Istri Yang Berjudi…


peralatan tukang (puribelanja.com)

peralatan tukang (puribelanja.com)

Jam berjalan mundur. Kalender pun runtut di belakangnya. Semua mundur ke tahun 1970-an. Kita berkenalan dengan keluarga Muhan. Dia ini seorang tukang kayu. Bukan yang bertugas mencari kayu, tetapi tukang yang biasa membuat kusen jendela, pintu dan tiang-tiang rumah dari kayu.

Muhan memiliki tiga orang anak. Satu di antaranya perempuan. Muhan sebenarnya termasuk orang berada, untuk ukuran di sekitarnya. Sawah dia punya cukup luas, dan ketrampilan sebagai tukang kayu, jelas menjadi nilai tambah. Apalagi, ia menempati rumah warisan ayahnya. Jadi, lengkaplah keperluan Muhan.

Bandingkan dengan tetangga-tetangganya. Mereka rata-rata buruh tani, tani tanpa sawah. Mereka hanya hidup sebagai buruh tani. Menanam padi, dan memetik padi. Sungguh tak cukup untuk hidup. Agak sulit dipercaya, jika kehidupan keluarga Muhan justru berbalik denngan para tetangganya.

Mengapa itu bisa terjadi? Inilah rahasianya. Muhan ini orang yang teramat lugu. Sebagai suami, mungkin ia menjadi anggota Ikatan Suami Takut Istri (ISTI). Kehidupan rumah itu, sepenuhnya dikendalikan oleh sang istri. Kita panggil saja, Uri. Bu Uri, ini punya temperamen keras. Ya sedikit di bawah Bu RT di Suami-suami Takut Istri itu.

Selain temperamen keras, dia juga tidak punya kasih sayang terhadap anak-anaknya. Anak lelaki tertuanya ikut neneknya. Dan, dua anak yang lain sering dititipkan ke kakak iparnya. Kakak iparnya yang mengurus semua keperluan kedua anaknya. Lalu, ke mana Uri?

Uri ini, bisa disebut sebagai selebriti di daerah tersebut. Dia sinden, penyanyi lokal untuk acara-acara musik daerah Salawatan. Terkadang dia sinden beneran untuk wayang. Pasti dia sangat sangat sibuk. Tidak heran bila anak-anaknya seperti tak mengenal Uri. Kedua anaknya memanggil Uri dengan “tante”. Bukan “ibu”, “mama” ataupun “bunda’.

Seperti selebriti jaman sekarang, banyak yang terlihat narkoba. Uri terlibat kegemaran berjudi. Uang hasil menyanyi tidak pernah sampai ke rumah. Begitu pula hasil jasa tukang kayu suaminya. Semua habis lari ke meja judi. Dia benar-benar dewi judi. Dan, tidak pernah ada cerita tukang judi yang kaya raya, kecuali para bandarnya.

Muhan terkadang malu. Ia sangat malu. Bagaimana tidak, bila ia bekerja hanya lima hari, misalnya, istrinya sudah meminta ke pemberi jasa DP untuk 8 hari. Muhan tak pernah bisa menikmati hasil keringatnya. Semua lebih dulu diambil istrinya.

Di rumah Muhan juga tak ada perabotan. Bahkan, Muhan dibiarkan kelaparan. Bagaimana dengan anak-anaknya? Kehidupan kakak ipar uri, sebenarnya tidak jauh lebih baik. Cuma hidupnya berkah. Si kakak ini berternak bebek, dan juga punya sepetah sawah. Inilah yang dipakai untuk menghidupi keponakannya. Anak terbesar justru lebih “gila”. Ia mewarisi sebagian tabiat ibunya. Senang berjudi, dan menghamili teman sepermainnya. Saat tahu temannya hamil, dia lari tanggung jawab. Ia benar-benar lari. Si Sulung ini melarikan diri ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia ikut pamannya hingga mendapatkan pekerjaan sebagai polisi.

