Dalam Himpitan Bisnis


Mau Cepat Kaya?

roti1

Kita berada di Pasar Klender, Jakarta Timur, suatu sore.  Seorang ibu duduk di dingklik (kursi jongkok) dengan menggelar dagangan. Teramat sederhana. Hanya ember dan sebuah tampah. Ia menjajakan beberap ekor ayam potong.

Sore itu, dagangan ayam ibu ini masih tersisa banyak. Dia terkantuk-kantuk. Sangat. Lelah menunggu pembeli yang tiada kunjung tiba, ia menyandarkan kepala di sebuah sudut tembok milik pedagag telur, yang berada di belakangnya. Si ibu ini tidak memiliki lapak, apalagi kios. Maka, dia minta izin ke pedagang telor untuk setiap hari menggelar dagangannya, persis di depan kios telor itu.

Kita panggil dia Bu Tri. Sudah hampir dua puluh tahun dia menjalani rutinitas seperti itu. Jika sedang ramai, ia bisa menjual 150 ekor ayam potong. Jika sepi, paling banyak 20 ekor ayam. Apalagi, belakangan ini Pasar Klender tengah dibongkar, sedang diremajakan. Maka, pembeli tercerai berai ke beberapa penampungan. Otomatis, dagangannya menjadi teramat berkurang. Ia lebih sering membawa pulang ayam dagangannya, dibandingkan kehabisan stok ayam.

Meski sudah 20-an tahun, Bu Tri tidak pernah bosan. Tidak pernah mengeluh mengapa hanya bisa berdagang seperti itu. Mari kita bandingkan dengan beberapa pedagang ayam yang satu “batch” dengan dia.

Di tempat tinggalnya, di daerah Jati Rawamangun, adalah salah satu sentra pedagang ayam. Di sana banyak tukang potong ayam, yang mungkin mengisi hampir separo pasar tradisional di Jakarta. Setiap malam, sehabis tengah malam, banyak rumah yang sudah ramai dengan ayam-ayam yang mengerang kesakitan saat lehernya disayat sebilah pisau.

Meski di daerah tersebut termasuk sedikit kumuh, tetapi banyak juga rumah-rumah yang cukup megah berdiri di antara himpitan rumah petak. Dan, siapa pemilik rumah megah itu? Sebagian besar adalah para pedagang ayam potong. Bagaimana dengan Bu Tri, dia hanya memiliki rumah petak di atas tanah sewa.

Rumah itu jauh dari sebutan memadai. Di depan rumah, difungsikan sebagai lahan potong ayam dan tempat pembersihan bulu dan, maaf, kotoran ayam. Di depan rumah pula dapur dan peralatan makan biasa di simpan.

Bukan perbedaan kelas yang ingin saya ceritakan, tetapi di sini banyak cerita putaran nasib yang demikian cepat. Adalah bukan cerita aneh, bila di daerah itu seorang pedagang ayam yang tiba-tiba bisa membeli rumah megah di daerah tersebut. Di mana rahasianya? Mereka bukan mendapatkan lotre. Tetap dari hasil berdagang, tetapi tidak dengan cara murni pedagang.

Menurut penuturan Bu Tri, teman-temannya yang tiba-tiba kaya itu (dalam hitungan tahun, tentu) semuanya memiliki “amalan”  tertentu. Amalan apa? “Penglaris,” katanya.  Ilmu penglaris, mungkin teramat wajar, bagi kalangan pedagang. “Aku nggak mau…,” katanya.

Alasannya, sederhana. “Daripada nggak kekal,” ujarnya pendek. Memang, tidak dalam hitungan sampai 10-15 tahun, di daerah itu banyak pedagang yang tersungkur jatuh miskin. Tidak hanya itu. Cerita keluarganya juga rata-rata tidak berakhir dengan manis.  Entar suami atau istri meninggal dengan tidak wajar, atau salah satu anaknya berakhir di jalan raya.

Sudah banyak teman se-angkatan dalam berdagang, yang sudah kaya raya. Mereka pergi haji, dan dipanggil “haji” oleh teman-temannya, tetapi nasibnya juga tidak beda jauh. Dalam kamus Bu Tri, dia lebih memilih semadya, apa adanya, tidak perlu muluk-muluk. Inilah, yang bagi saya, termasuk muskil.

Bu Tri sekalipun tak iri dengan teman-temannya yang memiliki rumah, mobil atau bahkan pergi haji. Bu Tri tidak sedikit pun kepingin untuk cepat-cepat seperti mereka. Maka, dia tidak pernah curang dalam berdagang. Tidak mau menjual ayam tiren, tidak mau tipu-menipu mengakali pembeli. Meski ia sudah berkali-kali kena tipu langgannya yang kabur dengan membawa tagihan yang menggunung, dia tetap jalan lurus.  “Biar aja orang lain, saya begini aja,” katanya.

Belum lama ini, Bu Tri dikabarkan menderita gagal ginjal. Dia tetap tawakal. Tidak mau ngoyo. Dia jalani hidup apa adanya. Kalau Anda sempat berjalan ke Pasar Klender, tidak akan menumukan. Dia sudah lepas dari semua tekanan itu. Dia sudah bebas dari persaingan bisnis yang tak sehat. Bebas dari hidup dunia.