Ujung Sebuah Jalan


Sabar di Dalam Maksiat

Bersabar, tidak hanya dibutuhkan ketika menghadapi musibah saja. Sabar juga teramat diperlukan di saat akan berjalan lurus. Hati lurus, pikiran lurus, jalan lurus, tidak semudah ketika berjalan tanpa haluan.

Bersabar ketika menghadapai maksiat, katakanlah begitu, tidak berarti lebih mudah seperti di waktu kemalangan. Di tinggal mati orang terkasih, mungki hanya berakhir dengan derai air mata.  Coba bandingkan dengan ketika harus bersabar menghadapi maksiat, maka akibatnya bisa jauh lebih parah. Di jauhi teman, dikatakan sok suci, bahkan harus dikucilkan komunitas atau keluarga sendiri.

Ini adalah pengalaman seorang teman yang, setahu saya, sampai sekarang masih teguh berdiri tegak di jalan yang lurus. Sebut saja dia Fardu. Saya kenal sejak masih menjadi wartawan FORUM Keadilan sesama pimpinan Bang Karni Ilias, sekitar 15 tahun lalu.

Fardu ini agak pemalu. Dia bukan dari kalangan yang bertajuk ustad ataupun santri. Dia termasuk abangan, seperti orang kebanyakan. Dia sholat, jika merasa perlu.  Dia juga, yang kukenal, punya banyak mimpi tentang wanita. Ya, saya harus katakan, teman ini tidak tahan terhadap wajah klimis perempuan. Ia mudah bertekuk lutut di bawah kaki wanita, seperti lagu kuno itu.

Tapi, Fardu punya prinsip yang kokoh. Dia tidak akan berbuat maksiat, di luar masalah perempuan. Aneh kan? Maksiat kok ya milih-milih. Suatu ketika, dia ditugaskan kantornya untuk dinas ke luar negeri, ke Australia, Malaysia, dan Hongkong (kalau  tak salah) — sudah cukup lama kisahnya, hingga maaf bila ada yang keliru.

Ketika ke Australia, yang ia impikan adalah mabuk dan menonton pertunjukan tari telanjang. Ingat, ini cerita tentang orang yang mencoba lurus tetapi milih-milih. Benar saja, dia diajak rombongan mabuk di bar. Entah kenapa saat dibar, “Saya takut. Nggak tahu kenapa,” kenang Fardu. Yang jelas, katanya, salah satunya juga karena ia masih memegang prinsip untuk tidak berbuat maksiat di luar masalah, maaf, kelamin.

Saya  sempat percaya. Karena saya cukup tahu luar dalam dengan teman ini. Dulu kami sering kongkow di kafe bersama. Juga, diskotik. Mosok sih, dia tidak mabuk. Seingatku dia sering ke Studio One, Jazz Cafe (nggak tahu masih ada atau sekarang), dan selalu pesan Tequilla sampai dua-tiga sloki, lengkap dengan garam dan jeruk nipis — sebelum ia berikrar tidak akan berbuat lagi. Jika sudah mabuk, dia “turun” sampai pagi. Kecuali bulan puasa, karena bar dan pub tutup jam 1 malam.

Selidik punya selidik, dia punya kebiasaan. Bila minum bir atau sejenisnya, selalu tidur mendengkur dan mencret-mencret. “Daripada teman kamar gua tersiksa, lebih baik gua mengalah,” ujarnya.

Selepas acara hura-hura di bar, rombongan ini melaju ke wilayah nudis di Sydney — ada yang tahu nama tempatnya? Dan, karena sudah “naik” maka oleh penyambut tetamu rombongan ini dibawa ke salah satu pelacuran yang terbilang mewah di kota itu. Teman itu mengenang,”Pokoknya, sebelum kita make, semua ‘kunci’ dicek dulu. Kalo ada yang aneh gak boleh,” kenang kawan tadi.

Singkat kata. Karena sudah larut malam, dan rombongan terlalu banyak jumlahnya, stok perempuan nakal sampai habis. “Gua termasuk yang nggak kebagian,” katanya. Itupun, sebelum bertempur, semua diwajibkan memakai “sarung” pengaman.  Lho, bukankah ini sebagian dari kecintaannya, bermain perempuan?

Teman saya ini,  ternyata punya pilihan lain. “Nggak tahu, gua nggak merasa tertarik aja,” katanya. Jadi, katanya, selain tidak kebagian, ia sengaja menghindar. Dari rombongan itu, hanya dua orang yang akhirnya menunggu melamun, sementara teman-temannya hanyut di surga dunia.

Ketika ke Hongkong, dia punya pengalaman lain. Ketika sudah ke tempat karaoke, semua teman-temannya sudah ditemani seorang pramuria. Mereka boleh di-ini dan itu, seperti kita memainkan boneka. Bagaimana dengan kawan kita ini? “Gua pura-pura kencing, dan nggak balik lagi. Gua balik ke hotel,” katanya.

Esok paginya, semua teman-temannya marah. Mereka merasa jengkel karena selain harus memberi tip ke perempuan yang menjadi jatah kawan kita tadi, juga marah karena merasa dikianati.Ketika di Malaysia, teman kita punya keanehan lain. Ketika orang lain sibuk memenuhi hasrat hewaninya, dia justru berjalan ke masjid.

Begitulah. Lima belas tahun kemudian, kami bertemu. Dia masih seperti dulu.  Kecuali satu hal, dia merasa sudah lelah. “Cape. Udah tua. Malu sama anak-anak,” katanya.

Setidaknya dia sudah berusaha bersabar: sabar untuk tidak bermaksiat lagi. Dan, dia senang melihat janggutku yang cukup panjang. Kali ini, saya yang merasa malu. Masih jauh dari kawan kita itu, dia lebih teduh wajahnya. Lebih santun tutur katanya.  Saya benar-benar iri akan kesalehannya.

Saya melihat, ujung jalan yang ia tempuh, sepertinya ke arah yang lurus. Bukan seperti jalan di hadapanku: penuh liku dan gurun panas.

3 pemikiran pada “Ujung Sebuah Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s