Suami Ke Lain Hati…


Boleh saja, setiap hari mendendangkan lagu “Tak Bisa ke Lain Hati” milik KLA Project. Tapi, soal hati adalah misteri. Ini pula yang dialami suami dari teman istri saya, sebuat saja Harum. hati

Kita mulai dari mana? Hmm, lebih enak tentang siapa Harum. Dia ini umurnya hampir 50 tahun. Masih tampak cantik untuk orang seumurannya. Ia pandai, cekatan, dan mandiri. Itu yang saya tahu. Soal hati, mana saya tahu.

Harum dulu orang cukup berada. Punya rumah mewah, mobil mengkilat, dan suami yang tampan. Keluarga ini pun layaknya iklan-iklan keluarga bahagia dengan dua anak itu. Sekitar 15 tahun lalu, keluarga Harum sedikit terguncang. Penyebabnya, sang suami, tiba-tiba pindah ke lain hati. Sang suami terpincut perempuan lain, dan meninggalkan mereka begitu saja.

Tentu saja Harum kalang kabut. Ini karena ia sudah terbiasa bergantung kepada suami, tiba-tiba pegangan itu raib. Di sini ujian pertama. Harum memang seharum namanya. Dia dengan segala daya dan upaya menjadi mandiri. Setelah sekian lama mencari suaminya, dan tak bisa menemukan, akhirnya dia mencoba hidup secukupnya. Tidak lagi semewah sebelumnya.

Dia terus berusaha membesarkan kedua anaknya, yang kala itu masih di SMP dan SD. Barang-barang di rumah itu, sedikit demi sedikit berpindah tangan, guna mencukupi kebutuhan keluarga. Dia juga mencoba mendekatkan diri kepada Sang Kholik, yang selama ini, mungkin agak terpinggirkan.

Siang malam dia memohon, agar bisa menemukan suaminya. Ia juga berdoa agar suaminya bisa kembali ke pangkuan dirinya, dan anak-anak. Dia merasa tidak sanggup membesarkan kedua anaknya tanpa kehadiran sosok suami.

Entah apa yang terjadi pada diri suami, tak lama kemudian lelaki yang selama ini selalu diimpikan, akhirnya datang juga. Sang suami pulang. Apa persoalan segera selesai? Tidak, rupanya. Seperti permainan yoyo, emosi Harum seperti itu, naik dan turun.

Harum dan kedua anaknya, tentu senang menyambut kedatangan suami dan ayah mereka. Hanya saja, Harum hatinya hancur berkeping-keping. Ini karena suaminya ternyata selama menghilang benar-benar dengan perempuan lain. Ini berjalan cukup lama. Lima tahunan.

Harum mencoba bersabar. Dia menerima suami kembali, apa adanya. Lengkap dengan kotoran yang melekat di badannya. Dia pula yang menuntut sang suami untuk bertaubat. Harum juga meminta agar suaminya berjanji untuk tidak mengulang kembali.

Kehidupan tampak begitu indah, untuk sesaat. Tiba-tiba saja prahara datang kembali. Suaminya terkena penyakit parah, dan akhirnya meninggal. Harum seperti terkena puting beliung. “Saya panik, nggak tahu harus bagaimana,” kata Harum, kepada istri saya.

Hanya saja, Harum masih punya kekasih yang tak pernah memejamkan mata kepada dirinya, Alloh. DIA tidak pernah memberi ujian di luar batas kemampuan hambanya. Harum mensyukuri itu.”Saya bersyukur karena suami saya meninggal setelah berakhir masa kelabunya,” kata Harum. Maksudnya, ia akan sangat sedih jika suaminya tiada di saat berada di pelukan perempuan lain. Harum sendiri tidak tahu, apakah suaminya menikah dengan wanita itu atau tidak. Punya anak atau tidak, ia sama sekali tidak tahu.

Ia kembali menata hidup seperti sedang menyusun potongan-potongan puzzle. Harapan, semangat, kemauan, dan juga ketaatan ia rangkai menjadi sebuah gambar hidup: bernama kenyataan.

