Anak Cacat Sebagai Ujian


Ketika Anak Terlahir Catat

Alloh itu menguji hambanya dengan beragam cara. Salah satunya dengan memberi keturunan yang cacat fisik. Ini puncak kesabaran yang, usia ujiannya, berjalan seumur hidup si anak.

Dulu, ketika tinggal di daerah pinggir kali di daerah Pulogadung, sekitar tahun 87-88, saya memiliki tetangga yang memiliki ketabahan yang luar biasa. Saya lupa nama tetangga itu, tetapi saya bisa mendiskripsikan profilnya. Orangnya tinggi kurus, berwajah loncong, sorot matanya lembut. Rambutnya separo sudah beruban, dan dia orang Jawa Timur.

Usianya, ketika itu, sekitar 60 tahun. Tetapi istrinya jauh di bawah umurnya, beda sekitar 20 tahun. Ini istri yang kedua, karena yang pertama meninggal (jika tidak salah). Dari istri baru ini, ia memiliki tiga anak. Satu lelaki dan dua perempuan.

Qadarulloh, atas kehendak Alloh, anak keduanya dilahirkan dengan kondisi ideot. Tetapi, yang ini, sepengetahuan, sangat parah sekali. Ia hanya bisa mengucapkan kata-kata pendek. Bapa… ibu… makan… dan yang mudah. Ketika itu, usianya sudah lebih 12 tahun lebih. Meski seusia dia. Makan masih disuapin. Berjalan juga mesti didampingi. Ia tidak pernah dibiarkan bermain sendiri.

Inilah kesabaran si ayah. Setiap sore, si ayah selalu mengajak bermain anak kesayangannya. Ia diajak berjalan-jalan ke sekitar rumah. Setiap orang yang ditemui si anak, selalu ditegur dengan suara yang aneh. Nggak jelas makna dan omongannya. Lalu si ayah yang berusaha menerjemahkannya.

Terkadang si ayah juga sengaja menggendong anak perempuan itu. Si adik yang sudah duduk di bangku SMP, juga senang mengajak bermain kakaknya. Agak aneh, si adik yang justru mengasuh si kakak, layaknya mengasuh anak kecil.

Keluarga ini luar biasa. Mereka tidak pernah malu memperkenalkan anaknya. Siapa nama, dan apa yang dideritanya. Si ayah juga nggak malu bermain seperti anak-anak. Kakak dan adiknya juga saling mendukung saudara mereka yang cacat itu.

Dua kali seminggu, si anak diajak sekolah, yang sebenarnya lebih tepat disebut terapi untuk anak-anak yang terbelakang mentalnya. Sampai kami berpisah, karena rumah digusur, sampai sekarang saya tidak tahu kabarnya.

Saya hanya paham, betapa keluarga ini bisa menjadikan ujian, kecatatan mental anak, tetap sebagai berkah. Mereka tidak pernah mengeluh, apalagi menghardik si anak. Tidak pernah pula suara ribut karena mereka lelah mengurus si anak cacat.

Sungguh, saya sendiri sulit membayangkan akan mampu menjalani ujian seperti itu. Ketika anak saya lahir, telinga kirinya menempel atau lengket di kulit kepala. Seperti disambar petir. Saya hanya bisa melihat dari balik kaca, karena baru saja lahir dan boleh didampingi. Saya hampir menangis. Kakak saya yang menyaksikan ekpresi wajah saya, langsung menemui suster. Eh, alhamdulillah, ternyata telinga itu normal. Bukan lengket, tetapi sekedar menempel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s