Karena Lidah Tak Bertulang…


Lidah memang tak bertulang. Begitu kata pepatah. Ada yang bilang bigini: Lidahmu harimaumu. Maksudnya, lidah itulah penentu diri kita. Lidah bisa membunuh orang, sebaliknya

Lidah Tak Bertulang

Lidah Tak Bertulang

lidah bisa

Saya kutip penggalan syair Zuhair Bin Abi Sulma, yang bergembira setelah perang yang begitu dahsyat berkecamuk antara kabilah ‘Abs dan kabilah Dzubyan hanya dikarenakan pacuan kuda, perang ini berlangsung hingga 40 tahun lamanya.

Walau ia sangka tertutupi pasti orang lain akan mengetahui

Itu karena lidah seseorang adalah kunci hatinya

Lidahnyalah yang menyingkap semua rahasia

Lidah itu adalah setengah pribadi manusia dan setengahnya lagi adalah hati

Tidak ada selain itu kecuali daging dan darah sahaja

Lidah ini, memang aneh. Bentuknya tak istimewa. Hanya selempengan daging, yang agak lonjong. Tetapi di sana ada setengah pribadi manusia, setengahnya lagi  ada di hati. Lidah adalah kunci hati seseorang. Lidah inilah yang mengendalikan mulut. Jika lidah bergoyang, mulut terbuka. Dan setiap mulut terbuka, di sini jati diri orang tertancap.

Kita akan berkenalan dengan seorang teman yang tidak pernah berbicara, kecuali di minta. Tidak pernah berkata, selain untuk menjawab. Kita sebut saja dia Zulfahmi. Dia ini orang yang sangat kalem. Senyumnya banyak mengembang. Entah kenapa orang-orang malah segan, dan hormat kepada Kawan Kita. Bahkan, ketika di komunitasnya ada konflik, dia berhasil selamat dari fitnah, karena sikapnya yang menjaga lidah itu. “Buat apa berbicara, kalau hanya mengundang marah orang,” katanya.

Meski tetap ada yang senis terhadap dirinya. Bukan karena pendiam, karena lebih banyak tidak berpendapat. Ia lebih banyak mendengar. Setelah diminta berbicara, ia memang menampakan bobot ilmu dan dalamnya iman. Saya dulu pernah punya keyakinan: diam atau bicara, jika bodoh tetaplah terlihat. tetapi, tidak berlaku bagi Zulfirman. Dia berbicara hanya jika perlu, bukan karena bodoh.

Kami pernah bersama-sama mengurus tempat ibadah. Dia ketua, saya seorang anggota biasa. Saya terharu ketika dia demikian lembut menjembatani perbedaan. “Nggak usah ditambahi. Nggak usah dikurangi, agama kita sudah lengkap kok,” katanya, meyakinkan orang yang menentangnya.

Bandingkan dengan kawan saya yang lain. Kita panggil dia Penjual Kecap. Dia teman lama, yang sekarang bekerja di sebuah lembaga yang dimiliki seorang pejabat penting di negeri ini. Sesuai dengan namanya, dia memang selalu berbicara kecap nomor satu. Dan itu adalah dirinya. Jadi, Penjual Kecap ini senantiasa dirinya paling benar, paling pintar, paling tahu. Dia menilai saya, sebagai orang yang terlampau naif. “Kamu itu terlalu lurus,” katanya.

Saya terperanjat. Ah, bagi saya, berprasangka buruk, curiga kepada orang lain, hanyalah membuat hati panas. Penuh syak wasangka.  “Nggak bisa, kamu mesti bisa membaca situasi. Lihat siapa orangnya. Jangan kamu anggap semua orang sikapnya sama dengan kamu,” katanya, menasehati. Penjual Kecap ini memang seperti analis sepakbola. Dia bisa melihat “permainan” politik di manapun. Termasuk dengan temannya sendiri.

Penjual Kecap juga seorang analis bursa saham. Dia tahu “indek saham gabungan” mengapa naik. Bisa melihat mengapa ada orang baik kepada dirinya. Dia juga bisa memprediksi saham-saham yang akan naik dan yang baru saja turun. Dia mengkalkulasi siapa yang akan dipromosi dan melihat orang selayaknya dimasukan ke comberan.

Sekali berbicara dengan Penjual Kecap, kita akan merasa senang, karena disanjung-sanjung.Salah satu kelebihannya, membuat orang tersanjung. Kita tidak tahu dibalik pujian itu. Hati-hati, sebenarnya  Penjual Kecap sedang mengukur harga, memainkan kalkulator:  kawan atau lawan.

Berkali-kali dia sebenarnya jeblok analisisnya. Tetapi, bukan Penjual Kecap jika tidak bisa memberi argumentasi mengapa “analisis” itu salah. Ia selalu memiliki pembenar. Beberapa pekan lalu, saya mendapat kabar dari teman Penjual Kecap, yang  teman saya juga, mengabarkan Penjual Kecap terkena sakit keras. Berhari-hari dia tidak bisa tidur, dan tidak doyan makan. Kenapa? “Penjual Kecap tidak dipromosi, yang naik justru lawannya dia,” kata teman yang lain tadi.

Saat saya membesuk, dia tampak sangat terpukul. Dia memang ambisius, di samping pintar. Saya menasehati begini: semua yang kita terima ini, pasti yang terbaik untuk kita. Alloh nggak akan memberi ujian di luar batas kemampuan kita.

Saya tak berharap dia akan menerima nasehat saya. Tetapi saya salah duga. Dia justru merasa “nasehat” itu yang ikut memberinya semangat untuk bangkit. Beberapa hari kemudian, dia kirim sms. Isinya, dia sekarang sudah bisa mengalahkan dirinya. Bisa menerima kenyataan. Tak lama kemudian, saya mendengar dia dipromosikan. Hanya saja, saya mendengar ada unsur tak sedap dalam kenaikan jabatan yang baru itu. Dia melangkahi “bangkai” saudaranya.

Kini, setelah sekian lama berlalu, banyak teman yang  sadar telah terpedaya. Tidak sedikit teman-temannya yang akhirnya meninggalkan Penjual Kecap ini. Bukan tak mau memakai kecapnya lagi, cuma semata-mata takut terkena kotoran warna kecap. “Berteman sama dia, sama aja kita bermain di lumpur. Cepat atau lambat kena kotornya,” kata teman yang lain tadi. Berbeda dengan penjual minyak wangi. Setidaknya, kita bisa mendapatkan semprotan wewangian. Meski hanya satu kibasan.

Yang pasti lagi, lidah Penjual Kecap inilah sebenarnya yang membuat teman-temannya kecewa. Dia tidak sabar. Padahal, jika dia sedikit menahan lidahnya, pasti banyak orang yang menyukainya. Saya dengar, bosnya pernah marah ke Penjual Kecap karena merasa sering dikecewakan. Pangkal soalnya, apalagi jika bukan karena lidah Penjual Kecap itu. Ya, si Penjual Kecap memang lihai menjulurkan lidahnya hingga panjang. Bahkan, seperti bercabang layaknya lidah ular.

Hmmm, saya berdoa agar terhindar dari kebiasaan yang demikian. Kebiasaan  dari omongan yang buruk. Omongan yang menyakitkan orang lain. Karena saya tahu, lidah tidak bertulang. Mudah bengkok, mudah berkelok.

9 pemikiran pada “Karena Lidah Tak Bertulang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s