Harum berusaha bangkit. Bangkit dari kenyataan pahit. Ia berusaha membuka wartel, yang kala itu sedang booming. Alhamdulillah hidup seperti tampak mulai normal. Ia bisa bekerja single parent, mengurus anak dan juga mencari nafkah untuk mereka.

Ketika hidup belum benar-benar nyaman, anak lelakinya yang tertimpa penyakit. Tidak lama. Si anak lelaki akhirnya juga meninggalkannya, meninggal. “Ya Alloh, kok berat ujian yang harus saya tanggung,” katanya.

Harum, seperti perempuan lain, rasanya lebih berat kehilangan anak dibandingkan suami. Maka, kembali ke titik nol. Ia sangat terpukul. Lemas. Hilang semangat hidup. Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengutuk takdir. Menyalahkan Sang Pencipta atas nasib yang harus ia tanggung. “Kenapa, kenapa saya begini, kenapa anak dan suami saya diambil?” Mungkin begitu satu pikiran mengalir di dalam benaknya.

Harum tetaplah harum. Harum tak pernah menghardik, apalagi sumpah serapah atas ketentuan Alloh. “Saya selalu berpikir, mungkin ini yang terbaik untuk diri saya,” katanya. Untuk kedua kalinya, ia menyusun puzzle kehidupan dari kepingan kecil.

Sekarang ia bertekad untuk membesar satu anaknya. Menjadikan dia anak yang bisa membanggakan diri dan orang tuanya. Langkah yang taktis pun segera dilakukan. Ia menjual rumah peninggalan suaminya yang besar bukan kepalang. Hasilnya, ia beli rumah ukuran menengah untuk hidup berdua dengan anak perempuannya. Dari hasil jual rumah itu, sebagian ia gunakan untuk menjalankan ibadah haji.

Sisa uangnya ditabung, untuk biaya sekolah anak. Untuk kebutuhan hidup? Inilah kelebihan Harum. Ia berpikir terencana dan taktis. Karena dia memiliki kemampuan mengajar baca tulis Al Quran, ia mencari rumah yang tak jauh dari masjid. Dengan cara itu, ia bisa mengurus anak, dan sore harinya mengajar baca Al Quran. Sekarang, ia mengajar di beberapa TPA (Taman Bacaan Al Quran), dan memberi les private untuk ilmu yang sama. “Ya cukuplah untuk hidup saya dan anak saya,” katanya.

Hidup menjanda, mungkin memang penuh ujian. Ada saja godaan yang menerpanya. Suatu ketika, mantan pacarnya ketika masih remaja dulu menelepon. Semula ia senang, bahkan sempat terpikir untuk merajut CLBK (Cinta Lama Balik Kembali). Dari telepon, kemudian bertemu, hatinya sempat berpindar-pindar.

Nah, setelah mulai dekat lagi, tiba-tiba dia tersadarkan diri. Lho, si mantan ini sudah punya istri dan beberapa anak. Ia terkenang bagaimana sakitnya ketika ditinggalkan suaminya. Tak boleh. Nggak bisa. Lagi pula, si mantan ini juga terlihat sekedar iseng, tidak ingin mengajaknya menikah.

Keputusan pun harus diambil. “Saya nggak mau lagi dia telepon, apalagi datang ke rumah,” ujarnya. Alasannya sederhana, jika ia rebut si mantan itu, pasti ada perempuan lain yang terluka hatinya. “Saya mungkin senang, tapi ada perempuan lain yang menangis. Saya nggak mau,” katanya.

Sekarang ia mantap hidup hanya menyediri. Apalagi usianya sudah cukup tua. Yang menjadi beban sekarang, “Tinggal anak saya. Dia sudah ada calon suami, tapi beda agama. Saya nggak setuju,” katanya. Dia terus bertarung, demi masa depan anak dan dirinya. Ia sangat tak ingin anaknya pindah agama. “Siapa yang akan mendoakan saya kalau saya udah nggak ada?” katanya memberi alasan. Ya, hanya doa anak saleh dan salehah saja yang bisa memintakan ampun untuk orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s