Hidup Setelah Ngenger…


“Yang pasti dia dewasa…” itu kata sebuah iklan. Saya teringat seorang teman SMA yang punya kedewasaan luar biasa.  Saya sekolah di SMA 36m dekat kuburan Layur, Rawamangun. Kami tidak pernah satu kelas dengan teman ini. Saya juga tidak terlalu akrap dengan teman ini, saat sekolah. Saya justru akrab justru karena punya profesi yang sama.

Saya perkenalkan, namanya Agus. Semasa SMA dulu, dia aktif di kegiatan LPIR (Lembaga Penelitian Ilmiah Remaja), sedangkan saya lebih banyak di kegiatan Rohis Mushola dan di OSIS. Kala itu, kami hanya saling sapal. Jika tidak salah, saya belum pernah ngobrol secara intens dengan Agus.

Yang pasti, kami sering jalan kaki bersama rombongan pelajar SMA 36 dari Jalan Pemuda, melalui Jalan Layur, sampai di sekolah. Agus dulu tinggal di sekitar Kayu Putih, saya di daerah Jati. Keduanya sama-sama mengandalkan kaki untuk sampai di tempat tujuan.

Kami di jurusan yang berbeda pula. Agus di jalur Biologi, saya di IPS. Dia menggemari penelitian, saya menggemari mengarang. Yang pasti, kedunya di bawah bimbingan seorang pembina OSIS, Bu Sridari (saya harus berterima kasih ke ibu yang satu ini). Saya dan Agus sebenarnya memiliki kegemaran yang sama: tulis menulis.

Saat lulus, kami terpisah dan tidak ada kontak sama sekali. Sampai suatu ketika, saya mendengar dia menjadi seorang wartawan di majalah Ria Film. Saya waktu itu melamar sebagai editor bahasa, sesuai dengan jurusan saya. Meski saya masih kuliah, saya harus bekerja. Sepulang kuliah, saya ke kantor. Tiba di kantor jam 14.00, pulang sekitar jam 19.00. Nah, di situlah saya kembali bersentuhan dengan Agus lagi. Saya harus mengedit naskah kiriman Agus.

Saya tidak lama, sekitar enam bulan, dan kembali ke bangku kuliah. Tahun 1991, saat saya masih di semester 8, saya diterima sebagai wartawan FORUM Keadilan. Karni Ilyas, sekarang pemimpin redaksi TV One, dulu pimred majalah itu. Nah, di awal-awal saya sebagai wartawan saya sempat di tempatkan di liputan tentang dunia hiburan. Di sinilah saya kembali bertemu dengan Agus. Kali ini, kami berteman menjadi sangat akrap.

Kami sering liputan bersama, termasuk sering tukar informasi tentang peristiwa yang layak di liput. Dari obrolan-obrolan itu, saya baru tahu  hidup Agus, tidaklah seindah yang saya lihat. “Saya ini sejak kecil yatim piatu,” katanya.

Hanya karena tekadnya yang besar untuk maju, dia rela menjadi pembantu rumah tangga di seorang hakim. “Saya ngenger, pokoknya agar bisa sekolah,” katanya. Ngenger sebenarnya istilah untuk orang-orang kampung yang ingin mencari penghidupan yang lebih baik, mereka rela menjadi abdi dalem  di keraton atau perguruan silat.

Agus berkisah, hidup sebagai orang yang ngenger tidaklah ringan. Dia layaknya pembantu, mengerjakan urusan rumah. Dia tidak digaji, tetapi hanya diberi makan, dan dibiayai sekolah. Beruntung, otak Agus lumayan cerdas, dan punya semanngat hidup yang membara. Karena itu, dia akhirnya dianggap sebagai anak angkat keluarga hakim itu.

