Menghadapi Godaan Kekuasaan


Sesuap Nasi, Seutas Dasi, dan Sebuah Mercy

Ikan Koi

Pagi ini, saya dikejutkan oleh satu telepon dari seorang rekan. Ia staf   khusus dari seorang petinggi partai di negeri ini yang sekarang sedang mocer-moncernya.

Setelah basa-basi, dia bertanya: bagaimana pendapat Mas Pracoyo (saya, tentu) tentang kampanye partainya? Jawaban standar adalah memuji. Tapi, entah kenapa saya kok tetap sedikit memberi kritik dan sedikit nasihat.

Saya memiliki beberapa teman, yang posisinya seperti rekan yang satu ini. Tetapi, dia agak berbeda dalam menghadapi godaan kekuasaan. Dulu, ada seorang staf ahli seorang menteri, yang sangat-sangat berkuasa di kantor Pak Menteri. Dia, hampir bisa mewakili atau tepatnya memakai nama Pak Menteri untuk kepentingan dirinya. Tentu kepentingan pribadi: uang dan kekuasaan.

Teman yang ini, saya sebut saja si Gagah. Badan dan postur tubuhnya memang demikian adanya.  Dia memang bukan contoh yang baik untuk mengisahkan tentang godaan kekuasaan ini. Tapi, setidaknya saya sedikit belajar dari teman yang ini.

Ia bercerita, saat memasuki penyusunan daftar caleg, ia ditawari, bahkan diminta untuk menjadi caleg di kota asalnya. Di Jawa Tengah sana. Tetapi, dia dengan halus menolak. “Biarlah saya begini saja,” katanya.

Dia ini, selain staf khusus seorang pimpinan partai, juga pernah menjadi staf khusus seorang menteri. Sampai sekarang ia juga masih menjadi konsultan pribadi menteri tersebut. Dalam lamunan saya, mestinya ia dapat menggunakan jabatan dan kedudukan untuk bisa, minimal mencari sesuap nasi, seutas dasi dan sebuah Mercy. Tapi ia tak menggubris.

Sampai sekarang,  istri dan anak-anaknya tetap ia tinggalkan di kampung. Bukan apa-apa, di samping istrinya sedang mengambil S-2, ia juga tak punya rumah di Jakarta. Hatta, untuk sekedar rumah kontrakan pun ia tak punya. Ia hidup menumpang di rumah petinggi partai tersebut.

Kekuasaan, kata orang, ibarat pelana kuda. Enak diduduki, dan nyaman untuk berlari. Teman ini mungkin belum pernah merasakan nikmatnya berjoki, terbang-lari bersama kuda.

Ada teman lain yang juga bersih seperti ini. Ada seorang deputi direktur di sebuah perusahaan yang sampai sekarang tetap melajang. Bukan ia tak mau menikah, tapi salah satu alasannya sangat nggak masuk akal di zaman edan ini. “Kalau saya menikah, saya akan tergoda mencari penghasilan tambahan.” Ehm. Sangat aneh, bagi saya.

Ada kisah teman lain yang pernah ditawari kiriman parcel saat akan Lebaran. Tapi ia juga menolak. Padahal, berapalah harga sebuah parcel. Semahal-mahalnya parcel yang dikirim kenalannya itu, tak akan lebih dari Rp 1 juta. Coba dengar jawaban kawan ini, “Sekali saya terima hadiah dari dia,  berarti leher saya serahkan ke orang itu, ” katanya.

Dari sekian kisah, yang membuat haru biru adalah cerita ini. Seorang gubernur, terkenal sangat rendah hati.  Sejak awal pemilihan, ia tidak pernah mau mencalonkan diri. Apalagi membiayai, merekayasa agar bisa menjadi gubernur. Pasti tidak akan dilakukan.  Pendeknya ia dipaksa untuk mau menjadi gubernur.

Dia orang yang sangat sederhana. Meski gubernur, tak ada barang mewah di rumahnya. Orang yang datang ke rumahnya pun akan terganga, karena bentuknya yang teramat sederhana dan kosong dari perabotan.

Ia tinggal bersama istrinya. Tanpa pembantu. Tanpa sopir, atau tukang kebun. Jangan pula berpikiri ke sana ke mari ia dikawal ajudan dan tukang pukul. Ia benar-benar aneh.

Ia bersumpah, hanya akan makan dan minum dari penghasilan yang dihasilkan dari tangannya sendiri. maka, semua gaji dari seorang gubernur, ia sumbangkan ke orang atau lembaga yang membutuhkan. Satu sen pun ia tak mau menyantap.

Yang pertama bersungut-sungut, awalnya, adalah sang istri. Sebagai seorang perempuan,  pasti memiliki naluri untuk menikmati harta. Meski sejumput. Tapi Pak Gubernur tak pernah memberinya izin.

Mau tahu dari mana penghasilan Pak Gubernur? Dari menganyam tikar pandan. Ia menganyam sendiri tikar itu, dan diam-diam menjualnya. Kalau orang banyak tahu tikar itu buatan Gubernur, para cukong pasti akan berlomba membeli dengan harga yang mahal. Ya, mereka pasti cari muka agar bisa mendapatkan berbagai kemudahan: dapat proyek pemerintah.

Siapa dia? Maaf, saya tak hendak menyebutkan…. kecuali ada permintaan khusus. Diam-diam. Dan janji tidak akan membocorkan kepada siapapun. Ima, bahkan kepada istri atau suami Anda…

Satu pemikiran pada “Menghadapi Godaan Kekuasaan

  1. sebelum’y sy ucpkan bnyak terima kasih sm bpk yg sudah mau mncritakan pengalamannya kepada sy lewat situs ini…mungkin da gk cerita yg berjudul kekuasaan sang istri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s