Muhan seperti lelaki tanpa jiwa. Dia berada di bawah bayang-bayang istrinya. Semua yang mengatur hidup adalah istrinya. Karean track record yang jelek Uri, orang-orang tidak pernah memanggil Muhan lagi untuk bekerja sebagai tukang kayu. Semua takut, khawatir uang bayaran lebih banyak yang dikeluarkan dibanding tenaga yang keluar Muhan. Ya, Muhan-Uri akhirnya punya utang di mana-mana.

Tak tahan dengan kehidupan di kampungnya, Uri punya akal licik. Dia tahu di kampungnya sedang ada program transmigrasi. Pikirannya sempit, dia bisa terbebas dari omongan tetangga dengan ikut program transmigrasi. Mereka pun akhirnya ikut transmigrasi ke daerah Kaliman Timur juga (dekat Tarakan). Rupanya, di daerah baru, tabiat Uri tidak juga berubah. Meski jauh dari kampung halaman, ia tetap punya kebiasaan berjudi. Lebih parah lagi, Muhan tidak punya bakat menjadi petani, karena selama ini lebih banyak menjadi tukang kayu.

Mereka gagal sebagai transmigran. Semua harta pembagian dari pemerintah dia jual murah. Mereka lantas mencari keberuntungan dengan mencari anaknya yang sudah menjadi polisi. Sampai di Balikpapan, anaknya hanya sehari dua hari saja bersedia menampung. Selebihnya, pasangan ini ditelantarkan. Mereka lantas hidup tak menentu, pindah dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Mereka bukan punya banyak rumah, tetapi dari menumpang rumah yang satu ke rumah tumpangan yang lain.

Muhan sebenarnya ingin bertahan hidup di rantau sebagai tukang kayu. Apalagi, Uri sekarang punya keahlian sebagai tukang urut. Kala itu, menurut cerita Uri,”Hampir setiap hari ada yang minta diurut,” katanya. Menurut kesaksian saudara saya, Uri memang cukup laris. “Kalau dia mau tekun, bisa hidup dengan menjadi tukang urut,” kata saudara saya itu.

Umur tidak bisa dibohongi. Muhan makin rapuh. Ia tak lagi bisa menjadi tukang kayu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke kampung. Mereka berharap ada pekerjaan yang lebih baik. Apalagi, ia ingat anak perempuannya sudah sukses, karena memiliki suami seorang polisi.

Di kampung halaman, hidup menjadi bertambah gelap. Diam-diam dua anak lelaki mereka sudah menjual hak atas tanah dan rumah itu ke saudara perempuannya. Maka, rumah itu otomatis menjadi milik menantu dan anaknya. Jangan heran, tidak lebih dari sebulan, Uri-Muhan sudah diusir dari rumah anaknya. Mereka lantas tinggal di sepetak rumah, sebenarnya lebih layak disebut gubuk, untuk menetap mereka.

Mengapa anak-anaknya demikian durhakan kepada Uri? Tak lain karena sikapnya dulu. Uri menelantarkan anak. Lebih-lebih, Uri juga masih tidak bisa menghilangkan berjudi. Konon, Uri juga suka mencuri lauk, mengambil di luar jatah yang diberikan anaknya. Inilah yang membuat anak dan menantuanya tega mengusir mereka. Tapi, bagi saya, kok ya, anak-anak itu tetap durhaka.

Beberapa tahun lalu, Muhan meninggal di dalam sepi. Ia sudah demikian sabar hidup di bawah bayang-bayang istri. Ia demikian sabar mendapat perlakuan kasar dari anak-anaknya. Tidak ada anaknya yang mengurus. Si bontot, terkadang mengirimi mereka uang, dan sesekali menengok. Di usia senja, Uri berhenti berjudi. Itu juga hanya karena di kampungnya sudah tidak ada lagi judi. Dan, lebih tepat lagi, ia tak punya apa-apa lagi untuk berjudi.

Sekarang, Uri hidup sebatang kara. Dia tidak diterima anak, juga cucunya. Tidak ada yang mengurus. Mungkin ini buah dari tabiatnya. Tapi, sekarang, ia tampak muncul kesabarannya. Ia tak lagi memaki anak dan menantunya. Dia cukup tekun beribadah, dan juga masih menjual jasa menjadi tukang urut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s