Perempuan Berhati Baja


Perempuan Berhati Baja

rose21Mari, letakan pikiran dan rasa kita di dasar sumur perasaan seorang perempuan yang sudah bersuami. Istri manakah yang rela, suami tercinta harus diambil untuk orang lain? Adakah di dunia ini sekarang ini  yang berhati baja, merelakan suaminya beristri lagi?

Pagi ini, sebuah situs web memberitakan, ada sekolompok orang yang mengkampanyekan tolak caleg berpoligami. Sebaliknya, seorang calon legislatif menyatakan: mereka yang mengkampanyekan itu hanyalah orang gila. Alasannnya, ketentuan poligami dari Alloh. Bukan dari partai atau negara.

Hmmm, poligami. Suatu kata yang sudah hampir punah atau justru makin sering dimaki oleh kaum ibu. Tapi, bagi Umi Azmi, kita sebut saja begitu, rasanya justru menjadi semacam mantra yang diyakininya bisa mengantarkan ke surga.

Betapa tidak? Dia sendiri yang justru punya inisiatif, dan memaksa suami untuk menikah lagi. Jika Umi Azmi ini tidak bisa memberika keturunan, atau dalam keadaan sakit-sakitan, tentu keinginan itu menjadi sesuatu yang wajar. Kalau bukan wajar, ya kira-kira tidaklah terlampau mengejutkan.

Tapi Umi Azmi, tidak demikian. Dia memberikan keturunan sepasang anak. Badan sehat, dan cantik pula. Usianya juga masih sangat muda. Belum sampai umur 35 tahun. Kok bisa? Apa yang membuat hatinya tergerak untuk berbuat demikian?

Kami, saya dan istri, bertemu dengan Umi Azmi sekitar setengah tahun silam di Purwakarta. Kami ke kota itu dalam rangka ziarah (bertamu) ke seorang kenalan. Kami berangkat bertiga, bersama seorang rekan yang akan membantu salah satu kegiatan kami.

Kami bertemu dan bertamu di rumah Umi Azmi. Sebenarnya, kami ingin bertemu dengan suaminya, Hamzah (kita sebut saja begitu). Setelah pembicaraan yang “resmi” selesai, kami dijamu makan siang. Dia sendiri yang memasak. Sayur asem, oseng jamur, lalapan dan ikan kering. Enuak luar biasa.

Kami bertiga memuji semua sajian itu. Nikmat sekali, khas benar. Tetapi, tahukan dibalik kenikmatan itu berbumbu kesabaran yang luar biasa. Mari kita tengok lebih dekat lagi Umi Azmi. Tempat tinggalnya rumah petak yang berdiri di sebuah gang sempit. Agak gelap di bagian dalam.

Rumah itu dari ubin biasa, tidak berkeramik. Di plaofon terlihat beberapa bekas bocor. Satu rumah petak dibiarkan kosong. Rupanya, di tempat inilah Umi memberi pelatihan membaca Al Quran kepada anak-anak sekitar. Ia juga memberi les untuk anak-anak yang kesulitan baca-tulis-hitung secara privat. Artinya, hanya beberapa siswa yang ia tangani.

Di sebelah rumah petak itulah yang dipakai untuk hidup mereka. Saya tidak melihat bagian dalam. Tidak tahu seperti apa. Di sinilah Umi dan dua anaknya menghabiskan waktu bersama suaminya selama empat hari. Tiga hari yang lain?

Inilah rahasianya. Suatu ketika, Umi melihat suaminya terlalu sibuk ke sana kemari memberi pengajian.  Profesi suaminya memang seorang ustad.  Hamzah hampir setiap hari mengajar lebih dari tiga tempat.  Wajar bila sangat kewalahan. Lelah, dan juga nggak sempat lagi memperdalam ilmu agamanya.

Dari situlah Umi lantas berdoa. Berkali-kali berdoa.  Yang ia panjatkan menunjukkan betapa ia sangat mencintai suaminya: agar  Hamzah diberikan satu tempat saja untuk mengajar. Mencari nafkah sekaligus mencari jalan ke Surga.

Doanya perlahan-lahan membuahkan hasil. Tetapi, ia terpaksa harus mengulur tali sabarnya. Selama ini,  Hamzah menjadi guru senior di sebuah pesantren di Purwakarta juga. Pesantren ini, sebenarnya, sudah tinggal puing-puing. Siswanya tinggal  beberapa gelintir. Sebuah masjidnya sudah tidak bisa terpakai, asrama sudah pula sedikit reyot.

Ketua yayasan, pemilik pesantren yang juga kakak kelas  Hamzah, memiliki seorang istri dan tujuh (jika tidak salah ingat) anak, tiba-tiba meninggal. Sebelum meninggal, ia memberi wasiat agar pesantren tetap dilanjutkan. Jangan sampai cahaya yang mulai redup itu lantas padam.

Hamzah merasa tak sanggup untuk mengembangkan, mengembalikan kejayaan pesantren itu bila seorang diri. Apalagi ia orang luar. Profesional, bukan owner. Maka, otak Hamzah pun berputar kencang. Yang paling mudah, dalam pikirannya, adalah mencarikan jodoh bagi janda pemilik yayasan tersebut.  Hamzah sendiri yang menjadi mak comblang kepada beberapa lelaki yang dikenalnya. Baik duda atau yang ingin menjalankan Sunah, berpoligami. Ia menawarkan agar sudi memperistri janda dari temannya itu.

Jawaban justru datang tanpa diduga. Umi Azmi sendiri. Ya, istrinya sendiri yang memberi jawaban. “Kenapa nggak Abi sendiri saja yang nikahi Kakak?” katanya. Umi Azmi memanggil dengan “kakak” karena usianya jauh lebih tua dibandingkan dirinya.

Senangkah Hamzah? Tidak. Umi Azmi yang justru merayu dan merayu agar mau berpoligami. “Nggak tahu. Saya merasa akan lebih baik begitu,” ujarnya. Hamzah sendiri lama sekali memberi jawaban. “Saya khawatir tidak bisa berbuat adil jika menikah lagi,” katanya.

Hari berganti hari. Umi Azmi terus merengek. Terus meyakinkan, agar suaminya menikah. Umi Azmi bersedia dimadu. Malah berinisiatif. Ini sangat luar biasa. Dan, ia tahu benar kondisi dan penghasilan suaminya. Untuk hidup bersama dua anak mereka pun seperti itu kondisinya. Tapi, Umi Azmi justru memberi ruang yang luas. Ia tak ingin memetik sekarang, tetapi sedang menanam.

Singkat cerita. Kesabaran Umi Azmi masih berlanjut. Setelah suaminya menikah, ia harus kembali bersabar karena jatah bulannya berkurang. Ia juga berkurang waktu untuk berkumpul dengan suaminya. Suaminya kian sibuk, karena harus ke sana kemari mengurus dan mencari cara agar pesantren tidak meredup.

Umi Azmi berhasil. Dua-duanya. Menahan sabar karena suaminya menikah lagi. Dan, lebih sabar lagi karena pesantren itu meski ada kemajuan, tetapi seperti merambat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s