Karena Anak Dihamili…


Kami duduk di teras masjid, suatu sore, Ramadhan lalu. Ia penuh tawa. Penuh canda. Tak ada sedikit raut wajahnya menanunjukkan kesedihan. Kami sedang menunggu saat-saat berbuka puasa.

Rancang Bangun Masjid di London

Rancang Bangun Masjid di London

Pak Kunto, adalah mrabot atau orang yang mengurus kebersihan dan juga bertugas adzan di masjid di suatu perumahan. Umurnya sudah lebih dari 70 tahun. Jalananya sudah agak repot, dan punggungnya sudah agak condong ke depan. Pasti akibat pengapuran. Tidak heran bila setiap sholat, ia selalu sedikit membungkuk ke depan.

Kami bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Saya lebih banyak bertanya. Ia bertutur tentang hidupnya yang, bagi saya, teramat kelam. Tetapi, ia bercerita tidak sedikit pun dengan nada kesedihan, apalagi menangis. Ia justru tetap tertawa.

Ia asli Cirebon. Mengelana ke Jakarta, sejak puluhan tahun yang lalu. Awalnya ia, kalau tak salah ingat, dia adalah seorang sopir sebuah perusahaan. Lantas, ia pindah menjadi sopir kontainer yang bertugas mengirim barang ke Tanjungpriok.

Sewaktu muda, katanya, ia hafal semua jalan di Jakarta. “Saya tahu semua jalan Jakarta,” katanya. Bertahun-tahun ia tinggal di daerah Kota. Seiring berjalannya waktu, ia bisa membeli sebidang tanah di daerah tersebut. Tetapi, seiring berjalannya usia, ia tak kuat membawa mobil lagi. Ia minta pindah ke bagian yang bisa jalankan. Alasan yang lebih spesifik, sebenarnya, lebih karena penghilahatannya yang tidak lagi sempurna. “Saya nggak bisa memperpanjang SIM lagi,” katanya.

Karena itu, ia dipindahkan ke Tangerang, lokasi yang menjadi lokasi pabrik. Sejak saat itu, ia harus kerja melaju Jakarta-Tangerang setiap hari. “Saya berangkat Subuh, pulang udah malem. Lama-lama ya cape juga,” katanya. Ada pertimbangan lain, anak-anaknya sudah mulai dewasa, dan sudah beberapa orang yang berkeluarga.

Maka, tanah di daerah Kota itupun di jual. Setelah dibagi-bagi untuk anak-anaknya yang sudah menikah, Teman Kita ini membeli tanah di daerah Ujung Harapan, Bekasi. Di sini tanahnya cukup luas. Ia bisa membangun rumah induk, dan beberapa kontrakan.

Hari berjalan memutar. Makin hari, kian terasa berat hidup di daerah itu. Apalagi, jalan yang mengarah ke rumah miliknya tiba-tiba ditutup. Ada selisih dengan tetangga, yang membuat tanahnya terus berkurang. Meski ia sudah mengihklaskan sebagian tanahnya untuk gang, tetapi tetangga itu tetap menutup akses ke rumahnya.

Tidak mau berkonflik dengan tetangga, akhirnya, ia menjual tanah dan rumah miliknya satu-satunya. Uang hasil penjualan, ia gunakan untuk menikahkan salah satu putrinya. “Habis gimana Pak. Anak mau nikah, nggak punya uang,” ujarnya.

Bapak ini punya tujuh orang anak. Kala tak salah, anak yang menikah itu adalah yang ke empat. Anak perempuan. Tiga anak lainnya sudah punya pasangan, dan hidup terpisah dengan dirinya. Ada yang sudah memiliki rumah, dua orang lainnya masih mengontrak.

Cobaan belum berakhir. Karena uang sudah tinggal beberapa juta, sudah tidak cukup untuk membeli tanah ataupun rumah. Maka, atas kebaikan seorang kenalananya, ia diperbolehkan menempati rumah kenalan tersebut. Ia hanya setahun pertama sanggup membayar kontrak rumah. Selebihnya, ia diberi kemudahan Alloh dengan cara pemilik rumah menggratiskan rumah itu. Pendeknya, ia diminta menempati rumah tersebut dan merawatnya.

Tahun berganti, keadaan teman kita tidak membaik. Justru makin terpuruk. Teman Kita ini dihadapkan pada masalah yang kian sulit. “Saya mah jalani saja Pak,” katanya. Ya, pemilik rumah itu akhirnya secara halus mengusirnya. Alasannya akan ditempati oleh anaknya. Beruntung, ia memiliki satu orang menantu yang cukup berada. Ia memiliki satu rumah yang tak jauh dari tempat ia menetap selama ini.

Rupanya Alloh punya skenario tersendiri. Di saat ia bingung harus pindah ke mana, menantu itu harus pindah kerja ke daerah Cikarang. Maka, rumah pun kosong, dan Teman Kita diminta menempati rumah teresebut. Di rumah baru ini, meski milik anak dan menantunya, ia harus memulai dari awal. Karena tidak ada perabotan yang ditinggalkan.

