Siapa Memberi Kemudahan …


Belajar Sabar di Saat Uang Menguap

Menjadi orang sabar, kata orang, sebenarnya tidak terlalu sulit. Benar-benar tidak sulit. Tetapi, yang paling sulit adalah ketika terjadi musibah. Di sini ujian kesabaran  benar-benar mendapatkan pembuktian.

Sabar memang mudah diucapkan, tetapi rasanya kok ya sulit ketika musibah benar-benar menimpa diri kita. Coba bayangkan! Sejak tiga tahun lalu, sudah berusaha menabung. Cita-citanya adalah punya rumah menengah, sekitar tanah 180 meter persegi. Bangunan dua lantai, dan terletak di jalan utama di pusat kota.

Untuk mencari suasana yang agak nyaman, maka dipilihlah satu town house yang menyediakan fasilitas sangat menarik. Ada lapangan tenis, ada kolam renang, ada playground. Hemm, mau apa lagi. Bertetangga sekitar 25 orang saja, rasanya lebih nikmat. Tidak terlalu hiruk pikuk dan tidak pula terlalu senyap. Maka, pembayaran pertama pun dilakukan. Sampai cicilan sampai ke-14, dan total sekitar Rp 250 juta, dari harga Rp 500-an juta.

Sebagai pembeli, kita tentu ingin segera rumah itu dibangun. Ketika datang ke developer, sambutan pertama manis sekali.”Oh tentu Pak. Kami sedang siapkan gambarnya. Bapak nanti koreksi, tambahan disain mau seperti apa,” kata seorang pramuniaga developer itu.

Datang kedua, benar. Disidorkanlah disain rumah dua lantai. Dan, sebagai pembeli, kita pun mengubah sekehendak kita — selama masih ditolerir dan tidak membuat bengkak harga rumah. “Tunggu ya Pak, nanti kalau sudah selesai, kami segera hubungi.” Datang berikutnya, kantor pemasaran disebutkan sudah dipindah. Kali ini telepon ke pihak marketing. “Oh, sedang diurus IMB-nya Pak. Nanti segera kami hubungi.”

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, ternyata developernya gulung tikar dan nggak ada satu orang pun yang bisa dihubungi! Ini cerita seorang kenalan, yang benar-benar mengganggu otak kesabaran saya. Apa yang akan hendak dia lakukan? Melapor ke polisi. Ok. Tetapi, hasilnya? Polisi zaman modern, kalau tidak ada uang ternyata tidak bisa berjalan. Jadi, laporan tidak ditindaklanjuti.

Setelah orang itu, memberi sedikit uang, polisi mengirim surat panggilan ke pihak developer! Selesai? Tidak. Developer mengajak damai, dan berjanji segera mengembalikan semua uang sudah masuk. Sangat mengagetkan lagi, ternyata jumlah di pembukuan developer itu, ternyata berbeda dengan “pembukuan” teman saya tersebut. Ada selisih Rp 100-an juta. Kok bisa? “Ya, uang itu tidak diteruskan ke saya.” Mati! Uang ternyata dibawa lari dua orang marketing. Dan, benar-benar  seperti kiamat mengulung dirinya.

Orang yang selama ini ramah menerima pembayaran, ternyata kabur. Satu orang sempat bertemu dengan teman itu. Percaya atau tidak? Hanya selang dua hari setelah pertemuan, orang itu benar-benar meninggal! Si istri dari orang marketing, sebut saja si Kuncung, menelepon dan tersedu sedan. Ia memintakan maaf untuk suaminya. Ia juga memintakan agar mengihlaskan uang tersebut. Wah, wah, wah! Anda bisa bersabar menerima cobaan seperti itu?

Si kenalan saya itu berkisah: “Uang itu saya kumpulkan satu rupiah satu rupiah, dari keringat saya. Itu uang terbanyak yang pernah saya miliki!” Entah apa yang akan saya lakukan bila menimpa diri saya. Tetapi, teman itu tetap bersabar. Ia hanya bisa meyakini dua hal. Jika Alloh Azza Wa’jalla menghendaki mengambil milik kita, kapan pun dan cara apapun, kita tidak bisa menolak. Bahkan nyawa kita. Tak ada kemampuan sedikitpun untuk mengelak, apalagi menawar.

Satu hal lagi, ia berkeyakinan: “Kalau saya ihlas menerima cobaan, Insya Alloh, Alloh Azza wa’jalla akan memberi ganti yang lebih baik,” ujarnya.  “Saya,” kata dia lagi,” teringat satu hadis yang kira-kira maknanya begini: orang yang memberi kemudahan kepada seseorang yang ditimpa kesulitan, maka Alloh akan menggantikannya dengan membebaskan satu kesulitan di Padang Mashar nanti”.

Si teman ini juga tidak mau membayar polisi lagi, takut menjadi dosa. Padahal, jika mau, dia bisa. Karena polisi sudah berkali-kali ke rumah, juga menelepon, untuk menjemput si developer: sebagai upaya paksa untuk segera dibayar. “Saya takut dosa…” katanya.

Teman ini bercerita, developer ini tengah menghadapi kesulitan yang sangat berat. Semua modal usahanya tertahan di bank yang terkena likuidasi. Sementara aset-aset yang dimiliki terlanjur di-jaminkan di bank. Semua aset yang atas nama dirinya sudah habis. Dia sekarang hidup ngontrak, dengan istri yang menderita tumor.

Teman ini, tanpa sedikit kelihatan sedih, juga bercerita: istrinya sering kali jatuh sakit bila mengingat masalah ini. Istrinya juga menjadi sering panik.

Saya menangis. Tak sanggup membayangkan mala petaka semacam itu. Entah Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s