Hidup Tanpa Cahaya


blind man

blind man

 

 

Jika Hidup Tanpa Penerangan

 

Hitam atau putih? Bagi sebagian besar dari kita, pasti menjadi suatu perkara tersendiri. Tapi tidak bagi orang yang tuna netra. Saya punya tetangga yang dikarunia Alloh dengan penglihatan yang tidak sempurna.

 

Dia bernama Sudarmin. Ketika lahir, matanya cukup normal. ”Cukup” karena saat itu ia bisa melihat, meski tidak seterang orang-orang lain. Menurut penuturannya, dia mulai tidak bisa melihat sejak usia sekitar 5 tahun. Sejak saat itu, ia hidup tanpa bisa menikmati indahnya pelangi atau warna-warni bunga. Yang ia tangkap di matanya hanya gelap dan terang.

 

Darmin, bukan dari kalangan yang berada. Apalagi sejak ayah-ibunya meninggal, dia harus menopang hidupnya seorang diri. Kakak dan adik-adiknya, sudah sibuk dengan kehidupan sendiri. Meski dia tidak bisa melihat, SuDarmin memiliki pendengaran yang sangat tajam. Dia bisa hafal seluruh suara orang-orang sekampung. Bahkan, tidak hanya untuk seumuran di bawahnya atau yang lebih tua. Dia hafal, dan bisa mengingat semua nama orang-orang.

 

Yang membuat saya salut, dia bisa mengingat suara orang meski sudah lama tidak pernah bertemu. Saya, misalnya, meski jarang bertemu, dia masih selalu ingat. ”Kapan pulang? Sendiri atau sama keluarga,” begitu dia menyapa. Bahkan, bila dia melintas di depan rumah seseorang, dia bisa tahu ada orang di depan rumah atau tidak. Dari mana dia bisa tahu? Sederhana, dari nafas seseorang.

 

Tidak hanya itu, Darmin juga diberi kelebihan untuk bisa mengingat seluruh jalan di kampungnya. Hebatnya lagi, dia bisa tahu sampai ke gang-gang rumah, bukan hanya jalan yang besar. Tidak pernah terdengar dia tersandung, hingga terjatuh. Dia juga tidak pernah terdengar tersesat, hingga tidak bisa pulang.

 

Bahkan, yang luar biasa, dia juga hafal jalan-jalan di luar kampung. Asal dia pernah diajak sekali, dia bisa kembali ke lokasi tersebut. Dari mana dia bisa menghafal semua jalan itu, juga dari suara dan ingatan. Jika Anda bertemu dengan dia, pasti akan semakin terheran-heran. Ke manapun dia pergi, tidak seperti orang tuna netra lain yang memakai tongkat. Darmin mengandalkan kedua kakinya, sebagai ”mata” untuk berjalan. Dengan cara agak menyeret kaki, dia bisa menghindar dari batu, bahkan jembatan kecil pun dia bisa lalui.

 

Ketika usia sudah mulai dewasa, dia juga ingin menikah. Maka, dia menikahi seorang pembantu yang bekerja di tetangganya. Oh ya, Darmin ini meski buta tidak pernah meminta-minta. Dia bekerja. Alloh memberi kelebihan kepada dirinya dalam bentuk ketrampilan memijat. Selain itu, juga mengumandangkan adzan. Dari dua kegiatan itu, dia bisa menyambung hidup.

 

Tetapi, saat ia memiliki anak, Darmin tidak berpangku tangan. Dia setiap hari bekerja mengangkat pasir dari sungai. Pasir ini dikumpulkan dan kemudian dijual ke pengepul atau orang-orang yang akan membangun rumah. Satu gerobak Rp 20 ribu, atau Rp 60 ribu untuk satu pick up kecil. ”Ya lumayan, bisa buat belanja kebutuhan pokok,” katanya.

 

Si istri, orangnya gagah, dan kuat. Dia menjadi buruh tani dan setiap pagi menjadi buruh untuk mengangkat sayur-sayuran yang akan dibawa ke pasar.

 

Darmin ini, juga memiliki anak buah. Selain istrinya yang sering membantu, memindahkan pasir ke mobil atau mengirim gerobak pasir, dia membayar satu orang untuk tugas itu. Pasti sulit bagi dirinya untuk menarik gerobak dengan jalan yang tidak rata.

 

Darmin benar-benar  tegar luar biasa. Dia bisa seharian berada di air, untuk mengangkat pasir. Ia hanya istirahat untuk makan dan sholat. Selebihnya ia terus menggali pasir. Apalagi saat ada pesanan, pasti dia tidak berhenti mengayunkan sekop dan cangkul.

 

Ketika anak pertama lahir, dia bertambah semangat untuk kerja. Nah, problem datang ketika anak pertamanya itu sudah mulai bisa berjalan. Di saat ia momong anaknya, si anak tentu lebih cepat berlari. Dia tidak bisa menangkap. Dan, bahkan ia tidak tahu di mana anaknya berada. Eh, dia tidak kehabisan akal. Agar ia tahu di mana si anak, dia memasang krincingan di kaki si anak. Ya, mirip krincing yang dipakai untuk kucing kecil itu. ”Biar saya tahu ke mana dia pergi,” katanya.

