Istri Tak Pernah Lelah


pit montor alias sepeda motor

pit montor alias sepeda motor

Kasih ibu, sepanjang masa. Kasih istri? Ini yang tidak ada di dalam lagu. Saya punya cerita tentang bagaimana seorang istri yang memiliki kasih sepanjang massa.

Kita panggil dia Nunik. Umurnya sudah hampir 60 tahun. Dia memiliki tiga anak, dan satu cucu. Badannya ideal untuk ibu seumuran dia. Masih tampak segar, dan cekatan. Dia masih bisa bekerja, mencari penghidupan untuk anak-anaknya.

Nunik ini dulu pernah bekerja sebagai baby sitter. Ketika bekerja di daerah Duren Tiga, Pasarminggu, dia berkenalan dengan seorang guru. Sebut saja dia Mardi. Dari perkenalan itu, akhirnya mereka menikah. Ketika menikah, usia mereka sudah beranjak di atas 35 tahun.

Mereka, seingat saya, hidup ngontrak di petak di daerah Jagakarsa. Kehidupan mereka semula berjalan normal-normal saja. Ya layaknya suami istri muda. Sampai ketika lahir anak pertama, barulah problem kehidupan yang cukup serius.

Tiba-tiba saja, Mardi tertekena penyakit psikis yang cukup aneh. Dia suka berbicara sendiri, dan suka memaki orang yang tidak ada di depannya. Dia menulis segala sesuatu. Ketika dibaca, kata-kata yang ada penuh makin,  dan selebihnya tidak jelas.

Semula Mardi adalah guru SMA di daerah Ragunan. Setelah dirinya sering melamun dan berbicara sendiri, akhirnya dia harus dikeluarkan dari sekolah. Ia harus pensiun dini. Untuk sampai ke proses ini juga tidak mudah. Mardi sempat menolak untuk pensiun, karena merasa tidak ada masalah.

Akhirnya, karena tekanan penyakitnya tak kunjung sembuh, dia dirawat di rumah sakit jiwa di daerah Jawa Tengah. Mardi cukup lama menjadi pesakitan di tempat tersebut. Dari semua suka berteriak-teriak, sampai kelihatan normal, lebih dari enam bulan.

Pulang dari RSJ, ia kembali mengajar. Dan, Nunik melahirkan anak kedua. Dengan dua anak, Nunik merasa perlu untuk membuka warung guna menopang kehidupan keluarga. “Ya kalau Mas Mardi harus pensiun, palingg nggak ada tambahan penghasilan,” ujar Nunik.

Rupanya, antisipasi Nunik benar adanya. Mardi akhirnya kembali dilanda stress yang tidak jelas penyebabnya. Dari sini, Nunik menjadi makin yakin bila kehidupan akan makin pelik. Tapi, kenapa Mardi tiba-tiba stress dan hampir seperti orang gila?

Menurut Nunik, suaminya itu dulu pernah lama pacaran dengan seorang gadis Madura. Dari cerita mertuanya, Nunik tahu, pacaran mereka sudah hampir ke jenjang pernikahan. Entah kenapa, tiba-tiba mereka ribut, dan akhirnya rencana nikah itu kandas. Nah, konon si gadis ini tidak terima dan ia mengadu ke dukun. Pendek kata, Mardi dibuat linglung, dan tidak bisa berpikir normal. “Katanya sih cara menyembuhkan ya harus ketemu bekas pacarnya itu,” kata Nunik. Itu karena saat ritual di depan dukun, ada satu baju Mardi yang konon dijadikan “media” untuk membuat Mardi jadi setengah gila. “Bajunya itu ditanam pake semen. Selama baju itu masih ada, Mas Mardi akan terus begitu,” katanya. Mardi sendiri sudah berusaha mencari si gadis, bekas pacarnya itu, tetapi tidak pernah bisa dilacak keberadaannya. Lalu dari mana mertua Nunik tahu cerita itu. “Dari dukun,” kata Nunik.

