Satu Kenangan di Rawamangun


Terminal Rawamangun, Suatu Masa

Suatu hari, saya ketemu teman lama. Di terminal Rawamangun, teman SMA itu termangu. Matanya nanar. Wajahnya sembab. Ia menunggu bus. Aku sapa dia. Ia hanya tersenyum kecut.

Gimana kabarnya? Ia tak menjawab, tapi menangis. Dulu, ia teman pengajian di Rohis 36. Aku kenal karena pernah ikut LDK (latihan dasar kepemimpinan) bersama beberapa teman yang lain. DI Rohis, dia paling sering menjadi bendahara jika ada kegiatan keagamaan. Saya sering menjadi sekretaria atau ketua. Jadi, pertemanan cukup baik.

Saya tak tahu harus bagaimana ketika dia tiba-tiba menangis. Di depan umum pula. Dulu, ketika di SMA, ia beberapa kali berkerudung. Zaman itu, memakai jilbab tidak seperti sekarang, masih dilarang oleh Pak Menteri Pendidikan. Dari dulu ia memang terkenal manja. Ke beberapa teman cowok, dia biasa bercengkrama layaknya kakak adik. Saya tidak termasuk yang sering dia curhati.

Nah, sekarang dia di hadapan saya dengan mata sembab. “Aku habis,” katanya. Saya dekatkan diri saya ke arah dirinya. Bukan apa, apa-apa, saya nggak ingin dia setengah teriak, karena di terminal.

“Gue ditinggalin dia,” ujarnya. Cerita selanjutnya, ia dengan suara berat. Kata-katanya terputus-putus. “Gue udah sering nginep di rumahnya,” lanjutnya. Saya hanya menebak apa yang terjadi. “Apa penyebabnya?”

Lama dia nggak menjawab. Kaki kanannya dimain-mainkan. Tangan kiringanya yang mengampit tas, ia tarik untuk mengelap wajahnya. Ia menarik nafas. “Semua salah gue. Gue sering bohong.”Oh, kenapa mesti bohong? Dia ringan menjawab, satu kebohongan, selalu harus diikuti kebohongan lain. Kalimat semacam itulah yang dia sampaikan.

Saya tidak mau melanjutkan. Saya masih bujang, dia juga. Tapi, saya merasa akan ada buntut lain bila terus ngobrol. Saya putuskan untuk pergi, pas saat bus PPD 38 dari Rawamangun-Blok M (sekarang kayaknya sudah nggak ada) yang lewat Mayestik datang. Saya tukar-tukaran nomor telepon kantor (belum ada pager, apalagi HP).

Sebelum berpisah saya sok dewasa. Sedikit memberi nasehat: sabar dan pasti nanti ada jalan terbaik. Ia tersenyum. Dan, berjanji akan menelepon. Juga untuk ketemu lagi.

Setelah lebih dari 15 tahun kenangan itu datang lagi. Entah kenapa. Bukan karena saya ada memori spesial, tetapi kata-katanya itu yang ikut terkenang. Sekali berbohong, maka harus menutup dengan kebohongan selanjutnya. Ini yang berat.

Bagi saya, dia termasuk orang sabar. Jika tidak sabar, mungkin ia sudah bunuh diri, atau melacur karena merasa sudah tidak ada gunanya. Toh ia tetap mencoba berjalan lurus. Saya hanya berharap, sejak saat itu, ia bertobat, dan menjali hidup sebagai muslim yang, Insya Alloh, baik-baik saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s