Selesai sekolah SMA, dia tidak kuliah. Dia langsung bekerja sebagai kontributor berita di majalah Ria Film tadi. Terkadang ia juga harus mengedit naskah berita. Tapi, lebih sering menjadi peliput. “Saya otididak. Ya karena di SMA sudah biasa mengarang, jadi nggak ada masalah saat membuat liputan,” ujarnya. Saat sekolah, Agus memang sering membuat penilitian, dan beberapa lomba penelitian. Dia juga salah satu orang yang rajin mengirim naskah untuk majalah dinding.

Agus ini luar biasa dalam menjalani hidup. Yang terutama saat ngenger itu. Dia pendam semua kata-kata yang tak enak didengar, ia buang semua kemarahan karena perlakuan yang kurang enak di hati. Begitu juga, semua omongan teman-temannya yang sering mengolak-olok. Ia tak sakit hati, justru menjadi cambuk untuk maju. Oh ya, sebenarnya, dia sebenarnya terpaksa harus bekerja, karena orang tua angkatnya, tidak mau membiayai sampai ke tingkat yang lebih tinggi.

Nah, ketika perlahan-lahan ia mendapatkan penghasilan, Agus mulai berani untuk memisahkan diri. Ia kontrak di daerah Slipi. Meski hanya satu kamar kecil, tapi dia merasa lebih enjoy dibandingkan harus tinggal di rumah ayah angkatnya yang besar dan cukup megah. Tidak hanya itu, Agus lantas mengajak adiknya yang berada di kampung. Ia sekolahkan adiknya, meski juga hanya sampai SMA.

Si adik ini, menurut Agus, otaknya tidak seencer dirinya. Agus tidak kehabisan akal, adikanya dia ajari fotografi. Dia juga membelikan kamera bekas untuk adiknya. Nah, mereka lantas bersinergi. Agus yang liputan, adiknya yang memotret.

Ketika Agus mulai profesional di bidang imu jurnalistik, jika tak salah, ia ikut kuliah di Universitas Terbuka. Ia lakukan itu demi untuk karir lebih tinggi. Tanpa ijazah sarjana, dia akan sulit mendapatkan pekerjaan. Selepas itu, dia diterima sebagai wartawan di sebuah kantor berita di bawah grup Kompas Gramedia. Dia punya reputasi yang baik di bidang hiburan. Dia akhrinya bekerja di sebuah koran Ibukota. Tetap sebagai wartawan hiburan.

Beberapa tahun lalu, dia sempat mencoba mengorbitkan grup komedi mini kata. Tapi gagal. Dia bersama teman-temannya, juga berusaha mendirikan semacam tim kreatif untuk sebuah production house, Starvision. Ini juga tidak berjalan lama.

Belakangan, dia sukses besar sebagai semacam manager untuk para paranormal dan ahli pengobatan alternatif. Dia mencari ahli pengobatan alternatif (termasuk membesarkan alat kelamin), kemudian membuatkan klinik praktik. Dengan pola bagi hasil, rupanya sukses besar. Agus sampai memiliki belasan klinik alternatif. Mulai Jabodetabek, Medan, bahkan Manado dan Bali.

Tidak hanya itu, dia juga mendirikan belasan klinik herbal. Dia menjadi suplair obat-obatan herbal yang dirikan. Untuk promosikan klinik, dia berani blocking time di TVRI atau tv-tv lokal. Nah, dia juga mendirikan production house untuk mendukung promosi. Belakangan dia kembali menekuni kemampuan menjadi manager artis. Kabar terakhir, dia baru membeli ruko untuk kantor.

Bulan lalu dia pindah ke perumahan mewah Rafless Hill di daerah Ciluengsi. Sebelumnya, ia tinggal di rumah sederhana di daerah Sukatani, Cibubur. Ya, meski gaya hidup dan penampilan telah banyak berubah, saya tetap mengenali dirinya orang yang cukup rendah hati. Minimal terhadap saya. Saya tidak tahu selebihnya.

Yang pasti, yang saya ingat, dia pasti menelepon saya bila ada perlu. Jika tak ada perlu, terkadang saya telepon juga tidak diangkat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s