Itu dari cerita si mertua.  kehidupan Mardi benar-benar tidak bisa normal lagi. Meski sudah berkali-kali ke RSJ, ia tidak pernah bisa kembali sebagaimana orang normal pada umumnya. Mardi gampang stress. Dia tidak bisa berpikir sedikitpun yang agak berat. Jika terpaksa, pasti sakitnya kumat. Setiap hari ia juga harus minum obat antidepresi. Sampai sekarang. Jika lupa tidak meminum atau kehabisan obat, maka ia akan kembali murung dan sesekali “ngoceh”.

Setelah pensiun, Nunik jungkir balik mencari tambahan penghasilan untuk anak-anaknya. Warung sudah ditutup, karena modal habis ikut dimakan. Akhirnya, ia membuat kue. Biasanya ia titipkan ke warung. Dan, lebih sering ia memasok ke beberapa katering.

Cobaan tidak sampai di sini. Meski orang tuanya tidak berada, anak-anaknya tidak juga mengerti. Satu anak telah menikah. Satu anak lagi sudah bekerja. Nah, anak yang paling kecil sekarang yang menjadi pikiran Nunik sering kalang kabut.

Betapa tidak. Usia baru SMP kelas 3, ia sudah dibelikan motor. Karena nggak bisa membelikan, anaknya ngambek tidak mau sekolah. Akibatnya ia tidak lulus. Akhirnya si anak bontot harus dipindahkan ke sekolah lain. Itu pun setelah Nunik membelikan motor bekas dengan cara utang ke bank, yakni menggadaikan surat pensiun.

Motor belum lama dipakai, sudah dipreteli. Si Mardi yang sudah tua, marah. Jika marah, maka nafasnya sesak dan setelah itu setress. Tidak hanya itu. Kadang si bontot juga mengajak berkelahi bapaknya, Mardi. Mereka berguling-gulingan layakanya anak kecil bertengkar. Tentu Mardi kalah tenaga.

Jika itu terjadi, Nukik hanya bisa menangis, dan berteriak. Maka tetangganyalah yang melerai. Ujian Nunik tidak sampai di situ. Si bontot ini sering mengejek bapaknya dengan kata-kata yang kurang sopan. Akibatnya, Mardi sering kumat. Beruntung ia sudah cukup sadar. Bila ada masalah, maka langsung makan obat. Ia akan tertidur berjam-jam, dan hatinya tenang. Jadi, tidak perlu lagi dirawat di RSJ. Beruntung juga Mardi tidak terpikir untuk maju menjadi caleg, wah bisa hancur dunia…

Nunik masih terus bersabar. Belum lama ini, anaknya tabrakan. Motornya hancur. Padahal utang belum juga lunas. Si anak juga hanya luka-luka. Meski sudah SMA, anak lelakinya juga belum berubah sikap. Masih sering maksa. Jika meminta sesuatu, harus detik pula dituruti. Bila tidak ia akan ngamuk. Nunik tidak punya pilihan lain. Ia menjadi lunak terhadap anaknya itu. “Kalo nggak dikasih ngamuk. Bapaknya marah, mereka berantem, saya tambah pusing,” katanya.

Motor sudah hancur, sekarang anak lelakinya kembali mogok belejar. Ia tidak mau sekolah lagi bila tidak dibelikan motor.  Akhirnya, sekali lagi, Nunik mencari utang ke bank untuk membeli motor. “Saya hanya berdoa, suatu saat anak saya pasti akan berubah pikiran. Akan dewasa,” kata Nunik.

Meski banyak dirundung masalah, jangan sampai Anda berpikir Nunik menjadi kurus, kusut atau lunglai tak bergairah menjalani hidup. Wow dia tidak pernah ambil pusing semua masalah. “Dipikir yang sekedarnya, nggak usih diambil pusing,” katanya. Makanya, badannya sampai sekarang tetap gemuk, makan lahap, dan tak sedikit terlihat murung. “Buat apa, dipikir terus malah stress, ya biar aja seperti air. Ngalir terus,” katanya ringan.

2 pemikiran pada “Istri Tak Pernah Lelah

  1. ok banget tuh coy, buat contoh ibu – ibu agar iklas, tapi pertanyaanya bagaimana membuat ibu – ibu punya prinsip seperti ibu nunik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s