 

Ketika anak sudah berakal, sekitar anak kelas TK kecil, Darmin banyak dibantu anaknya itu. Ke mana-mana ia dituntut anaknya. Jadi, bisa lebih cepat. Ketika anaknya sudah kelas 4 SD, anaknya pula yang membantu mendorong gerobak, dan ikut membantu memindahkan pasir.

 

Darmin tidak pernah menyesali dengan nasibnya. Dia tidak pernah putus asa. Dia malah melebihi orang yang punya penglihatan normal dalam bekerja. Di kampungnya, banyak lelaki yang hanya duduk-duduk menghabiskan rokok, tidak mau membantu istrinya. Darmin bukan tipe seperti itu. ”Selama saya bisa lakukan, saya lakukan sendiri,” katanya.

 

Darmin tidak pernah mengemis, bahkan sekedar minta tolong kakak atau adiknya, tidak pernah ia lakukan. Yang membuat jengkel tetangga, justru saudara-saudara Darmin ini tidak punya kepedulian sedikit pun terhadap keluarga Darmin. Mereka tidak pernah mau tahu bagaimana kesulitan kehidupan Darmin. Padahal, mereka cukup punya penghasilan. Dua orang menjadi tukan, satu orang lain membuka warung. Tetapi, ya itu tadi, entah kenapa mereka seperti tidak mau tahu atas nasib naas Darmin. ”Ya keluarganya kan perlu hidup,” begitu kata Darmin.

 

]Jika ada tetangga yang membantu, ia tidak menolak. Bahkan malah berterima kasih. Itu sebabnya, dia sangat berterima kasih ketika para tetangganya gotong royong membangunkan rumah untuk keluarganya. Meski rumahnya sangat sederhana, Darmin sangat menikmati. Dia merasa lebih nyaman di rumah itu dibandingkan di rumah peninggalan ayahnya. Dia tidak mau hidup berdampingan dengan kakaknya di rumah itu, semata-mata biar tidak ada cek-cok. ”Saya ngalah. Daripada kehilangan saudara, saya yang menyingkir,” ujarnya.

 

Ujian hidup yang paling besar, mungkin, ketika semua harta yang dia miliki akhirnya terbakar. Ya, rumah sumbangan para tetangganya itu ludes terbakar. Beruntung ia dan anak-anaknya selamat. Saat kejadian, keluarga ini sedang tidak ada di rumah. Penyebab kebakaran sendiri, saya tidak tahu. Kabarnya, karena keluarga ini lupa mematikan bara api yang ada di tungku. Nah, ketika sedikit terkena angin, bara itu menyambar kayu yang ada tak jauh dari situ. Rumah yang ukurannya tidak seberapa itu, benar-benar habis.

 

Dia tidak frustasi. Tidak pula lantas meratapi nasib. ”Ya memang takdirnya harus begitu, mau bagaimana?” katanya. Tak lama kemudia, para tetangganya kembali gotong royong membangunkan rumah untuk keluarga Darmin.

 

Dengan segala keterbatasan hidup, Darmin tetap semangat hidup. Karena itu, anaknya terus mengalir. Jika tak salah ingat, anaknya sekarang tiga orang. Yang terbesar malah sudah bekerja. Ya karena pendidikannya terbatas, anaknya bekerja sebagai pembantu. Tapi, ini pun dia syukuri. Istrinya pun begitu. Dia terus berusaha membantu suaminya untuk bisa menjalani hidup.

 

Karena usia Darmin makin menua, istrinya yang mengambilalih untuk mencari penghidupan. Sang Istri mengandalkan tenaga untuk mencari sesuap nasi. Apa saja ia kerjakan. Membantu tetangga. Tetapi, Darmin pernah dipermalukan karena si istrinya ini kurang jujur. Dia punya beberapa kali kedapatan mencuri milik tetangganya. Inilah yang membuat Darmin terpukul. Jika sudah begini, biasanya, Darmin yang datang ke tetangga dan meminta maaf.

 

Toh Darmin terus berusaha. Meski panggilan untuk memijat semakin berkurang, rejeki Darmin tidak lantas pupus. Ada saja orang yang datang memberi bantuan. Mungkin ini jalan yang harus dia lalui.

 

Kepastian itu datang. Darmin dengan badan yang ringkih terus berusaha mencukupi kebutuhan keluarga. Suatu hari, dia terjatuh. Dan, tidak bisa bangkit. Tulang belakangnya patah. Ketika dibawa ke rumah sakit, dia divonis harus dioperasi. Tetangganya berusaha membantu, tetapi karena biaya demikian banyak, mereka nyerah. Darmin sendiri akhirnya juga menerima keadaan itu. Dalam segala keterbatasan selama sakit, dia berusaha untuk terus beribadah. Ia berusaha menjalani semua kewajiban. Semampunya.

 

Setelah sekian bulan hanya bisa berbaring, Darmin akhirnya benar-benar meninggalkan kita semua. Dia selesai. Selesai menjalani hidup yang benar-benar gelap. Yang dia bawa mungkin lebih kaya dari kita: amal dan sabar, serta keikhlasan menjalani takdir. Yang sudah pasti, dia terbebas dari dosa mata. Mudah-mudahan di kuburnya Kang Darmin bisa menghirup baunya surga.  Mudah-mudahan, setelah hidup di dunia tanpa cahaya, ia bisa melihat indahnya surga.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s