Kaya, Sabar Pula …

Jika Anda sempat berjalan-jalan ke Kemang Pratama, Bekasi (yang sebagian sering kebanjiran itu), coba tanyakan tentang orang yang akan saya ceritakan ini. Kita sebut saja dia Mulya. Orangnya agak gemuk, pendek, logat bicaranya khas jawatimuran.

Dia Kera Ngalam. Meski kita ajak bicara dengan bahasa Indonesia, pasti jawabannya campur dengan Jawa. Aneh memang. Meski di Jakarta sudah lebih dari 14 tahun, dia masih belum mampu menghilangkan bahasa Jawa. Sudah memfosil, kata ahli bahasa.

Mulya ini, hidupnya benar-benar mulia. Dia terlahir dari keluarga yang lumayan berada, dan sekolah di Unibraw. Dia bekerja di sebuah perusahaan susu-kopi multinasional yang kantornya di pinggir tol Simatupang. Di kantor ini, dia sudah manager. Manager di perusahaan asing, jelas sedikit banyak menunjukkan kemampuannya.

Mulya memulai karir dari bawah. Dia sudah pindah-pindah ke berbagai kota. Mulai menanjak saat ditugaskan di Semarang, kemudian pindah ke kantor pusat. Kemampuan komunikasi yang baik, membuat dia dipercaya menjadi wakil managemen untuk musyarawah dengan perwakilan karyawan dalam Kesepakatan Kerja Bersama. Mulya ini pandai memuliakan orang, sesuai dengan namanya.

Beberapa kali, ia juga dipercaya untuk membangun pabrik dan kantor baru di beberapa kota. Terakhir kali di Lampung. “Enggak tahu kenapa saya sering dipercaya,” katanya.

Mulia ini, saya cukup kenal baik, hidupnya benar-benar mulai dari bawah. Dulu rumahnya, ngontrak, sekarang sudah dua lantai. Dengan dua anak perempuan, rumah sekarang cukup memadai untuk ditinggali. Bulan Juli nanti, dia akan menikahkan puteri tertuanya. “Saya juga akan minta tolong Ibu Pracoyo,” katanya.

Karena akan memiliki menantu, dia sekarang sedang membangun sebuah rumah yang lebih besar. Lebih megah lagi. Ia memilih rumah di jalan utama perumahan itu. Rencananya, rumah yang lama akan diberikan kepada anak pertamanya. Sedangkan anak kedua, mungkin akan tinggal bersamanya di rumah yang besar, megah, dan pasti mahal.

Meski dengan peningkatan strata ekonomi itu, Mulya sama sekali tidak berubah. Ia tetap bersahaja. Dia tetap rajin sholat di masjid, dan sesekali menjadi imam. Di lingkungan perumahan, dia malah dipercaya sebagai ketua dewan pembinan yayasan yang mengurus sekolah dan masjid. Ia menjadi semacam sesepuh bagi warga di daerah tempat tinggalnya.

Lima tahun lalu, dia pergi haji dengan membawa ayah-ibu, serta istri. Tahun berikutnya ia memberangkatkan kedua mertuanya. Yang agak mengagetkan, meski sudah berhaji dan umur mungkin sudah hampir 60 tahun, ternyata ia baru saja bisa membaca Al Qur’an.

Dia tidak malu, memulai belajar Iqro, setelah umurnya berkepala 5. Setiap pekan, sekarang ia masih belajar mengaji. “Biar lancar,” katanya. Dia juga tidak pernah malu untuk bertanya kepada ustad, tentang segala sesuatu, meski terkadang terdengar sepele.

Semula, ketika saya mulai kenal dengan dirinya, Mulya pasti hidup sangat nyaman. Tanpa ada problem kehidupan. Minimal, bisa saya simpulkan dari cara hidup dan wajahnya yang selalu murah senyum. Dia juga ringan tangan, membantu orang lain.

Tetapi, siapa sangka dia juga memiliki ujian kesabaran yang luar biasa. Istrinya, sudah lama menderita sakit di bagian perut. Saya tahu persis penyebabnya. Yang pasti, sudah lama istrinya ke sana kemari harus dengan stagen. Kain yang dililitkan di bagian perut itu, selalu ada. Jika tidak, maka usus dan isi perutnya akan terlihat!

Lho kok bisa? Ini dia rahasianya. Sejak kelahiran anak keduanya, istrinya harus dioperasi. Nah, rupanya, hasil jahitan operasi itu tidak sempuran. Sehingga, bekas jahitannya itu selalu menganga. Kabarnya, ada bau tak sedap juga bila dibuka. Istri saya pernah ditawari untuk melihat usus dan lain-lain di perut itu, tapi dia menolak. “Nggak tega. Ngeri ah,” kata istri saya.

Yang luar biasa, Mulya tidak pernah risih dengan kondisi istrinya itu. Saya, tidak bisa membayangkan ketika (maaf) sedang berhubugan badan, misalnya. Sang istri dengan kondisi seperti itu, juga tidakboleh lelah. Dan, sebenarnya,tidak boleh naik turun tangga.

Beberapa waktu yang lalu, luka di perut istrinya seperti mengoreng dan keluar cairan. Sudah beberapa kali dioperasi untuk menutup perut, agar kembali seperti semula. Tetapi selalu gagal. Karena itu, sang istri hampir tidak mau lagi. “Istri saya takut hasilnya seperti dulu,” kata Mulya.

AKhirnya, Mulya berhasil membujuk istrinya untuk operasi sekali lagi. Kali ini, dilakukan di RSCM, dengan dokter kulit dan dokter bedah yang kelas satu. Hasilnya? Sejauh ini, tidak ada kabar tentang hasil operasi yang gagal.

Saya, terus terang, iri dengan kesabaran Mulya. Dia bisa begitu tenang merawat istri seperti itu. Dia juga sangat sayang terhadap istrinya. Ke manapun pergi, di luar kerja, selalu diajak. Jika mereka berjalan berdua, tidak jarang bergandengan tangan, layaknya orang masih pacaran saja.

Satu lagi, dia itu mampu mengendalikan emosi yang luar biasa. Meski dia berdebat, tidak pernah meledak suaranya. Meninggi pun tidak. Setahu saya, selama kenal dengan dirinya, Mulya tidak pernah marah layaknya orang marah pada umumnya. Jika marah, dia sering mengucapkan kalimat ini, “Lho piye to?” Gima sih? Hanya itu.