Silahkan Nikah Lagi…


Hidup tanpa anak, apalah artinya? Begitulah pandangan banyak orang. Saya merasa sangat bersyukur karena dikaruniai satu anak perempuan. Sekarang sudah kelas 6, dan tengah mempersiapkan diri untuk ke jenjang SMP.

ikan hias (www.e-aquarium.com.au)

ikan hias (www.e-aquarium.com.au)

Banyak kisah pasangan yang tanpa anak, berujung pada perceraian. Banyak juga mereka yang tetap rukun, hingga kaki nini, meski tanpa ada anak seorang pun. Mereka merasa sudah berusaha, sudah banyak konsultasi. Banyak melakukan upaya alternatif, tapi tetap tidak bisa memiliki momongan. Ada yang mengambil anak saudara sebagai pancingan. Ada yang mengangkat anak yatim. Ada pula yang mengadopsi anak dari rumah sakit ataupun panti asuhan.

Tentang pasangan yang tidak memiliki anak, saya punya kenalan yang diuji kesabaran luar biasa. Sebut saja pasangan Winarno-Windarti. Yang lelaki Arek Malang, yang perempuan orang Gorontalo. Keduanya dipertemukan Alloh di Makasar. Mereka menikah dan akhirnya tinggal di Bekasi.

Mereka menikah ketika usia masih cukup muda. Sekitar 25 tahun lebih sedikit. Pasangan ini, juga seperti pengantin baru pada umumnya. Sampai sepuluh tahun kemudian, mereka belum juga dikarunia anak. Lantas, si istri berinsiatif mengasuh salah satu anak dari adiknya. Keduanya mengasuh layaknya orang tua kepada anaknya. Si istri meski sibuk sebagai dosen, dan sang suami bekerja sebagai pegawai negeri, mereka tetap rukun dan gembira dengan anak asuhnya.

Harapan untuk memiliki anak terus melecut mereka. Mereka rutin konsultasi ke dokter, juga mencari pengobatan alternatif. Sampai anak yang diasuh itu memasuki SMA, pasangan kawan saya ini belum juga dikaruniai seorang anak.

Suatu saat, saya lupa tahun berapa, pasangan ini demikian gembira. Windarti akhirnya hamil. Mereka bungah bukan main. Senang bukan kepalang. Ke mana-mana, setiap ketemu teman, pasangan ini sangat antusias mengisahkan kehamilan itu. Ya, siapa tak senang bila pernikahan mereka sudah hampir 20 tahun, akhirnya diberi momongan. Sebuah penantian yang panjang.

Hingga suatu hari ada kejadian yang akhirnya membuat hancur hati pasangan ini. Memasuki usia  kandungan bulan  ketujuh, baru diketahui, bahwa kehamilan Windarti ternyata hamil anggur. Tidak ada janin. Yang ada hanya air. Maka, mau tak mau kehamilan itu harus digugurkan, karena memang tidak ada jabang bayi. Dari segi kesehatan juga sangat beresiko bagi si istri.

Mereka pasti sedih. Sangat sedih. Pilu. Padahal usia  Windarti sudah di atas 40 tahun lebih (jika tak salah 45 atau 46 tahun). Harapan pun pupus. Musnah. Lalu apa yang mereka lakukan. Subhanallloh. Windarti mempersilakan Winarno untuk menikah.  “Biarlah, nggak papa,” begitu kira-kira kata Windarti.

Izin itu diberikan tidak diam-diam. Windarti cerita ke teman-temannya jika ia memang memberikan izin ke suaminya untuk mencari pasangan baru. “Saya nggak papa kok,” katanya.

Bagaimana reaksi Winarno? Dia tipe lelaki yang sangat setia dengan pasangannya. Ia mencintai istrinya luar dalam. Sepanjang hayat. Ia hanya tersenyum jika ditanya tentang izin itu. Sementara pasangan lain minta izin tetapi tidak diberi. Ada juga  yang diam-diam menikah dengan orang lain, tanpa sepengetahuan istri pertama. Windarto meski sudah memiliki “boarding pass” tetap tak mau naik ke pelaminan lagi.

Setelah itu, Winarno-Windarti mengasuh satu anak lelaki lagi, juga dari kalangan kerabat. Tak lama kemudian, adik ipar dari Winarni meninggal dunia. Pasangan ini menunjukkan kebesaran hati yang luar biasa. Dengan tiga anak yang masih kecil-kecil, si adik diajak tinggal di rumah mereka. Maka, rumah itu menjadi hiruk pikuk dengan suara anak-anak.

Winarno pun menikmati kehadiran tiga keponakannya itu. Dia terlihat sering mengajak bermain anak-anaknya. Si anak juga diajari memanggil Winarni dengan menyebut “papa”. Di sinilah Alloh menampakkan kekuasaannya. Sejak kehadiran anak-anak di rumah itu, keberkahan seperti melingkupi keluarga ini.

Karir Winarno juga menanjak. Sekarang dia sangat sering berpergian ke luar kota, karena jabatannya mengharuskan begitu. Winardarti juga  melejit. Belum lama ini, ia berhasil menyelesaikan kuliah S-2. Dan, sekarang sedang mengambil S-3. Pemilu 2004, Winarni sempat menjadi caleg, tetapi partai yang mengusung hanya seukuran gurem. Ia pun gagal menjadi anggota legislatif. Yang pasti, di perumahan tempat ia tinggal, salah satu caleg yang mendapat suara terbanyak adalah dirinya. Ini menunjukkan dia, dan suaminya memiliki pergaulan yang bagus di lingkungannya.

Anak-anak yang dulu kecil, sudah mulai besar. Sudah ada yang lulus SD. Si anak sulung malah sebentar lagi kuliah. Untuk menambah pendapatan, Winanarno yang memang sangat menggemari ikan, membuat kolam-kolam ikan hias. Semula hanya beberapa akuarium.  Sekarang, ia sudah mampu membeli lahan hampir 300 meter hanya untuk ternak ikan. Kolam-kolam ini, bisa menghasilkan 7 ribu ekor ikan per pekan seukuran jari anak kecil. Berbagai  ikan hias dengan aneka macam corak dan jenis dikembangbiakan.  Semua ikan yang dipelihara dari jenis yang  sedang dicari penggemar ikan hias. Saya sendiri, karena begitu asing nama ikan itu, meski sudah beberapa kali melihat langsung ternaknya, tetap saja lupa akan nama-nama ikan yang ia pelihara. “Ya lumayanlah. Kalau mau jual tinggal telepon, pedagangnya datang,” ujar Winarno.

Dari ikan itu pula, ia bisa membangunkan rumah untuk adik iparnya yang lain di sebelah tempat peternakan ikan. Kini, dari ikan hias itu, adik iparnya malah dipersilahkan untuk mengelolanya. Adik iparnya tak lagi bekerja menjadi orang kantoran, sekarang semua waktunya untuk mengurus ikan. Winarno benar-benar punya hati yang lapang.

Tidak memiliki anak, tetapi bergembira,

4 pemikiran pada “Silahkan Nikah Lagi…

  1. Subhanallah….jarang sekali laki2 yang seperti Winarno. Semoga Allah selalu memberikan berkah pada mereka. Amin.

  2. Wuri dan Asty: terima kasih telah kasih coment. Lelaki seperti Winarno memang jarang. Dan, bila itu terjadi bagi kita (mudah-mudahan Alloh menghindarkannya), semoga diberi ketabahan. Doa Asty mudah-mudahan dikabulkan Alloh. Amin

    jangan lupa ikuti terus belajarsabar.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s