Siapa Bisa Menyamai Pepeng


Sakit Juga Perlu Sabar

Kapankah kita terakhir kali sakit?  Saya, alhamdulillah, terakhir kali tiga bulan lalu. Setiap sore tubuh panas tinggi.  Tiga hari berturut-turut, selalu tinggi. Badan meriang. Uihh rasanya, hidup tinggal sejengkal.

Kata orang, konon, itu salah satu gejala tipus. Saya pun khawatir terjangkit tipus. Maka, dengan diantar istri tersayang, datanglah ke rumah sakit, dan langsung minta tes darah. Saya merasa lebih hebat dari dokter, karena dokter nggak menyarankan, tapi pasien inisiatif sendiri. Minta rujukan.  Dokter mana yang tidak senang menemukan pasien yang bebal, bodoh dan sok tau?

Maka, singkat kata, datanglah ke lab. Bles. Jarum suntik menyusup pelan ke lengan. Nggak sakit, tapi tetap sedikit nyeri. Setelah dua jam menunggu, hasil lab akhirnya keluar sudah. Pak Dokter yang baik hati karena berharap honor bertambah tadi, langsung membuka hasil. Maka, sebuah kalimat dari Pak Dokter pun meluncur. “Ah, Bapak normal. Cuma licositnya rendah,” ujarnya.

Saya terkesima. “Licosit kurang, bapak normal?” Lho aneh, ada yang kurang kok disebut normal. Jelas ada yang nggak normal. Ehmm dokter tadi tersunging senyum, dan menjelaskan mengapa licosit turun, dan akibatnya apa. Sarannya saya disuruh istirahat tiga hari.

Bukan sombong, saya punya kebiasaan, ketika sakit, bila hanya diam di rumah, malah terus sakit. Karena itu, dari tiga hari  yang disarankan, saya hanya mengambil sehari. Dan, hari kedua sudah kembali bertemu muka dengan kawan-kawan. Sudah langsung bertemu dengan Bu Dirut yang baru dilantik.

Wuih, baru sakit seperti itu saja, saya sudah merasa kiamat buat diri ini terasa di depan bibir. Minimal merasa langit segera runtuh. Padahal, dengan kita ditimpa sakit, akan merasakan nikmatnya sakit. Dengan penyakit yang kita sandang, akan terasa senang dengan waktu yang lapang. Tapi, itulah saya.  Sedikit terserang pusing atau batuk saja, merasa orang yang tak beruntung. Nggak pernah bisa bersyukur. Bagaimana bisa bersabar, bila diberi penyakit sedikit saja sudah mengumpat?

Coba kita berkaca dengan Pepeng. Ya, aktor  dan komedian yang dulu terkenal dengan kuis Jari-Jari itu. Sudah bertahun-tahun ia terkapar tak berdaya. Ya, tak berdaya, secara fisik, tetapi otak dan semangat, mungkin mengalahkan kita yang sehat wal afiat.

Ini cerita saya kutip dari Roni, kru Rahasia Sunah yang pernah liputan ke sana.  Pepeng, sudah lama  terbaring di tempat tidur. Di tempat itulah  Ferrasta Soebardi menjalani hidup dengan penuh semangat.  Ia tak mengeluh. “Allah memang Maha Sayang!” ucapnya.

foto diambil dari http://www.suaramuslim.com

Juli 2005, mungkin paling berat dari hidup Pepeng. Ia menerima berkah berupa sakit dari Allah  dengan penyakit langka. Namanya masih asing di telinga orang kebanyakan, multiple sclerosis.

Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Kalau pun ada, hanya memperpanjang jarak kambuh. Bisa dibayangkan betapa ia menderita, karena dari pusar ke bawah lumpuh. Ada luka  di bagian belakang tubuh. Luka itu terus membesar dan mengeras. Dan, satu pengobatannya adalah dengan mencongkel luka itu.

Ayahh 4 anak ini, hebatnya tidak lantas down. Apalagi menyalahkan Alloh, sang pencipta. Ia justri bisa menikmati sakit dengan mencoba memaknai hidup dengan lebih dalam.   “Yang saya pahami, bahwa Allah tidak menghinakan orang sakit,” katanya.

Itu kisah seorang Pepeng. Banyak orang sakit lain yang justru menggerutu, menyalahkan Alloh, “Apa salah saya?” Ada juga yang lantas kehilangan akal sehat, ingin segera mati. Ada pula yang menjual imannya, yakni datang ke “orang pintar” alias dukun, paranormal atau “kiai” atau “ustad” yang hidup berpeluh dengan kesyirikan (dengan menghamba ke jin, bukan Sang Kholik). Padahal, jelas sekali ada larangan mendatangai mereka.

Ada seorang kenalan yang punya teman, punya kesabaran luar biasa di saat sakit. Semua badannya lumpuh. Tidak hanya itu, kulitnya juga sebagian membusuk. Tetapi ia tetap sabar, dan justru menikmati saat-saat sakit itu dengan makin banyak beribadah sebisanya. Di saat sholat, misalnya, dia hanya menggerakan jari telunjuk kanan sebagai isyarat.

Di luar itu, ada seorang memiliki kesabaran menghadapi sakit. Namanya Urwah. Dia ini terkena semacam virus yang menyebabkan sebelah kakinya membusuk. Menurut dokter, kakinya harus dioperasi. Jika tidak, maka seluruh tubuhnya akan membusuk.

Maka, dia pun menerima putusan untuk diamputasi. Tapi, lelaki ini luar biasa. Saat akan dipotong kakinya, dia sedikitpun tidak mau dibius. Tidak mau meminum sesuatu yang memabukan, hanya agar sakitnya tidak begitu terasa.  Dia juga tidak mau dipegangi oleh siapapun. Dia hadapi proses pemotongan kaki itu dengan cara kesatria. Sadar sesadarnya.

Ketika para ahli mengupas kulit di bawah dengkulnya. Ketika para ahli mengiris daging kakinya. Ketika para ahli menggergaji tulang kakinya. Ketika urat nadinya terputus, lelaki ini terus berzikir tiada henti. Tidak menangis, tidak menjerit, tidak meronta. Tidak sedikit pun gugup. Ia akhirnya pingsan setelah upaya penghentian pendarahan dilakukan dengan minyak yang mendidih. Maklum, kisah ini terjadi sekitar abad pertama Hijriah. Dia adalah Urwah bin Zubair, ahli ibadah zaman itu.

2 pemikiran pada “Siapa Bisa Menyamai Pepeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s