Sebidang Tanah, Selembar Hati…


Ruang tunggu di kantor Mahkamah Agung, siang itu terasa sedikit panas. Seusai mengikuti sholat Jumat di tempat tersebut, saya berhenti sejenak di ruang tunggu tersebut. Di sini, biasanya, ada beberapa pengacara yang sedang mengurus perkara. Paling banyak, para pencari keadilan.

Saya amati seluruh ruangan. Seorang lelaki setengah baya, menarik perhatian saya. Saya berkenalan dengan Pak Surya Lubis, asal Asahan, Sumatera Utara. Orangnya kurus, rumbut kusut masai dan beruban. Peci yang dikenakannya melorot ke belakang, membuka pelipisnya yang agak lapang. Di pangkuannya, sebuah tas kulut kumal terpaku. Isinya, setumpuk berkas.

Sedang mengurus apa Pak? “Ini tanah saya. Sudah 5 tahun belum selesai juga,” jawabnya. Kalimat perkenalan itu, membuat saya makin penasaran. Saya, waktu itu adalah wartawan muda, yang masih sangat awam tentang dunia hukum. Saya diberi tugas untuk mengasuh rubrik Menggapai Keadilan di FORUM Keadilan, ya agak mirip Termehek-Mehek di Trans TV itu. Bedanya, ini yang disajikan bukan mencari cinta, tetapi para pencari keadilan.

Saya berusaha menggali informasi dari Pak Surya. Dia ambil sebatang rokok, dan menyalakannya. Asap mengepul dari mulutnya. Gigi-ginya kuning, dan beberapa di antaranya sudah tanggal. Ompong. “Saya sudah sebulan, tiap hari ke sini,” kata Pak Surya.

Setiap hari, Pak Surya mencari informasi tentang upaya kasasi yang tengah dilakukan. Jika tak salah ingat, pangkal soal adalah tanah milik Pak Surya ini diserobot tetangganya, yang seorang anggota ABRI (TNI). Yang diserobot cukup luas, sekitar 200 meter. Tanah itu tiba-tiba diklaim milik seorang anggota TNI itu. “Dia langsung membangun di atas tanah saya,” katanya.

Menurut Pak Surya, ia berusaha mengusir pendongkel hak miliknya. Apa yang ia dapat? Justru yang terancam terusir dari tanah tempat tinggalnya. Tanah yang dimiliki, sekitar 500 meter. Sebagian untuk rumah, dan sebagian dibiarkan begitu saja. Akibatnya, ilalang dan perdu banyak tumbuh liar di sana. Di bagian itulah lahan dicaplok. Ia pernah didatangi beberapa orang tentara, mengancam akan mengusir dari tanahnya jika terus berusaha mencari keadilan.

Dari Pengadilan Negeri hingga Pengadilan Tinggi, Pak Surya dikalahkan oleh majelis hakim. Hebatnya, semua ia urus sendiri. Ia tak didampingi pengacara. Dia menyusun pembelaan, dan mencari bukti, bahkan mendatangkan saksi, dilakukan sendiri. “Nggak punya uang untuk membayar pengacara Pak,” katanya.

Di Mahkamah Agung, Pak Surya sedang berharap-harap cemas. Memori kasasi sudah diajulan lebih dari tiga tahun, tetapi belum juga ada kejelasan nasibnya. “Saya akan terus berusaha. Itu tanah saya. Saya tak takut,” katanya dengan logat Batak yang kental.

Pak Surya hanyalah cermin. Di negara kita, orang-orang seperti Pak Surya itu jumlahnya ratusan. Mungkin malah ribuan. Jika tidak percaya, coba saja ke ruang tunggu di MA. Setiap hari yang datang silih berganti. Hampir semua mencari keadilan.

Saya benar-benar iba dengan Pak Surya. Tas kulit yang dibawa penuh dengan berkas, tampak sudah kumal. Baju pun begitu. Raut wajahnya meski terlihat garis-garis tua, dia tetap tampak optimis. “Kalau kalah juga, nanti akan menang di hadapan Alloh,” katanya.

Ya. Seberapa besar keadilan bisa ditegakan di negeri yang masih coreng moreng wajah penegakan keadilan ini? Pak Surya tahu itu. Ia tahu lawannya juah lebih kaya, jauh lebih kuat, jauh lebih segalanya. “Saya tak takut. Dia manusia, saya manusia,” katanya.

Pak Surya hanya berharap. Saya lebih melihat sosok Pak Surya ini orang yang tidak mau menyerah. Ia tahu akan kalah, tetapi tetap maju. “Tak apa Pak kalah. Saya di pihak yang benar. Alloh akan menolong saya,” katanya.

Pak Surya berkisah, hampir setiap bulan ia naik bus dari Sumatera Utara ke Jakarta, hanya untuk menanyakan perkembangan kasus. Dia tak punya saudara di Jakarta, hanya kenalan satu kampung. Di rumah tetangga itulah dia biasa menginap. Hanya yang kali ini, dia bertahan di Jakarta karena dia mendengar keputusannya segara keluar.

Saya menuliskan kisah Pak Surya itu dengan berat menahan amarah. Saya ikut emosi, ikut marah, ikut geram dengan kesewenang-wenangan yang harus diterima Pak Surya. Saya hanya bisa mengabadikan, tanpa pernah bisa menolong. Pak Surya telah bersabar, sedangkan saya malah emosi. Selembar hati milik Pak Surya, orang kecil dari kampung, rupanya lebih mulia. Bahkan dari orang yang memakai toga, yang konon akan memberi keadilan itu.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s