Sabar Kok Mahal…


pintuSeorang lelaki berperawakan kecil, kulit nyaris menyerupai orang-orang keturunan Cina, memanggilku. “Udah selesai kan? Tidak perlu gw jawab kan?” katanya.

Saat itu, nggak langsung mengerti maksud dari pertanyaan itu. Aku hanya bilang,”Sudah,” semata-mata karena tidak ingin mengecewakan teman ini. Wah ini berbohong lagi. Lama aku tak mengerti arah pertanyaannya. Setelah sekian bulan, saya baru mengerti maksud perkataannya itu.

Rupanya dia telah memberikan sesuatu kepadaku, tanpa sepengetahuan orang yang diberinya. Bukan uang, bukan barang.  Meski terlambat, saya sms panjang lebar ucapan terima kasih dan permaafan atas kebodohan tadi. Dia hanya tertawa saat saya terus terang atas kekonyolan ini.

Saya lebih senang kalo kita panggil kawan yang satu ini: Harun. Kenapa Harun? Harun adalah saudara Nabi Musa yang pintar dan pandai bicara. Dia pula yang diminta Nabi Musa untuk memberi “tausiah” kepada Raja Firaun, karena Nabi Musa mengaku tidak pandai bicara.

Bedanya, nama Harun yang ini saya  ambil dari seorang teman, yang  mengingatkan tetangga di kampung. Meski ukuran tubuh tidak sepadan, tetapi gaya bicaranya agak mirip. Saya mengenal sudah hampir 17 tahun lalu. Dia ini orangnya ramah, tetapi tidak pandai bicara di depan umum.  Bukan tipe orator. Bicaranya seperti sedang berbisik. Saya pernah diajak ke kantornya, dan minta untuk mendengarkan arahan yang ia sampaikan. Sebagian orang merasa sebal, karena ketidakmampuannya bicara secara komunikatif.

Jabatannya dia sekarang direktur sebuah perusahaan swasta yang sedang berjaya.  Saya sebenarnya tidak terlalu mengenal tentang dia. Tentang keluarganya, tentang asal usulnya, misalnya, saya hanya tahu sekilas. Kami berkomunikasi juga hanya sebatas masalah yang saya geluti. Biasalah, wartawan dan narasumber.

Di perusahaan itu, bukan sekedar direktur, tetapi komisaris di beberapa anak perusahaan. Dia juga menjadi sahabat baik, atau orang kepercayaan malah, dari pemilik perusahaan yang orang keturunan. Dia sangat pandai. Harun ahli dalam mengatur strategi bisnis, dan juga mengkalkulasi untung rugi setiap akan transaksi bisnis. Umpamanya akan membeli perusahaan lain (akuisisi), maka selain due dilegent dilakukan lembaga resmi, Harun pula yang akan membaca hasil akhir apresial lembaga resmi itu.

Jabatannya sudah mentereng, dan mungkin menjadi incaran para pesaingnya. Tetapi, dia ini nggak pernah stress. Hebat. Nggak pernah mengeluh. Nggak pernah memikirkan kehilangan jabatan. Nggak pernah berbuat macam-macam. Satu hal lagi: Dia teramat sabar untuk menghadapi ujian jabatan.

Seingatku, dia sudah menjalankan ibadah haji, sudah hampir sepuluh tahun lalu. Selepas itu, dia hampir tidak pernah meninggalkan kewajiban sholat. Meski meeting dengan para bos besar, ketika waktunya sholat tiba, dia tetap saja ke luar ruangan, dan sholat lebih dulu.

Harun orangnya juga sederhana, untuk ukuran jabatan seperti  dirinya. Dia masih terus tinggal di daerah pinggiran Jakarta, dekat Ragunan sana. Jika mau, untuk sekedar pindah ke Pondok Indah, atau bahkan Menteng pun dia sanggup. Tapi dia tak mau. “Udah enak di sana. Pagi-pagi jalan, banyak yang negor. Yang salah itu kantornya yang jauh,” katanya berkelakar. “Gimana sekarang agar kantor bisa pindah ke dekat rumah,” ujarnya.

Cara berpakain Harun juga tidak pernah berubah. Hanya kemeja putih, dan dasi. Tidak pernah berganti model, atau pun warna. Ia juga fanatik dengan satu merek. Saya pikir lumrahlah orang sekelas Harun punya “klangenan” merek tertentu.

Beberapa waktu lalu, kami mengobrol sambil minum di daerah Senayan. Ia ingin menenuaikan ibadah haji lagi. “Saya sudah ngajak umroh anak-anak, tapi haji belum,” katanya memberi alasan. Seingatku ia beberapa kali umroh, bersama istri ataupun rekan kerjanya. Misalnya, habis ada urusan di Eropa, sengaja transit untuk umroh.

Yang paling nggak enak, Harun selalu memanggil saya Pak Ustad. Padahal, apalah saya ini.  Jika mengambil istilah orang-orang syufi, dia memiliki maqom (tingkatan ketaatan) yang lebih tinggi. Ya bagaimana tidak, dia berhasil melampaui semua rintangan untuk tetap teguh dalam kesabaran. Teguh kokoh dalam ketakwaan.

Harun tidak pernah hidup nyeweng. Tidak pernah, hatta meski hanya sekedar merokok. Sejak remaja, hidupnya tertata. Selalu berjalan di atas rel yang benar. Selalu, merunduk dalam takut atas azab Alloh. Karena itu, orang kaya ini selalu terjaga dalam bertutur. Lembut, dan menyejukan.

Marah? Setahu saya, pernah juga. Tapi, dia lebih halus dalam kemarahan dibanding orang Jawa kebanyakan, yang marah dengan diam. Dalam hati, saya berpikir: kesabaran orang ini lebih mahal dibanding jabatannya. Dibandingkan hartanya. Sabar ternyata mahal juga ya. Saya mendoakan dia akan tetap seperti itu.

Sementara saya? Jauh panggang dari api. Sangat tak layak disandingkan, dibandingkan dengan Harun. Saya tetap manusia comberan, yang tak berguna. Yang sering marah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s