Godaan Bernama Jabatan…


Masih ingat nggak bebunyian uang logam yang kita mainkan dengan cara memutarnya diubin. Saat uang logam itu selesai berputar, maka mulai pusing dan jatuh. Suara gemerincing. Dan, anak-anak kecil sangat suka adegan ketiga uang mulai meleintir, berputar dan bergoyang kencang, sambil menimbulkan suara bising.

Ketertarikan anak-anak itu bisa jadi sangat wajar, karena ada gerak dan bunyi. Bagi orang dewasa, yang membuat tertarik jelas bukan adegan itu. Tetapi, nilai. Nilai uang. Semakin hari uang kian menyihir banyak orang. Termasuk satu kawan ini: sebut saja dia Dursosono. Tahu siapa dia? Tak lain tokoh rekaan dalam lakon wayang. Ia menjadi pejabat tinggi di Negeri Kurawa.

Sama dengan Dursosono di lakonnya, orang ini juga menjadi pejabat tinggi di negeri ini. Lumayan tinggi. Tapi, jika saya sebut namanya, pasti anda semua kenal. Saya berteman sejak SMA 36, Rawamangun, sedangkan dia seorang mahasiswa di universitas di daerah Pulomas.

Setiap malam Minggu, saya dan teman-teman berkumpul di rumahnya. Dia menjadi mentor, kami menjadi kader. Maklum dia seorang ketua cabang organisasi mahasiswa yang berbasis agama. Kami nyantrik di rumahnya. Dia memberi pelajaran tentang agama, juga tentang politik. Cara bicaranya cukup menyihir. Minimal buat saya yang masih ingusan semasa SMA. Orasinya meski lembuat, tidak meledak-ledak, banyak juga yang saya tidak tahu. Terlalu tinggi untuk bisa dipahami.

Lama tidak bertemu. Setelah saya kuliah, saya sibuk mencari uang dengan cara menulis di media massa. Buat biaya hidup dan juga mengejar ilmu. Sedangkan dia sibuk mengajar menjadi dosen. Kami bertemu lagi setelah saya menjadi wartawan, dan dia menjadi anggota DPR.

Kami begitu haru saat bertemu lagi. Dia meski agak-agak lupa, dia akhirnya ingat siapa saya. Akhirnya kami kembali berteman. Kali ini agak egaliter karena saya wartawan dan dia narasumber. Kami banyak berkomunikasi semasa sidang umum MPR. Informasi makin intensif, dan terkadang malah dia yang mengajak bertemu.

Yang namanya godaan kekuasaan itu memanglah tinggi. Semakin tinggi jabatan seseorang, kian tinggi juga cobaan yang harus diterima. Bukan cobaan sembarang: cobaan untuk menyalahgunakan kekuasaan. Di awal-awal pertemanan memang terasa akrap. Semakin ke belakang, kian sulit. Saya pernah diajak dan janjian bertemu di kantornya.

Jabatan kali ini memang mentereng. Bukan sekedar anggota Dewan. Hampir semua politisi ingin merasakan posisi tersebut. Saya datang, ternyata dia tidak ada. Setelah saya kirim sms, dia minta maaf karena sedang ada acara partai di Pekanbaru. Saya pun memaklumi. Jika tak salah, itu adalah janji pertemuan terakhir. Sejak saat itu, saya tidak bisa bertemu. Berkirim sms pun, jika saya tak salah ingat, tidak pernah dibalas lagi. Kalau toh dibalas, bahasanya tidak sehangat dulu.

Saya merasa bersyukur tidak bisa berjumpa dengan dirinya. Sebab, teman-teman yang sampai sekarang masih sering komunikasi, menyebut Dursosono itu sudah berubah. Banyak berubah. Ia benar-benar tak kuasa menahan cobaan godaan kekuasaan. Pendeknya, jika KPK mengusut dirinya, rasanya kok bisa menjadi teman-teman orang Senayan yang menghuni sel tahanan.

Saya kenal beberapa pejabat, entah yang masih punya posisi yang bagus atau yang sudah pension. Rata-rata memang punya kecenderungan untuk bermain-main dengan posisinya. Tapi, ada juga yang cukup tabah. Seorang teman yang menjadi menteri, pernah mengundang makan di kantornya. Kami makan siang dengan menu khas daerah asalnya, Banyumas. Sroto Banyumas. Kami cerita ke sana kemari tentang kebijakan yang sedang dibuat. Saya lebih banyak mendengar. “Saya sedang berusaha membenarkan aturan-aturan yang lama,” katanya.

Saya pernah mencoba minta tolong. Saya punya teman pengusaha yang ingin menjalin kerja sama dengan Pak Menteri. Saya sudah membayangkan akan mendapatkan fee success, bila proyek itu gol. Saya dua kali mengatur pertemuan mereka. Yang pertama berhasil, tetapi yang kedua pertemuan itu gagal. Bukan ia ingkar janji, ternyata Pak menteri tidak ingin terlibat. Dia menugaskan staf, bawahannya untuk mengurus proyek itu. “Saya nggak mau campur tangan. Kalau memang bagus, pasti disetujui,” ujar Pak Menteri.

Sejak saat itu, saya tidak mau lagi diminta menemani pengusaha atau siapapun untuk bertemu beliau. Saya hanya sering komunikasi lewat sms, dan juga email. Meski dia tidak 100% bersih, tetapi dari beberapa menteri atau pejabat tinggi yang saya kenal, dia lumayan clean untuk ukuran pejabat di era seperti sekarang ini. Sekarang, Pak Menteri yang terakhir ini sudah pensiun dan tidak mau mengejar jabatan menjadi anggota Dewan. “Saya itu dua kali mestinya menjadi anggota Dewan. Dua-duanya saya lepas,” katanya. Dia seharusnya menjadi anggota DPR pergantian antar waktu (PAW), untuk mengisi posisi yang ditinggalkan seoranng anggota yang lain. “Saya senang begini,” katanya.

Pak Menteri yang bekas aktifis ini, sekarang lebih senang menjadi penggiat LSM. Kembali ke komunitas lama. Ia tengah meneliti pohon jarak untuk dijadikan sebagai bahan biosolar. Dia sempat menjadi komisari sebuah BUMN, sebelum akhirnya benar-benar bebas tugas seperti sekarang. Di antara batu, ada juga berlian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s