagian yang dicoret-coret hingga tidak terbaca)

 

Aku sudah bukan gadis lagi. Aku memiliki dua anak.  Aku menikah saat  semester pertama, karena  aku hamil lebih dulu. Setelah melahirkan aku meneruskan kuliah. Untuk kebutuhan hidupku  dan anak-anak,  aku masih menumpang ke orang tua. Suamiku  juga belum bekerja. Dia masih kuliah. Beberapa waktu lalu, kami bercerai, karena aku nggak tahan. Suamiku pemalas. Tidak mau bekerja, dan lebih senang nongkrong di senat. Dia aktifis kampus.

 

Cukup lama saya membaca karangan perempuan itu. Meski sudah selesai, saya perlu mengulang bagian-bagian akhir dari karangannya itu. Gila, pikir saya. Ini perempuan tegar benar. Dia mencari pekerjaan untuk dua anaknya. Terus terang, saya ingin membantu. Tapi, saya nggak mau hanya karena kasihan, lantas menerima dia begitu saja. Jika menuruti perasaan, toh saya sendirian, saya dengan mudah bisa mengatakan,”Oke kamu diterima” atau memberi catatan di lembar calon karyawan SANGAT DIREKOMENDASI.

 

Saya bisa merasakan betapa orang ini sebenarnya tampak ceria, hanya untuk menutupi kesedihan. Mungkin hanya karena untuk keperluan wawancara pekerjaan saja dia tampak memaniskan wajahnya. Ia sembunyikan kepedihan itu. Yang saya hargai adalah kejujurannya. Kalau dia mau, sebenarnya, status janda dengan dua anak di usia yang masih sangat muda (belum ada 25 tahun), bisa saja ia sembunyikan. Saya pasti sangat percaya.

 

Akhirnya saya malah lebih banyak bertanya tentang dirinya, bukan tentang kemampuannya. Bukan tentang bakatnya. Saya tanya, mengapa dia bercerai, apa tidak kasihan dengan anak-anak? ”Nggak Pak, anak-anak sudah biasa dengan ibu saya,” katanya. Mengapa suami kamu nggak mau mengurus anak? ”Dia terbiasa hidup enak. Anak manja, karena anak tunggal,” katanya. Terus anak-anak? ”Ya ibu saya yang mengurus. Saya hanya punya pendapatan dari honor menulis saja Pak,” katanya.

 

Saya menjadi semakin iba. Lho, agak mirip dengan sejarah hidup saya. Saya sejak semester pertama saat kuliah, sudah berusaha mandiri. Saya menulis berbagai artikel di koran. Apa saja, yang lebih banyak tema budaya dan sastra. Terkadang sebulan mendapat Rp 150.000 (dulu satu tulisan di Harian Terbit honornya masih Rp 60.000, di Jawa Pos cerita pendek Rp 150.000), kalau sedang mujur bisa sampai Rp 300.000. Itu sudah cukup, karena uang kuliah masih Rp 200.000 (di Univeritas Negeri Jakarta, dulu IKIP Jakarta).

 

Tidak mudah lho ada orang yang tiba-tiba curhat seperti itu. Saya tidak tahu mengapa dia begitu saja percaya, hingga mau menumpahkan rahasia ke orang asing seperti saya. Inilah mungkin rahasianya. ”Saya senang cerita ke orang tentang saya. Bukan minta kasihan, tetapi jika saya bercerita, ada perasaan lega dalam diri saya. Saya nggak merasa membuka aib sendiri kok,” katanya.

 

Saya mengangguk saja. Akhirnya, daripada saya nggak melanjutkan wawancara. Saya sudahi. ”Ya mudah-mudahan kamu diberi kemudahan. Diberi jalan keluar yang terbaik,” kata-kata seperti itu yang meluncur dari mulut. ”Jadi, saya diterima Pak?” tanyanya.

 

Saya langsung gelagapan. Secara naluri, saya harus bilang ya, karena kasihan. Tetapi secara profesional, sekali lagi saya harus mengatakan ”tidak”. Itu karena hasil psikotesnya ada beberapa catatan. IQ Beta, tidak sampai 90. Selain itu, dia orang yang mudah panik, tidak tahan mengadapi stres.

 

”Oh nggak. Nanti hasilnya akan diberitahu. Orang HRD akan menghubungi kamu, paling lambat 15 hari,” jawab saya. Ini standar wawancara. Ketika dia meninggalkan kursinya, pandangan saya masih meningikutinya. Saya membayangkan betapa peliknya hidup seperti dirinya. Wong saya dengan satu anak, dengan pekerjaan yang alhamdulillah, sudah lumayan mapan saja, masih sering pusing. Apalagi dia. Ya, bila toh ibunya punya penghasilan, berapa sih gaji seorang pensiunan guru?

 

Selesai wawancara, malam itu saya dan teman-teman makan bakmi Kadin. Sambil menunggi Mie Jawa yang masaknya lumayan lama, saya ngobrol dengan bos saya. Saya sampaikan tentang satu anak tadi. Tentang kejujurannya, tentang keberaniannya, tentang kemampuannya, serta catatan kekuarangan dari psikotes. Bos saya sangat profesional. ”Ya janganlah kalau IQ-nya segitu,” katanya. Saya coba adu argumentasi dengan alasan kemanusiaan. Dia bergeming. ”Kalau kita menerima orang karena kasihan, lama-lama kita jadi Dinas Sosial. Lambat laut mereka akan menjadi masalah buat kita,” katanya.   Saya mengangguk, meski di dalam batin agak sulit menerimanya. Ya. Saya ingin menolongnya.  

 

Selang beberapa bulan, tiba-tiba saya bertemu dengan gadis itu di Jakarta. Dia memakai kerudung, dan tampak lebih ceria. Saya sebenarnya lupa-lupa ingat. Dia yag menegor saya. ”Masih ingat  saya Pak. Saya yang diwancara Bapak di Jogja,” katanya. Saya lama mengingatnya. Akhirnya dia membuka rahasia, tentang isi karangan tadi. Terus sekarang? ”Saya kerja di bank itu Pak,” katanya menunjuk sebuah gedung di seberang kantor saya. ”Oh bagus itu. Sebagai apa?” tanya saya. “Di bagian humas Pak,” katanya. Gimana anak-anak?

 

Belum sempat dia menjawab, lift sudah terbuka, dan saya masuk. Dia pergi, entah ke mana. Setelah itu, saya tidak pernah bertemu lagi.

Satu pemikiran pada “Karena Karangan Itu…

  1. Bagus sekali pak…Hari ini saya akan mewawancarai 20 anak calon engineer. tulisan bapak saya jadikan bahan referensi, bagus sekali….salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s