Lama Meninggalkan Istri…


Jika ada sumur di ladang, boleh kita menumpang minum. Jika ada umur panjang, boleh kita menumpang hidup. Ini konyol tapi benar-benar terjadi. Saya punya kenalan yang, sebenarnya, sangat jarang ngobrol. Hanya pernah ketemu beberapa kali.

Meski jarang berbincang, kita sebut nama Teman Kita ini yang mudah diingat: Bambang — mirip Triman, pelawak Srimulat yang selalu memamerkan gigi palsunya sambil nyengir: BAMMMBANGG. Bambang ini, tidak punya pendidikan yang terlalu tinggi. Ia pernah tinggal di Jakarta, dengan delapan anaknya. Tidak ada pekerjaan tetap, tak membuatnya pusing untuk mencari penghasilan.

Lelaki pemalas, terkadang punya pasangan yang punya semangat kerja, plus semangat hidup yang hebat. Demikian juga Bambang. Istrinya, kita namai saja dia Narti,  pekerja keras. Hanya saja, karena ekonomi tidak mendukung, maka Narti memutuskan memboyong anak-anaknya ke rumah orang tuanya di daerah  Grobogan, Jawa Tengah.

Sopir, Bisa Juga Berjaya

Sopir, Bisa Juga Berjaya

Di sini, Narti membanting tulang membesarkan anak-anaknya. Beruntung Narti punya ibu yang berhati mulia. Sang Ibu menjadi matahari di keluarga itu. Narti dan Sang Ibulah akhirnya yang menopang keluarga Bambang. Ke mana Bambang?

Atas kebaikan saudara iparnya, ia bisa bekerja di sebuah bank swasta di Bandung. Meski hanya sebagai sopir,  ia menjalani hidup bak pejabat tinggi di bank tersebut. Setidaknya, ke mana-mana ia pergi dengan mobil mewah, karena menjadi sopir pribadi pimpinan cabang bank tersebut. Ia sendiri hidup sebatang kara di Bandung, dengan tinggal di rumah kos.

Bambang memang punya pola hidup yang tinggi.  Uang ada, penampilan necis, ia lantas melupakan anak-anak, juga istrinya. Bulan-bulan pertama bekerja, ia rajin mengirim uang, dan juga sesekali menjenguk istri dan anak-anaknya.

Memasuki tahun kedua, Bambang tersirap kehidupan kota Bandung, yang juga glamour. Entah setan mana yang mengajaknya, atau dirinya sendiri yang justru menggandeng setan, akhirnya ia terjebak pergaulan intim dengan pemilik rumah kos. Konon, pemilik kos itu seorang janda yang sintal, lumayan cantik, dan mungkin juga tertarik dengan Bambang.

Maka, kuding mana yang tidak tertarik dengan ikan asin? Kucing mana yang tak menggoyangkan ekornya ketika melihat lawan jenis? Bambang pun terbuai dan, akhirnya melupakan keluarga. Berbarengan dengan itu, anak-anaknya sudah mulai merangkak naik. Sang istri perlu biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Narti pun “sungsang sumberl” mencari jalan untuk bisa lepas dari belenggu hidup. Dengan sabar, dan kerja keras, ia membesarkan anak-anaknya. Hanya karena kebaikan Sang Ibu, Narti tidak jatuh stress. Kiriman dari Bambang telah terhenti. Mampet. Hidupnya juga bak tertelan bumi. Bambang sulit dicari batang hidung. Ia ditelan rimba.

Narti harus menghidupi anak-anaknya dengan berbagai cara. Suami tersayang sudah terbang melayang. Narti pun menginjak bumi dengan berat, meniti pematang hidup dengan berkalung kesedihan. Beruntung pula, ia memiliki kakak, meski tidak terlalu kaya tetapi masih mau memperhatikan dirinya. Kakak dan Ibulah yang mengusung hati, yang membesarkan jiwa Narti. Mereka menegakan kaki narti yang mulai goyah. Menuntun Narti ke tempat cahaya yang masih berbindar.

Satu per satu, anaknya bisa menyelesaikan sekolah. Meski tidak ada yang sampai perguruan tinggi, setidaknya lulusan SMA sudah menjadi modal anak-anaknya mencari kerja. Beberapa anaknya ada yang sekolah sambil kerja. Yang perempuan, untungnya beberapa langsung mendapat jodoh, jadi ya cukuplah untuk sedikit mengatasi kehidupan yang berat Narti.

Tapi, sekitat dua tahun lalu, kami (saya dan istri) berkunjung ke sana. Narti tampak lebih segar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Wajahnya jauh lebih cerah, tidak kusut.  Dan, yang lebih mengagetkan lagi, ternyata di rumah itu ada pula Bambang. Kami hampir tidak percaya, dia muncul lagi di rumah itu setelah sekian tahun meninggalkan keluarga.

Rupanya Bambang sudah pensiun. Lebih tepat, ia dipercepat pensiunnya karena berbagai penyakit telah menyerang dirinya.  Luar biasa Narti dan Ibunya itu. Setelah sekian lama dibuat menderita, tapi bersedia menampung lagi Bambang yang sudah loyo. Badannya tak lagi gagah. Senyumnya temaram menahan sakit.

Narti hanya bicara pendek. “Ya bagaimana lagi. Dia kan tetap Bapaknya anak-anak,” ujarnya. Sang Ibu, yang agak jengkel. Ia baru akan mengungkapkan kekecewaan terhadap menantunya, namun Bambang terlanjur masuk ke ruang tamu. Saya hanya bisa menebak: mungkin amarah yang bergemuruh di hati Ibu: Waktu berjaya, waktu muda, waktu punya uang, waktu ada tenaga, waktu…. dan  serangkaian ungkapan pasti bisa dilabelkan di tubuh Bambang.Toh Ibu tetap tenang. Senyum membuai terkembang.

Habis manis sepah dibuang, kata pepatah. Bagi Narti justru sebaliknya, justru karena sepah ia datang….

Saya hanya bisa merenung, kok ada manusia di kolong bumi ini yang punya pemikiran seperti Bambang. Lebih sedikit detil lagi, kok nggak malu ya. Justru teramat mulia itu hati Narti. Ia rela tak mencicip saat-saat manis. Saat-saat kejayaan. Ia toh rela membungkus sepah dengan bungkus yang bersih: kesabaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s