Menjaring Angin…


Belajarlah dengan angin. Siapa yang pernah melihat angin? Tapi siapa belum pernah kesenggol angin? Siapa pula yang membantah angin bisa menjadi sahabatpara  nelayan karena bisa mengantar ke laut dan membawanya kembali ke darat. Siapa pula yang menyangka angin bisa membuat orang sakit: masuk angin?

Matador (www.dontrott.co.uk)

Matador (www.dontrott.co.uk)

Angin. Dia bisa memberi manfaat, tanpa terlihat. Coba saja lihat orang ini, sebut saja dia Matador. Dia lelaki sejati, gagah dan kuat. Ganteng pula. Saya mengenalnya tidak secara sengaja. Kami punya kegemaran yang sama , bermain tenis. Kami sering berpasangan, tidak jarang juga menjadi lawan. Sebenarnya, paling saya benci ketika melawan dia. Dia ini pandai sekali menempatkan bola, dan  sangat sering mengarahkan ke kaki lawan. Pukulan seperti ini yang sulit untuk diambil.

Mengapa ia saya sebut sebagai Matador? Saya terkesan akan keberanian dan sikapnya yang lurus. Bukan karena suka membunuh sapi dengan pedang. Bukan pula karena suka menipu, membuat komulfase kain merah untuk menarik perhatian banteng. Justru, sebenarnya ia mirip banteng itu sendiri, karena seringnya tertipu.

Dari Matador ini, saya sedikit belajar tentang bagaimana beramal yang tidak perlu takut kehilangan keihklasan. “Kalau berbuat baik Pak, lebih baik diam-diam. Nggak usah ada orang yang tahu,” katanya. Kami sedang diskusi tentang para caleg yang marah, karena tidak terpilih. Mereka menarik kembali sumbagan yang diberikan kepada masyarakat.

Matodor ini rupanya kenal beberapa orang, yang biasa beramal tetapi dengan buntut atau pamrih. “Ya gimana mau ikhlas kalau membantu orang tapi niatnya agar dapat dukungan,” katanya. Ini tidak hanya para caleg. Tetapi, mereka yang aktif di partai politik, harus benar-benar bisa menjaga tingkat ke-ikhlasan yang tinggi.Menjadi pengurus masjid, menjadi ustad, jika tetap ingin agar orang lain bersimpati kepada partainya, memang agak rawan godaan. Tingkatan keikhlasan bisa hilang tak terasa, seperti semut hitam di batu hitam yang berjalan di malam gelap.Matador mengistilahkan mereka ini seperti sedang menjaring angin.

Bagaimana dengan Matador? Dia punya kebiasaan yang unik. Dia memberi bantuan ke yatim piatu dan juga beberapa orang lain, dengan teramat sembunyi. Bahkan si penerima pun, tidak tahu dari mana sumbangan itu berasal. “Ah, nggak usahlah saya ceritakan,” katanya.  Info yang saya ceritakan tadi berhasil saya korek,  juga bukan dengan pertanyaan. Tapi, dengan tebakan. Saya menebak apa yang ia lakukan, dan ia membenarkan. Ini cara jitu untuk mengorek keterangan dari orang yang tertutup.

Matador lantas bercerita tentang temannya yang seorang ustad, sekaligus pengurus partai. Si teman ini, sekarang menjadi anggota DPRD I di Semarang, Jawa Tengah. “Dia cerita kemana-mana, tentang keberhasilan mencarikan sumbangan untuk daerah pemilihannya,” kata Matador. Yang membuat dia makin tertawa, “Wong berhasil mengemis ke pemerintah kok bangga,” katanya  geram. “Kalau mau,” lanjut Matador,” pakai uang sendiri. Bantu orang lain. Itu baru amal. Dan nggak usah diomongkan terus,” katanya.

Matador, dari tebakan saya, memang rutin menyumbang sebuah yayasan yatim piatu dan menyumbang masjid, serta menyantuni beberapa orang. Infonya hanya itu. Ia memang cukup berada. Cukup kaya, dan sedikit royal dalam membantu orang-orang yang membutuhkan. Dia, pernah ia cerita, bertengkar dengan istri karena perbedaan sikap siapa saja yang harus dibantu. Sang istri hanya akan menolong orang lain jika terkait dengan sakit, pendidikan, dan kedukaan. Di luar itu, sang istri tidak mau memberikan bantuan.

Sebaliknya, Matador ingin sekali membantu teman-temannya yang memang membutuhkan. Termasuk melunasi hutang ataupun untuk keperluan lain. “Saya nggak bisa menolak jika ada orang datang ke saya,” kata Matador. Dia mau sedikit cerita karena kami sering diskusi soal agama dengan dirinya.

Dari ceritanya, saya menangkap Matador ini orang yang sangat royal dalam membantu orang. Tidak peduli, istri dan anaknya lebih perlu, jika ada orang yang minta tolong, pasti ia akan ulurkan tangan untuk orang lain lebih dulu. Tidak peduli, pinjaman itu tidak dikembalikan. “Ya biar jadi amal saya aja Pak,” katanya. Tinggal istrinya yang kesal.

Prinsip Matador ini memang bikin saya iri. “Hidup ini,” katanya,”hanya sekali di dunia. Harta nggak akan bisa dibawa mati kok Pak.” Nah, dia ingin sebanyak-banyaknya menolong orang lain. “Hanya amal kita yang akan menjadi penolong kita di kehidupan abadi,” ujarnya.

Saya kebetulan  kenal dengan istri Matador, karena sering main ke rumahnya. Dari cerita istrinya, Matador ternyata sudah sering ditipu orang lain, bahkan itu teman sendiri. “Dia itu terlalu percaya sama orang lain Pak,” kata istrinya. Matador hanya tersenyum.  Menolong orang lain pun, terkadang masih mendapat cercaan dari orang yang ditolong. “Jangankan ucapan terima kasih, wong pernah dia malah diajak berkelahi,” kata istrinya.

Matador toh tidak kapok. “Menolong orang kan nggak perlu berharap terima kasih. Bisa menolong saja sudah senang kok,” katanya. Menolong apa sih yang sering dilakukan Matador? Ya mulai dari memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan, mencarikan pekerjaan, termasuk memberi uang atau juga pekerjaan. Setelah istrinya memberi batasan untuk menolong orang lain, Matador agak tertahan laju sifat sosialnya.

Yang agak miris, mendengar kisah dari istrinya. Matador ini pernah menolong satu teman yang sedang kesulitan keuangan dengan memberikan pekerjaan. Tapi, orang itu justru melaporkan ke  atasan Matador di kantornya. Maksudnya mungkin baik. Orang yang ditolong ini sebenarnya ingin mengisahkan, bahwa si Matador itu orang yang baik karena menolong suaminya. Eh, si bos malah marah. Matador ditegur karena ia punya side job di luar.

Saya hanya bisa  tersenyum getir. Saya iri. Ingin seperti Matador itu. Menolong orang, agar bisa meniru manfaat angin tadi. Memberi manfaat, tanpa  perlu dilihat.  Saya sedang berusaha. Anda? Pasti sudah seperti Matador bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s