Di rumah ini, Teman Kita tinggal bersama tiga orang anaknya. Ketiganya, secara umur, mereka sudah terbilang dewasa. Tidak lagi anak-anak. Di sinilah, kesabaran Teman Kita benar-benar mendapat lahan untuk dijalankan. Bagaimana tidak, satu anak lelakinya agak “kurang lengkap” mentalnya. Ia sering berbicara sendiri, sering pula keluar rumah tengah malam. Anak lelaki yang satunya lagi, sudah lama dilanda stress. Ia tidak bisa berpikir normal. “Dulunya mah dia anak pinter Pak. Dia pernah kerja di Hero,” ujarnya.

Apa yang menyebabkan dia stres? “Dia dulu pacaran sama orang Manado. Lama Pak pacarannya. Tapi, saya dan ibunya nggak setuju. Kan beda agama Pak,” katanya. Padahal, si anak sudah terlanjur sayang dan sudah ingin segera menikah. “Ee… sejak saya larang pacaran. Dia jadi pendiam. Nggak mau kerja. Ya kayak gitu,” katanya.

Kayak gitu, maksudnya? Si anak ini, tidak pernah mau bergaul sama orang. Tidak mau bekerja lagi, tidak mau berhubungan atau berteman dengan wanita lagi. Ehmm, rupanya, sejak ia dilarang pacaran, si cewek meninggalkannya dan akhirnya menikah dengan orang lain. Belakangan, “Dia sekarang mau bantu nyapu rumah, ngepel,” kata Pak
Kunto.

Hanya itukah cobaan yang harus diterimanya? Ternyata tidak. Ibaratnya, ia mendaki gunung yang tiada berpuncak. Naik dan terus naik. Satu anak perempuan yang tinggal bersamanya, juga tidak seperti layaknya orang normal. Ada saja tingkah polahnya yang terkadang membuat orang ternsenyum kasihan. Dia juga terkadang, tanpa malu, datang ke rumah tetangganya, hanya sekedar untuk meminta uang atau yang lain.

Selalu saja ada yang jahat di sekitar orang yang lugu. Perempuan itu pun terkena rayuan seorang lelaki. Entah bagaimana ceritanya, dia akhirnya hamil. Dan, si lelaki durjana itu semula tak mau menikahnya. Beruntung, setelah didesak para tetangga yang merasa iba, akhirnya mereka menikah. Tetapi, si bujang ini ternyata hanya “Mokondo” (modal konci doang). Yang menikahkah pun tetangga. Semua biaya ditanggung bersama para tetangganya, karena ia juga pengangguran tulen. “Nggak tahu itu Pak. Dia nggak pernah ngurus anak saya,” ujarnya, tenang. Tanpa emosi.

Naasnya lagi, setelah menikah, perempuan itu tidak pula diperlakukan layaknya suami istri. Jadi, si suami tetap bersama keluarganya, dan perempuan itu tetap hidup bersama Pak Kunto. Coba, hidup dengan tiga anaknya saja, ia sudah kerepotan, ia harus pula membesarkan cucunya.

Dan, ini belum akhir cerita. Setelah itu, ia pun harus meninggalkan rumah milik anaknya itu. Rumah itu akhirnya dijual oleh si anak, untuk membeli rumah yang dekat dengan kantornya. Ia hanya dikontrakan rumah untuk jangka satu tahun. Setelah itu,”Ya nggak tahu Pak,” ujarnya. Tetap dengan senyum yang khas. Tidak ada kekecewaan ataupun marah.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yang sudah ia biayai, ia nikahkan dan diurus sejak kecil? Apa ada mereka membantu ekonomi keluarga Teman Kita? “Mereka pusing ngurus keluarga sendiri kali Pak,” katanya. Anak perempuan yang ia nikahkah dengan menjual rumah itu? Ia tak menjawab.

Apa anak-anaknya yang sudah mandiri, tidak mengurus keluarga Pak Kunto? Mereka, maaf, hanya datang menjenguk Pak Kunto setahun sekali. “Kayak ke kuburan saja ya Pak,” katanya. Saya tidak paham dengan omongannya. “Maksudnya apa Pak?” tanya saya. “Ya ke kuburan kan setahun sekali, pas menjelang Lebaran ha…ha..,” katanya. Bedanya, anak-anak Pak Kunto datang hanya pada Idhul Fitri. Mereka datang membawa kue, dan hanya beberapa jam di rumah tersebut.

Tawanya terus berderai. Ia sepertinya senang menemukan istilah itu. Tapi hati saya teriris. Terbuat dari apa hati Pak Kunto ini, kok bisa demikian lapang dadanya.

2 pemikiran pada “Karena Anak Dihamili…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s